Hai Mantan, Ini 7 Alasan Statusmu Berubah Jadi Mantan. Nggak Lagi Deh Kita Balikan!

by Ilham January
7 Alasan Statusmu Berubah Jadi Mantan

 

Bukannya benci, tapi aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Kalau kamu masih saja bertanya-tanya kenapa kita udah nggak mungkin bisa bersama lagi, ini dia 7 alasan statusmu berubah jadi mantan.

Hai mantan.

Semoga kabarmu baik-baik saja. Jujur saja aku enggan memakai kata ‘dear’ di awal tulisan ini. Bukannya benci, tapi aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu. Kalau kamu masih saja bertanya-tanya kenapa kita sudah tidak mungkin bisa bersama lagi, ini dia 7 alasan statusmu berubah jadi mantan.

1. Kita terlalu berbeda

Mungkin ini terdengar terlalu klise bagimu, tapi masih penting bagiku. Kesalahanku dulu adalah memberimu kesempatan, menerimamu masuk ke dalam hidupku, dan mengharap kamu mau berubah demi aku.

Bagimu, agama tidak penting. Tapi, aku masih percaya Tuhan. Selain itu, aku juga sayang keluarga dan teman-teman. Kamu tidak peduli. Aku tahu kamu masih marah pada mamamu hingga nggak sudi pulang lagi. Tapi, aku tidak bisa melakukan hal yang sama ke keluargaku sendiri.

2. Kamu perokok berat

Iya, kuakui dulu aku juga pernah merokok sebelum laringitis membuatku kapok. Aku juga tumbuh di keluarga dengan mayoritas laki-laki perokok. Oleh sebab itu aku berusaha mencari pasangan yang bukan perokok. Namun, justru kamulah yang hadir di kehidupanku.

Kalau tiap nge-date kamu muncul dengan kemeja lusuh dan celana pendek serta rambut gondrong tidak tersisir, aku masih bisa terima. Tapi kalau mataku selalu pedih kena asap tiap kali kita ngobrol dan rambutku jadi bau tembakau, sepertinya kita memang lebih baik berpisah. Kalau kamu sudah nggak sayang ama kesehatanmu sendiri, bagaimana aku bisa yakin kamu sayang sama aku?

3. Kamu tidak menghargai teman-temanku

Jujur, aku suka dapat keluhan dari mereka. Setiap kali kita berkumpul bareng mereka, kamu hanya mau ngobrol denganku. Teman-temanku merasa tidak dianggap. Nah, kalau sama mereka saja kamu sudah begitu, bagaimana nanti saat kukenalkan kepada keluargaku?

4. Kamu datang dan pergi sesuka hati

Memang sih, pekerjaanmu membuatmu harus sering-sering pergi ke luar kota dan ke luar negeri. Tapi, apa kamu tak bisa memberi kabar kepadaku? Jangan datang dan pergi sesuka hati. Kesannya aku seperti tempat persinggahan sementara. Aku berhak diperlakukan lebih baik dari itu.

5. Kamu mengajakku berbuat ‘di luar batas’ dan pastinya kutolak

Kita kan belum menikah. Lagipula, mengingat pekerjaanmu yang harus sering-sering pergi, apa jaminannya aku tidak akan ditinggal begitu saja? Selain dosa, aku yang pastinya lebih banyak menanggung ruginya, sementara kamu bebas melenggang ke mana-mana. Menyebalkan.

6. Kamu kesal saat aku menolak ajakan traveling berdua denganmu

Waktu itu kita belum kenal lama. Banyak teman-teman laki-laki yang keberatan sekali. Menurut pandangan mereka, kamu pasti mencoba menjerumuskanku‘. Untung aku punya teman-teman seperti mereka dan memilih mendengarkan mereka daripada kamu.

7. Dengan entengnya, kamu bilang aku bukan satu-satunya. Katamu aku boleh punya cadangan juga.

Astaga, hubungan macam apa yang kamu inginkan? Rasanya aku ingin marah saat kamu dengan jujur bilang bahwa di setiap kota dan negara yang pernah kamu kunjungi selalu ada pacar lain menanti. Bahkan, dengan entengnya kamu juga bilang aku boleh punya cadangan juga, sebanyak yang kumau. Kamu kira aku perempuan macam apa?

Untunglah, akhirnya aku bisa tegas dan segera lepas darimu. Aku tak perlu lagi menjalani hubungan serba aneh ini bersamamu. Semoga kamu semakin mengerti mengapa aku melepasmu. Aku paham kalau aku berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dari kamu.

You may also like