HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 30/07/10, 18:50
BOM TABUNG GAS
JK: Jangan Salahkan Konversinya
Jumat, 30/07/10, 18:26
Demokrat: Ibas Bolos karena Tugas Partai
Jumat, 30/07/10, 18:22
REKENING GENDUT POLRI
Polri Tantang Denny Indrayana
Jumat, 30/07/10, 18:14
Tak Diakomodir Badrul Kamal, Arus Bawah Demokrat Hengkang ke Kubu Yuyun
Jumat, 30/07/10, 18:13
Ada Alasan Tepat Meminta SBY Insaf Sebelum Terlambat
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Jusuf Kalla, Ogah Terjun Ke Politik Pemilu 2014 Lebih Penting Mengurusi Sosial
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Festival Indonesia 2010 Digelar Di Kota Plzen, Ceko
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

WAWANCARA

Minggu, 14 Maret 2010, 01:58:10 WIB

Susno Duadji, Bukan Teroris Saja Yang Bisa Jihad, Polisi Juga Bisa

Susno Duadji kembali membuat kejutan. Kali ini, dia membeberkan dugaan rekayasa kasus pengemplangan pajak yang ditangani Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.

Menurut jenderal bintang tiga itu, barang bukti uang Rp 25 mi­liar menyusut menjadi Rp 400 mi­liar. Ia menduga ada keter­li­batan makelar kasus (markus) se­hingga barang bukti bisa menyusut.

Susno mengatakan bahwa ada oknum di Polri yang terlibat jaringan markus ini. “Saya hanya bisa ungkap markus di bawah Ka­bareskrim. Di atas Ka­ba­res­krim tidak bisa saya ungkap,” kata be­kas wakil ketua Pusat Pelapor­an dan Analisis Transaksi Ke­uang­an (PPATK) itu.

Sejak dicopot dari posisi Ka­ba­res­krim, Susno kerap me­la­kukan aksi kontroversial. Ia hadir di persidangan kasus pembunuh­an dirut PT Putra Rajawali Ban­jaran Nasruddin Zulkarnain. Susno menjadi saksi meringan­kan terdakwa Antasari Azhar, be­kas ketua KPK.

Sebuah ironi, lantaran Polri-lah yang menjerat Antasari sebagai tersangka kasus tersebut. Ke­ha­diran Susno dipersoalkan karena dia tak melapor lebih dulu ke atasan­nya (baca: Kapolri). Tapi, Sus­no membantahnya.

Kenapa Susno membongkar aib institusinya? Apa moti­va­si­nya? Apa dia tak takut dianggap pengkhianat oleh institusinya? Apa Susno melakukan hal ini ka­re­na mengincar posisi ketua KPK? Berikut wawancara Rakyat Merdeka dengan Susno Duadji.

Setelah tak lagi menjabat lagi sebagai Kabareskrim Polri, Anda beberapa kali me­nyam­pai­kan hal-hal yang mengejutkan. Salah satunya adalah meng­ung­kap kebobrokan intitusi Polri. Kenapa?
Sejak saya menjadi perwira per­­tama polisi, saya mengi­ngin­kan agar polisi bisa menjadi pe­ngayom dan pelindung bagi mas­yarakat, bukan yang mena­kut-nakuti atau malah membuat masalah baru di republik ini. Saya selalu berusaha agar segala ma­salah yang selama ini diketahui telah membuat citra Polri rusak, ha­rus segera dibenahi dan dise­le­sai­kan. Kebetulan sekarang sa­ya sudah tidak lagi menjabat se­ba­gai perwira polisi yang aktif, na­mun tetap saya adalah anggota polisi.

Perjuangan saya untuk mela­ku­kan perbaikan tidak akan pernah berhenti untuk menjadikan Polri sebagai institusi yang sehat dan bersih. Karena itulah, ketika saya tahu memang institusi berma­sa­lah, maka saya akan sampaikan, dengan harapan masyarakat tahu dan para petinggi Polri menin­dak­lanjuti informasi yang ada de­ngan melakukan penyelidikan dan proses hukum yang berlaku.

