HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 12/03/10, 08:40
GEGER PAMULANG
Azra: Teroris Bukan Hanya Urusan Polisi
Jumat, 12/03/10, 07:53
DPR Tak Punya Hak Boikot Sri Mulyani
Jumat, 12/03/10, 03:49
PIALA DUNIA 2010
Macan Asia Tolak Bala
Jumat, 12/03/10, 03:14
PIALA DUNIA 2010
Indahnya Stadion Mandela Bay Di Tepi Danau North End
Jumat, 12/03/10, 02:07
Kantornya Jokir Kesandung Kasus Proyek Perkotaan
Setelah Pansus Centurygate menyelesaikan tugasnya, siapa yang harus angkat kaki?
Presiden SBY
Wapres Boediono
Menkeu Sri Mulyani
Pihak lain
Tidak tahu
  Polling Yang Lalu
  Chairuman Harahap, Merasa Tidak Bersalah, Padahal Lakukan Kesalahan
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Sambut Perbankan Syariah di Rusia, BMI Mulai Berikan Pelatihan
  Dukung Anti Korupsi, Rakyat Merdeka Online Hitamkan Diri
WAWANCARA

Selasa, 09 Februari 2010, 08:04:49 WIB

Ramadhan Pohan, Bila Diwarnai Kekerasan, Demokrasi Jadi Democrazy

Penulis buku Membongkar Gurita Cikeas, George Junus Aditjontro resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian dalam kasus pemukulan terhadap anggota DPR Ramadhan Pohan.

George dikenai Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan dan 352 KUHP tentang penganiayaan ringan yang ancaman hukumannya tak sampai lima tahun.

Untuk diketahui, insiden pemukulan itu terjadi saat bedah buku itu di Doekoen Coffee, Ja­karta Selatan, pada 30 Desember 2009. George dan Ramadhan ber­sitegang.

Tiba-tiba, George meng­han­tamkan buku yang dipegangnya ke wajah Ramadhan. Politisi Par­tai Demokrat itu tidak terima de­ngan tindakan George dan me­laporkan insiden tersebut ke Polda Metro Jaya.

Ramadhan bersedia membe­ri­kan maaf jika ada permintaan dari George. Apakah Ramadhan akan mencabut laporannya ke polisi jika George meminta maaf? Beri­kut wawancara Rakyat Merdeka dengan Ramadhan Pohan.

Polisi telah menetapkan Geor­ge sebagai tersangka. Baga­ima­na reaksi Anda?
Kasus ini sudah satu bulan le­bih karena peristiwa pemukulan ter­hadap saya terjadi bersamaan dengan wafatnya mantan pre­siden Abdurahman Wahid. Saya memang berharap hukum mem­be­rikan jawaban atas kasus itu, apakah orang yang melakukan pe­mukulan kepada orang lain di­tindak atau tidak.

Saya berharap siapapun pelaku kekerasan agar diproses secara hukum. Jangan sampai ada yang kebal hukum di negeri ini, baik pe­jabat ataupun orang biasa. Di ne­geri demokrasi ada aturan main­nya, tidak bisa semaunya saja. Kalau kasus pemukulan se­perti yang saya alami dibiarkan, nanti bisa menjadi preseden buruk.

Saya paham perbedaan penda­pat merupakan cerminan dari ne­ga­ra demokrasi. Tapi bila diwar­nai kekerasan, itu bukan de­mok­rasi lagi tetapi sudah jadi de­mo­c­razy.

Anda telah melaporkan kasus ini cukup lama. Mengapa baru ditindaklanjuti sekarang?
Saya melihat polisi menin­dak­lanjuti laporan saya dengan pro­fesional. Sepengetahuan saya, po­lisi telah melakukannya sesuai de­ngan prosedur yang berlaku. Sa­ya sudah diperiksa dua kali de­ngan dimintai menjawab 22 per­tanyaan mengenai kasus itu. Se­lain itu, polisi juga telah me­meriksa 10 saksi.

