Agama Ajarkan Kasih, Bukan Provokasi

by Ilham January
Khairi Fuady

Beredar video dari sebuah akun youtube bernama “Bang Edy Channel”. Judulnya “Jadi Saksi Nikah, Abu Janda Memang Peliharaan Hendropriono”. Video tersebut berisi respon dan analisa terkait keakraban Prof. Hendropriyono dengan Permadi Arya atau Abu Janda, dengan menarik kesimpulan dari momentum pernikahan Abu Janda yang menghadirkan Prof. Hendropriyono sebagai saksi.

Sekitar 21 menit saya menyimak podcast tersebut, isinya penuh dengan propaganda, provokasi, dan agitasi yang bertujuan untuk mendiskreditkan dua orang tersebut. Sangat disayangkan, dalam situasi dimana kita tengah berikhtiar untuk menciptakan suasana kebangsaan yang sejuk, hadirnya podcast dengan subscriber 192 ribu ini justru melakukan provokasi dan adu domba. Padahal Agama Islam sendiri mengajarkan kepada kita untuk menjauhi perilaku yang bernuansa adu domba.

Di dalam Al Quran disebutkan, “Wahai orang-orang beriman, jauhilah menduga-duga atau berprasangka. Karena sesungguhnya di dalam sebagian prasangka itu terdapat dosa”.

Kemudian, judul video tersebut juga tak pantas. Menyebut Abu Janda sebagai “peliharaan” Hendrpriono. Peliharaan itu kata yang proper ditempelkan kepada hewan atau binatang, bukan untuk manusia. Agama hadir untuk memanusiakan manusia, tapi kok kita yang mengaku umat beragama, tak berucap dan bersikap untuk saling menghargai antar sesama manusia. Mentalitas semacam ini lah yang kerap merendahkan harkat dan martabat kita sendiri sebagai manusia.

Video tersebut juga berisi sejumlah asumsi tak berdasar, karena memang tujuannya sudah jelas yakni provokasi dan adu domba. Misalnya ia mengutip ucapan dari Natalius Pigai bahwa isu khilafah adalah skenario CSIS, LB Moerdani, Hendropriono, dan para anti Islam. Ini jelas “ngawur” dan asal kutip. Sementara semua orang tau bahwa isu khilafah itu fenomena dunia. Fenomena yang membuat sejumlah negara di jazirah Arabia luluh lantak.

Semua tokoh dunia sepakat bahwa khilafah dan upaya untuk kembali menjadikan agama sebagai ideologi dan hukum formal, adalah ancaman bagi negara. Tak terkecuali juga tokoh-tokoh Islam seperti para Guru Besar di Al Azhar Cairo, hingga figur Ulama Kharismatik kita sendiri dari NU dan Muhammadiyah. Fakta bahwa Khilafahisme melahirkan ekstrimisme dan terorisme adalah sesuatu yang nyata terjadi di banyak tempat di dunia.

Alhasil, kita sangat menyayangkan kenapa kerja-kerja provokasi semacam ini masih saja terjadi. Padahal sisa pertarungan politik sudah selesai dan semua kubu sudah berdamai. Memang, dalam sebuah pepatah Arab, ada ungkapan yang sangat relevan. Bunyinya:

“Wa Ainur ridhaa ‘an kulli ‘aybin kaliilah, kamaa anna ‘aynas sukhti tubdi al masaaawiyaa”

Pandangan cinta, menutup segala keburukan. Sedangkan pandangan benci, menutup segala kebaikan.

Stop provokasi. Lapangkan hati, kikis kebencian.

Tulisan ini merupakan buah pikiran Khairi Fuady

You may also like