Anda bisa saja dicap sebagai pengkhianat karena membuka borok-borok itu ke publik...
Saya tidak mau menjadi peng­khianat, apalagi kepada institusi yang sangat saya cintai dan saya banggakan ini. Kalau ada ke­bo­brokan dan saya tahu tentang itu, tapi saya tidak sampaikan, saya akan merasa diri saya sebagai penghianat.

Jadi, sebenarnya apa yang saya lakukan ini dengan mengatakan bahwa ada sejumlah oknum po­lisi yang terlibat dalam jaringan mar­kus dengan bekerja sama me­l­akukan pengemplangan pajak, itu bukanlah bentuk peng­khianat­an. Melainkan saya memberikan informasi yang berharga untuk membuat institusi ini menjadi bersih dan sehat.

Kapolri selalu menegaskan jangan pernah ada pengkhianat dalam insitusi Polri. Apakah Anda merasa tersindir oleh pernyataan tersebut?
Saya justru mendukung apa yang disampaikan oleh KaPolri bahwa jangan ada pengkhianat dalam institusi kami. Dan apa yang KaPolri sampaikan itu me­rupakan sikap bahwa dirinya sangat ingin institusi yang di­pim­pinnya benar-benar jauh dari pihak-pihak atau oknum-oknum yang selama ini membuat jelek institusi Polri. Saya pun sangat mendukung dan menghormati serta akan menjalankan perintah dari KaPolri itu, bahwa kita se­mua harus menjaga institusi ini bersih dari segala tuduhan yang tidak baik, serta memangkas ­­ha­bis markus-markus yang se­lama ini berkeliaran.

Seperti yang saya katakan se­belumnya, menyampaikan ada­nya kebobrokan dalam institusi Polri bukanlah bentuk dari peng­khianat­an. Melakukan peng­khia­nat­an terhadap institusi apa­bila dia melakukan korupsi, mere­kayasa kasus, menutup-tutupi kesalahan anak buahnya tapi meng­orbankan anak buah yang tidak bersalah, serta berteman de­ngan markus.

Jadi, berkhianat itu jangan di­arti­kan dengan membongkar aib or­ganisasi. Karena bukan itu mak­sud yang disampaikan oleh Ka­Polri. Kalau aib atau kebo­brok­an itu terus ditutup-tutupi, kapan negara ini mau maju?

Kenapa baru sekarang Anda mengungkapnya? Kenapa bu­kan saat masih menjabat Ka­bareskrim?
Sewaktu saya masih di dalam, saya sudah melakukan ini se­mua.Hal ini dibuktikan dengan ba­nyaknya perwira yang dit­ang­kap dan dipenjara. Saat saya di dalam, semua masalah itu sudah sa­ya awasi dengan ketat, sehing­ga masalah yang ada tidak bisa di­main-mainkan. Dan kenapa setelah di luar saya masih teriak-te­riak? Karena dua minggu se­be­lum keluar, saya sudah me­wan­ti-wanti anak buah saya agar kasus ini tetap ditindaklanjuti, karena ini menyangkut masalah besar, yakni pengemplangan pajak yang telah merugikan negara sebesar yang mencapai Rp 25 miliar. Bah­kan kalau mau jujur, seha­rus­nya pemasukan yang diperoleh bangsa kita dari pajak sangat besar. Biasa mencapai Rp 1.000 triliun. Sayangnya, dalam proses perkembangannya ada pihak-pi­hak yang nakal yang mela­kukan pengemplangan terhadap pajak tersebut.

Sebenarnya apa sih yang Anda maksud dengan markus di institusi Polri dalam kasus pengemplangan pajak?
Ada kasus dugaan korupsi per­pajakan yang sempat diatur anak buah saya dan nilainya cu­kup tinggi, yakni Rp 25 miliar.

Ternyata kasus ini sudah diatur. Jumlah uang yang menjadi ba­rang bukti dikurangi. Saya mau diungkap korupsinya, karena itu ko­rupsi bidang perpajakan. Kenapa saya bilang begitu, ka­rena saya dengar kasus itu su­dah diatur. Saya marah besar kenapa barang buktinya jadi Rp 400 juta.