Saya tidak mengetahui apakah kasus itu termasuk cepat atau lam­bat diproses polisi. Tetapi pada prinsipnya saya berharap ka­sus ini cepat tuntas. Kalau me­mang kasus itu dianggap banyak kalangan lambat diproses, saya mendapat informasi itu terjadi karena kalau polisi sulit menemui George.

George tidak memenuhi pang­gilan kepolisian. Tanggapan Anda?
Saya kira George tidak bisa lari dari hukum karena saya sendiri sudah dua kali diperiksa polisi.

Seperti yang saya jelaskan hu­kum harus ditegakkan agar tidak menjadi preseden buruk untuk demokrasi kita.

Saya berharap George jangan me­nunda-nunda lagi peme­­rik­saan dan saya kira kuasa hu­kum­nya memberikan penjelasan ke­pada George agar menjadi warga negara yang baik yakni dengan me­menuhi panggilan itu.

Ada yang menilai saya ber­le­bihan melaporkan kejadian itu, karena untuk membuktikan apa­kah yang saya lakukan ber­lebihan atau tidak, biarkan pengadilan yang membuktikan. Ikuti saja pro­ses hukum yang terjadi.

Setiap orang bisa khilaf. Ka­rena itu kita semua harus ber­hati-hati di dalam bersikap, jan­gan mengedepankan emosi. Saya sendiri di dalam berpolitik ber­usaha semaksimal mungkin un­tuk mengedepankan akal sehat dan etika. Mudah-mudahan, ka­lau kita mengedepankan etika bersikap yang santun, bisa mem­bawa kita menjadi pribadi yang baik. Jangan sampai, saya mela­kukan hal-hal yang tidak terpuji seperti menghina orang.

Dalam sebuah diskusi kericuh­an kecil merupakan hal yang bia­sa. Kenapa Anda tidak memberi maaf kepada George?
George tidak pernah meminta maaf kepada saya sehingga ter­kesan lucu kalau saya me­maaf­kan dia. Banyak teman-teman sa­ya bertanya kepada saya, kena­pa perbuatan George tidak di­maaf­kan saja.

Saya heran, George yang me­lakukan pemukulan ke­pa­da saya, kenapa saya yang ha­rus sibuk untuk memaafkan dia. Ka­lau saja dia meminta maaf ke­pada saya, saya pasti akan maaf­kan. Dan, saya akan ber­pe­san ke­padanya agar bisa me­nahan diri dari tindakan tidak terpuji itu.

Saya kira perisitiwa yang saya ala­mi ini bisa memberikan pela­jar­an kepada siapa saja agar meng­­gunakan tangannya untuk berbuat baik.

Apakah George tidak pernah me­nemui Anda untuk membi­ca­rakan masalah itu agar tidak se­makin panjang?
Sejak peristiwa pemukulan itu, saya dan George tidak pernah ber­­­­temu. George tidak menemui sa­ya untuk minta maaf. Se­balik­nya yang saya dengar, Geor­ge berkelit di sana-sini mengaku ti­dak melakukan pemukulan.

Kalau George minta maaf, apa­­kah Anda akan mencabut la­por­an Anda?
Saya akan memberi maaf ke­pada George, tetapi untuk saya ti­dak bisa mencabut laporan ka­sus pemukulan. Karena sepe­nge­ta­huan saya, laporan tindak kri­mi­nal tidak bisa dicabut. Jadi, kasus itu sepenuhnya kewe­nang­an ke­polisian. Saya tidak bisa me­lakukan intervensi.

Saat diskusi di Doekoen Cafe, banyak saksi mata yang menya­takan pemukulan yang dilakukan George tidak mengenai Anda. Be­narkah?
Saya kira polisi sudah mela­ku­kan pemeriksaan dan pem­ber­kasan berdasarkan keterangan saksi dan bukti-bukti. Pemukulan yang dilakukan George itu te­re­kam jelas dan disiarkan berbagai stasiun televisi. Selain itu hasil vi­sum juga sudah bisa menjelaskan benar terjadi pemukulan.

