|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 31/07/10, 21:31 AKSI PONG Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:46 Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:35 Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:24 BOM TABUNG GAS Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:23 AKSI PONG Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan |
|
 |
|
|
|
|
WAWANCARA
Jumat, 22 Januari 2010, 00:19:32 WIB
Abdul Kadir Karding, Bukan Rekonsiliasi Tapi Rekrut Kader Benarkah PKB akan melakukan rekonsiliasi atau islah dengan kubu PKB versi Muktamar Parung?
Menurut saya, apa yang sedang kami lakukan ini bukanlah islah atau rekonsiliasi, namun hanya sekadar perekrutan kader saja. Kami ingin membangun kembali komunikasi kepada teman-teman yang dulu di PKB dan sekarang sudah tidak lagi di PKB, baik yang bersikap netral maupun menyatakan diri pindah ke partai lain untuk kembali bersama-sama membesarkan PKB.
Sebab, kalau usaha yang sedang kita lakukan ini disebut sebagai rekonsiliasi, saya khawatir ini hanya akan menjadi isu politik saja dan tidak dilaksanakan. Kami menginginkan praktiknya. Di Jawa Timur, tim sudah mulai bergerak dan bertemu dengan berbagai tokoh untuk melakukan perekrutan.
Yang perlu ditekankan di sini, tidak tepat kalau upaya yang kami lakukan ini disebut islah. Lebih tepat disebut perekrutan. Konotasi antara islah dan perekrutan jelas berbeda. Apalagi kalau mengutip ucapan Gus Dur semasa hidupnya bahwa setelah adanya putusan pengadilan, maka sudah tidak ada lagi yang namanya islah. Karena PKB itu sebenarnya memang satu, sedangkan upaya yang kita lakukan sekarang adalah upaya untuk mengajak komunikasi agar bergabung kembali.
Apakah langkah ini dilakukan karena ada wasiat dari Gus Dur?
Muhaimin Iskandar (ketua umum PKB) sejak awal selalu terbuka kepada siapa pun yang mau bergabung, termasuk kepada mereka yang selama ini dikenal berseberangan dengan kami. Sedangkan tim kecil yang sengaja dibentuk untuk melakukan perekrutan kepada kader-kader PKB tersebut, sudah ada sebelum Gus Dur meninggal. Jadi, apa yang dilakukan saat ini, tidak terkait dengan wasiat Gus Dur. Prinsip berpartai kan harus terbuka kepada siapa saja yang mau bergabung, apalagi kepada mereka yang pernah menjadi bagian dari PKB. Kami sangat terbuka untuk itu selama tetap bersedia memegang aturan yang berlaku.
Apakah akan disediakan posisi kepada PKB versi Muktamar Parung bila bergabung? Apa posisi yang akan ditawarkan kepada Yenny Wahid?
Ya nanti saja kami bicarakan itu, karena itu sudah masuk persoalan teknis. Yang terpenting saat ini adalah semangat untuk membawa PKB ke depan jauh lebih baik. Masalah formulasi, nanti saja dibahasnya.
Sejauh ini bagaimana upaya untuk merekrut kader dari kubu Yenny Wahid?
Itu sudah ada tim yang melakukannya dan sampai saat ini usaha itu masih terus dilakukan kepada semua pihak yang ada di luar. Yang saya dengar, tim yang dipimpin oleh Pak Imam Nachrowi itu memiliki semangat besar untuk menyelesaikan tugas yang diemban.
Yenny Wahid mengaku mendapat mandat dari Gus Dur untuk membentuk PKB Perjuangan atau PKB Gus Dur...
Kami harus punya sikap optimistisme untuk kebesaran PKB ke depan. Kalau semua pihak memang menginginkan PKB tambah besar dan sesuai dengan apa yang dicita-citakan, maka tidak ada yang perlu khawatir bahwa usaha yang sedang dilakukan ini tidak akan berhasil. Kata kuncinya, menurut saya, adalah bagaimana kita bisa membuka diri dan berkomunikasi secara egaliter dengan semua pihak. Kalau sejak awal kami sudah pesimistis, maka apa yang kami harapkan tidak akan berhasil.
Bagaimana kalau rekonsilitasi ditolak?
Terserah mereka kalau mau menolak, karena yang terpenting kami sudah menunjukkan sikap keterbukaan kepada semua kalangan yang memang ingin kembali bergabung. Apalagi kami sudah membuktikan bahwa kami berhasil bekerja keras untuk berkompetisi di pemilu lalu, dan hasilnya tidak mengecewakan. PKB masih bisa meraih 28 kursi di DPR, padahal konflik pecah justru menjelang detik-detik pelaksanaan pemilu. Sekarang kami memiliki banyak waktu untuk berusaha dalam membesarkan partai, maka kami yakin PKB akan besar.
Pada Pemilu 2009, Gus Dur masih menjadi ikon PKB. Bagaimana setelah tak ada Gus Dur?
Memang secara perlahan PKB tidak lagi terpaku pada ketergantungan terhadap tokoh atau kelompok tertentu. Tetapi lebih mendorong diri untuk bekerja keras dalam mengelola partai secara profesional, termasuk mengelola basis-basis PKB seperti NU. Jadi ke depan kita sudah menghilangkan ketergantungan partai kepada tokoh atau kelompok tertentu, tetapi lebih pada kerja keras.
Adanya usaha untuk merekrut kembali kader-kader yang selama ini masih berada di luar itu bukanlah ketakutan kami bahwa ke depan PKB akan mengalami kemunduran. Namun, lebih kepada sikap keterbukaan dan kecintaan kepada partai saja agar sama-sama menjadi kendaraan kita dalam menjalankan cita-cita bersama. Semakin banyak orang yang bergabung, maka lebih banyak personil untuk mempermudah perjuangan. Dan, hasilnya bisa bertambah besar.
Apakah bila langkah ini berhasil maka tak akan ada lagi kubu-kubu di PKB?
Kami tidak tahu tentang itu. Konflik yang terjadi, menurut saya, lebih kepada masing-masing personilnya. Jadi sangat sulit bagi kita untuk memprediksi kemungkinan terjadinya konflik di tingkat internal. Toh selama ini, pihak yang dikatakan solid saja ada kemungkinan berbeda pendapat dan akhirnya terjadi konflik. Karena itulah yang dibutuhkan oleh partai adalah keterbukaan dan keikhlasan hati untuk sama-sama berjuang.
Kami berharap jangan sampai usaha ini dijadikan sebagai alat politik, sebab usaha ini muncul dari niat hati untuk membangun PKB ke depan.
|
|
|
|
|
|