Pada akhir 2009 saya sudah men­­dengar adanya kabar “per­main­­an” di kasus ini. Setelah di­kla­­­rifikasi pada penyidiknya, ja­waban yang saya peroleh ber­belit-belit.

Namun, saya tidak bisa men­je­laskan lebih jauh siapa saja yang terlibat dan apa perusahaan pajak yang dimaksud. Namun, saya pastikan bahwa ada anak buah saya di kalangan penyidik yang terlibat dan seorang petugas pajak berpangkat rendah.

Ada juga pegawai pajak pang­kat rendah duitnya Rp 25 miliar. Dan yang lebih parah lagi, du­ga­an korupsi pajak senilai Rp 25 miliar itu ternyata dicampuri juga oleh makelar kasus.

Apakah ada pejabat tingkat atas yang ikut bermain dalam kasus ini?
Saya yakin ada indikasi kuat para pejabat di tingkat atasan pe­nyidik itu turut bermain dalam ka­sus itu. Rasanya tidak mungkin ka­lau yang di atasnya nggak tahu. Indikasi kuat ke atas juga rasanya ada. Sekarang bayangkan saja, ka­lau yang ecek-eceknya saja 25 mi­liar, bagaimana yang di atasnya.

Kasus pajak itu pernah saya ta­ngani saat menjabat Kaba­res­krim. Bahkan, sesaat sebelum di­co­pot dari jabatan, saya sempat menasihati para anak buah agar meneruskan penyidikan terse­but. Memeriksa unsur korupsi­nya, dan jangan dimainkan oleh markus.

Namun, setelah dua bulan saya turun dari jabatan Kabareskrim, saya melihat kasus itu “menciut” dan bahkan nyaris hilang. Pa­dahal, pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya mengungkap kasus pajak. Harusnya kena dua kasus: korupsi pajak dan money laundering. Nyatanya, money laun­dringnya tidak diproses, pa­jaknya tidak diproses. Ini berarti ada markus yang main.

Mabes Polri mengatakan bah­wa kasus yang Anda maksud sudah P21 (lengkap) dan se­ka­rang sedang dimonitoring...
(Kasus yang) P21 itu adalah ka­sus yang pernah saya selidiki, yakni pengemplangan pajak yang bernilai Rp. 400 juta, bukan yang Rp 25 miliar. Saat saya akan ke­luar Bareskrim, saya wanti-wanti untuk tetap ditindaklanjuti.

Terus terang saya kecewa de­ngan pernyataan Mabes Polri bah­­wa tidak ada markus di ka­la­ngan institusi Polri. Terhadap in­­for­masi ini, seharusnya Mabes Pol­ri me­ngatakan terimakasih atas in­for­masinya, dan kami ber­janji akan menyelidikinya. Bukan me­nga­takan bahwa yang saya sampaikan itu sudah masuk pada P21.

Kenapa Anda tidak melapor­kan masalah ini pada Satgas Pemberantasan Mafia Hukum?
Harusnya dengan adanya in­for­masi yang telah berkembang saat ini di beberapa media, baik ins­titusi Polri maupun Satgas Mafia Pemberantasan Hukum sudah bisa menindaklanjutinya. Jangan lagi menunggu harus ada laporan yang masuk, baru melakukan tindakan.

Menurut saya, seharusnya ka­sus ini diserahkan ke KPK, jadi tin­dak suap dan korupsi bisa se­lesai, praktik markus di ke­polisian bisa terungkap. Hal-hal semacam ini yang membuat In­do­nesia tidak makmur-makmur. Saya tidak punya kewenangan untuk menyidik kasus ini, jadi saya harap yang punya kewe­nang­an mau membersihkan.

Bagi saya, memberantas mem­berantas makelar kasus, tidak per­lu repot-repot memasang kamera CCTV di setiap sudut seperti yang dilakukan Satgas di rutan Pon­dok Bambu. Namun cukup dengan menelepon saja. Karena kalau markus ini memang ada di kepolisian dan kalau mau datang dia telepon. Jadi Satgas datang saja ke Mabes Polri, nanti juga akan tahu siapa markus yang dimaksud.