Benarkah Anda datang ke dis­kusi buku Gurita Cikeas untuk mem­provokasi dan memancing emosi George?
Itu tidak benar. Kalau saya me­mang datang untuk melakukan upaya provokasi, tindakan saya itu mengerikan sekali. Karena saya harus mengorbankan retina mata saya dipukul.

Saya menilai tindakan George itu sebagai tindakan emosional karena di tengah-tengah para to­koh yang hadir seperti Adhie Mas­sardi, Permadi, Bambang Soe­satyo, dan Boni Hargens, se­muanya memuji-muji buku kar­ya­nya. Tetapi ada seseorang yaitu saya yang memepertanyakan ke­benaran isi buku itu.

Saya menilai pemukulan yang dilakukan George itu sebagai tin­dakan tidak jantan karena men­curi-curi pemukulan. Kalau saya dianggap memprovokasi George, kenapa dia tidak memukul saya saat saya sedang menyampaikan orasi di acara diskusi itu yang isi orasi saya mempertanyakan ke­be­naran buku itu.

Ada kabar Anda sebenarnya me­miliki hubungan persahabatan dengan George, Anda tidak me­nyesal kasus ini mem­buat hu­bungan Anda jadi buruk?
Saya tidak memiliki hubungan persahabatan dengan George, biasa-biasa saja. Saya akui saya kenal tetapi tidak dekat.


Chairuman Harahap, Merasa Tidak Bersalah, Padahal Lakukan Kesalahan
Internal Badan Kehormatan (BK) DPR sedang panas. Sembilan anggota BK melayangkan surat mosi tidak percaya terhadap Ketua BK Gayus Lumbuun ...
 
Hasrul Azwar, Minta Maaf, Siapa Tahu DPP Kurang Berkenan
Fraksi PPP meminta maaf kepada DPP karena memilih opsi C dalam rapat paripurna DPR mengenai kasus Bank Century. Permintaan maaf ...
 
Syarief Hasan, Jabatan Harus Diprioritaskan Daripada Urusan Politik
Belakangan, Menteri Koperasi dan UKM Syarief Hasan kerap mondar-mandir di DPR. Ia menemui sejumlah tokoh penting di parlemen. Di antaranya, ...
 
BJ Habibie, Mengirim TKI Hanya Jalan Keluar Sementara
Bekas presiden BJ Habibie ru­panya menaruh perhatian ter­hadap persoalan-persoalan yang dihadapi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Ia muncul ...
 
Anas Urbaningrum, Yang Dorong Hak Nyatakan Pendapat Mengincar Posisi Wapres
Indonesian Corruption Watch (ICW) mencurigai kasus Bank Century akan berhenti di tengah jalan karena dibarter dengan kasus lain. Setidaknya ada ...
 
Abdul Kadir Karding, Banyak Pesertanya Tapi Tidak Solid
Reshuffle kabinet meru­pakan keniscayaan. Saat melantik para wakil menteri beberapa waktu lalu, SBY menyatakan akan mengevaluasi kinerja ter­masuk kontrak politik ...
 
Ahmad Nasir Siregar, TPF Temukan Ada Penyusup Yang Melakukan Provokasi
Apa hasil TPF PB HMI menge­nai kasus bentrokan polisi de­ngan HMI Makassar?
TPF baru dua hari berkerja se­hingga hasilnya belum bisa ...
 
1 2 3 4 5 6 ...»


Carrefour Bukan Pesaing Pasar Tradisional
Bazar Rakyat Carrefour, Sinergi Pemerintah dan Swasta
Untuk Kembangkan UKM, Carrefour Membuat Bazar Rakyat
Kantornya Jokir Kesandung Kasus Proyek Perkotaan
Raja Melayu Mana yang Kini Sebanding dengan Raja Eropah

Setneg Harus Jadi Contoh Lakukan Reformasi Birokrasi