HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 05/03/10, 15:57
Depok Siapkan Dana Rp 1,2 M untuk Mobil Kir Keliling
Jumat, 05/03/10, 13:36
Anggarkan Rp 1,5 M, Satpol PP Siap Tertibkan PKL dan Bangli
Minggu, 14/02/10, 17:24
Gara-gara SMS Mesum yang Nyasar, Seorang PNS Pukuli Istri
Minggu, 14/02/10, 16:48
Dengan Cara Haram, Cindi Biayai Cintanya yang Haram
Jumat, 05/02/10, 15:54
Ini Dia Daftar Korupsi Gubernur Kalsel Versi Maksi Indonesia
Dua Pesawat DAS Nyaris Celaka
Jumat, 19 Januari 2007, 01:32:15 WIB

Rakyat Merdeka. Dua pesawat milik PT Dirgantara Air Service (DAS) masing-masing pesawat Britten Norman (BN) 2A dari Samarinda dan pesawat Cassa 212 dari Bandara Juata Tarakan nyaris celaka. Untungnya, kedua pesawat yang akan terbang menuju Long Apung Malinau itu batal berangkat menyusul amblasnya landasan di Bandara Long Apung Malinau yang memiliki panjang landasan 840 meter x 23 meter itu.

Gaus, petugas Bandara Long Apung Malinau melaporkan, landasan pacu (run way) yang amblas itu adalah landasan sebelah timur. Landasan yang anjlok itu terjadi mulai titik run way 35 meter hingga sepanjang 150 meter sebelah kiri landasan. Akibatnya bandara ini ditutup total.

Manajer Area PT DAS Kaltim Ramly Effendi Siregar menyebutkan, akibat amblasnya landasan di bandara tersebut, dua penerbangan masing-masing rute Samarinda - Long Apung (PP) dan Tarakan - Malinau - Long Apung (PP) mulai kemarin terhenti total.

Ini dikuatirkan akan mengganggu jalur penerbangan perintis. "Kalau landasan di Long Apung ditutup, berarti penerbangan perintis stop total. Entah kapan ini bisa didarati lagu," ujarnya.

Darminto, Kepala Sub Bidang Keselamatan Udara Dinas Perhubungan Kaltim menyebutkan, landasan di Long Apung itu ditutup karena sedang dilakukan pelapisan aspal (over lay) menggunakan dana dari pemerintah pusat (APBN). "Mudah-mudahan landasan bisa cepat selesai," sebutnya.

Minimnya sarana untuk komunikasi, navigasi dan pemantau cuaca di banyak bandara di Kaltim, memunculkan keprihatinan Ketua DPRD Kaltim H Herlan Agussalim. Pemilik hobi mengoleksi miniatur pesawat udara ini menyebutkan, pihaknya akan selalu memperhatikan kondisi bandara perintis di kawasan perbatasan dan pedalaman.

"Ini penting untuk membuka isolasi daerah," sebut Herlan. Untuk itu, di anggaran 2007 dan 2008 ini, dana untuk perhubungan udara harus diperhatikan. "Dana itu untuk mendukung keselamatan maupun penyempurnaan landasan pacu pesawat. Ini juga harus ada sharing, antara APBD Kaltim, APBN dan APBD kabupaten dan kota," jelasnya.

Dikabarkan, dari 70 bandara yang ada di Kaltim, hanya 7 bandara yang tercatat memiliki sistem komunikasi, navigasi dan pemantau cuaca yang lengkap. Selebihnya, hanya berupa bandara atau lapangan terbang perintis yang tak memiliki standar pengamanan maksimal.
Akibat kondisi fasilitas lapangan terbang yang tidak maksimal, beberapa kecelakaan pesawat pun sempat terjadi di Kaltim.

Pada 26 Desember 2006 lalu, pesawat Airvan GA 8 milik Perusda Melati Bhakti Satya (MBS) registrasi PK-VMD tergelincir di lapangan terbang Long Layu Nunukan. Kecelakaan yang sama menimpa pesawat Britten Norman Islander (BN) 2A registrasi PK - VIN milik PT Dirgantara Air Service (DAS), 30 Desember lalu.

Itu hanya selang 4 hari dari kejadian yang menimpa pesawat milik Perusda MBS. Terakhir pesawat CN 212 milik Avia Star tergelincir di Bandara Tanjung Bara Sengata Kamis (11/1) lalu. eff/jpnn


Baca juga:


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 

Koalisi Suku Bunga dan Rendahnya Permintaan Kredit
Pembalak Liar Bisa Kena Pasal Pencucian Uang
Raja Melayu Mana yang Kini Sebanding dengan Raja Eropah

Ah, Produksi Migas Nggak Naik Kelas