Ada yang menilai bahwa apa yang Anda lakukan saat ini, memberikan informasi seputar kasus korupsi karena ada mo­tivasi tertentu. Benarkah?
Motivasi saya hanya satu, yakni menginginkan agar intitusi Polri itu baik dan bersih. Saya tidak pernah mengharapkan apa-apa atas apa yang saya lakukan ini. Apalagi seperti kabar yang berkembang saat ini bahwa saya menginginkan jabatan kapolri. Saya tegaskan, saya tahu diri dan me­rasa tidak pantas untuk me­ne­rima posisi jabatan tersebut.

Susno sejak pangkat kolonel tidak pernah berubah hingga sam­pai menjabat Kabareskrim dan akhirnya sudah tidak menjabat lagi. Karena saya tidak pernah si­lau akan harta, tapi hanya silau oleh sinar surga yang dijanjikan Tuhan kepada hamba-Nya yang selalu menegakkan kebenaran dan berjuang di jalan-Nya.

Jadi, bukan hanya teroris saja yang bisa berjihad, polisi pun juga bisa berjihad dengan cara melaksanakan tugas dengan baik. Dimana kalau ada masalah selalu berjuang di jalan kebenaran, bukan atas kepentingan atau in­timidasi dari atas.

Sejumlah kalangan menilai Anda pantas menjadi ketua KPK. Apakah Anda mengincar posisi itu?
Ketua KPK itu adalah jabatan politik yang juga dipilih secara politik berdasarkan rekomendasi dari DPR. Menurut saya, masih banyak tokoh-tokoh lain yang lebih hebat dan jauh lebih paham masalah hukum ketimbang saya. Men­ja­di Kabareskrim saja di­ber­­­hen­ti­kan, masa dipilih men­jadi Ke­tua KPK. Rasanya berlebihan sekali.


Jusuf Kalla, Ogah Terjun Ke Politik Pemilu 2014 Lebih Penting Mengurusi Sosial
Bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla nggak ‘ngiler’ lagi terhadap kekuasaan. Makanya tidak berniat terjun ke politik Pemilu 2014.

Bagi bekas Ketua ...
 
Pramono Anung, KPK Tidak Boleh Diintervensi Hentikan Kasus Bank Century
Tim Pengawas DPR sedang bekerja memonitor proses hukum kasus Bank Century di tiga ins­titusi hukum, yakni Polri, Kejak­saan Agung dan ...
 
Mulyadi Jayabaya, Melepas Belenggu Ketertinggalan
Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang selama ini mengalir ke daerah ternyata belum berhasil menghilangkan gap ...
 
Roesmini, Setelah Hakim Memvonis Bebas Saya Sudah Bisa Tidur Nyenyak
Janda pahlawan, Roesmini (78), sudah bisa tidur nyenyak setelah hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Selasa (27/7) memvonis bebas dari ...
 
Bachtiar Chamsyah, Sedikit Pun Tidak Merasa Terpojok Meski Disodok Berbagai Penjuru
Bachtiar Chamsyah merasa nggak terpojok meski ada ‘sodokan’ dari berbagai penjuru setelah tidak menjabat Menteri Sosial (Mensos).

Pertama, secara hukum di­tetapkan ...
 
Haryono Umar, Sangat Siap Gaji Dipotong Tapi Tak Siap Kalau Dipecat
Tudingan demi tudingan terus ditimpakan kepada pim­pinan Ko­misi Pemberantasan Korupsi (KPK) gara-gara belum tuntas menangani kasus Bank Century.

Bahkan ada usulan, ...
 
Mahfud MD, Kalau Saya Tak Banyak Bicara MK Nggak Terkenal, Ha-ha-ha ...
Mahkamah Konstitusi (MK) dinilai berada di titik nadir gara-gara putusannya sering dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

Selain itu, lembaga yang di­komandoi ...
 
1 2 3 4 5 6 ...»


Sekjen Kemenkumham Diperiksa Pekan Depan
Digaji Puluhan Juta, DPR Masih Suka Bolos Sidang