|
 |
|
Jumat, 05/03/10, 15:57
Depok Siapkan Dana Rp 1,2 M untuk Mobil Kir Keliling |
|
Jumat, 05/03/10, 13:36
Anggarkan Rp 1,5 M, Satpol PP Siap Tertibkan PKL dan Bangli |
|
Minggu, 14/02/10, 17:24
Gara-gara SMS Mesum yang Nyasar, Seorang PNS Pukuli Istri |
|
Minggu, 14/02/10, 16:48
Dengan Cara Haram, Cindi Biayai Cintanya yang Haram |
|
Jumat, 05/02/10, 15:54
Ini Dia Daftar Korupsi Gubernur Kalsel Versi Maksi Indonesia |
|
|
|
1.800 Warga Teluk Sepang Terancam Digulung Ombak
Senin, 31 Juli 2006, 03:28:02 WIB
|
Rakyat Merdeka. Sedikitnya 100 orang warga Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu ngeluruk ke gedung Pemkot Bengkulu pukul 09.00 WIB Minggu (30/7). Ratusan warga laki-laki dan perempuan ini datang ke Pemkot mengikuti konsultasi publik dengan kelompok penggiat lingkungan bersama Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Daerah Bengkulu. Konsultasi publik ini dimanfaatkan warga untuk menyampaikan keluh kesah mereka.
Warga Teluk Sepang Syaiful Anwar, mengatakan Kelurahan Teluk Sepang merupakan perkampungan baru yang ditempati warga sejak 1989. Perkampungan ini merupakan masyarakat korban bencana alam gelombang pasang di 4 kelurahan yakni Berkas, Sumur Meleleh, Malabero dan Pasar Pantai Kecamatan Teluk Segara.
Kelurahan Teluk Sepang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu. Kelurahan ini terdiri dari 4 RW dan 14 RT berpenduduk 1.800 jiwa.
Kelurahan ini berada di pesisir pantai yang ketinggian dari permukaan laut di bawah 5 meter. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai petani, nelayan, buruh dan PNS. Menariknya, sekitar 74 orang warga setempat bekerja sebagai buruh sekop pasir di penambangan pasir di Tanjung Ketaping Kelurahan Teluk Sepang.
"Kami warga Teluk Sepang mendesak agar Walikota Bengkulu H.A Chalik Effendi, SE menutup lokasi tambang pasir tersebut. Kami sudah resah. Kami takut dan gelisah. Apalagi sering ada isu tsunami. Saat ini rumah-rumah penduduk di Kelurahan Teluk Sepang hanya tinggal beberapa meter lagi dari bibir pantai. Dulu waktu kami baru pindah, jarak dari pantai sekitar 250 meter.
Sekarang jaraknya hanya 50 meter lagi. Kalau malam terdengar suara ombak. Kalau angin kencang disertai badai warga ketakutan. Terus dekatnya ombak ke pemukiman penduduk karena abrasi pantai akibat penambangan pasir tersebut,'' kata Syaiful Anwar.
Hal senada diungkapkan Fahmi. Awalnya masyarakat Teluk Sepang yang merupakan warga pindahan dari Kelurahan Malabero, Sumur Melele, Berkas Pasar Pantai bisa hidup tenang. Mereka tadi bisa melaut dan tinggal di rumah tanpa ada ancaman.
"Begitu ada penambangan pasir, warga tadinya bisa tidur nyenyak dan melaut kini was-was. Warga resah dan gelisah terus. Penambangan pasir menyebabkan hutan pantai rusak, air laut semakin dekat dengan pemukiman penduduk. Abrasi pantai terus terjadi. Kini ditambah lagi dengan isu tsunami.
Jadi warga minta agar pak walikota konsisten menutup tambang pasir tersebut. Sebab, tahun 2000 lalu lokasi tambang pasir itu pernah ditutup. Kami minta SK Walikota No. 371 tahun 2005 tentang izin penambangan pasir dicabut,'' tegas Fahmi.
Dikatakan Fahmi, setiap hari sekitar 90-100 kali truk keluar dari lokasi penambangan pasir Tanjung Ketaping dengan kapasitas angkut mencapai 4 M3.
"Bisa dihitung berapa banyak pasir yang diangkut keluar selama 1 tahun. Apa yang didapatkan warga Teluk Sepang di sana. Warga hanya bisa merasakan bagaimana kuatnya suara terjangan ombak. Malam hari warga mulai ketakutan kalau datang badai,'' kata Fahmi.
Sementara itu, Pemkot Bengkulu melalui Kasubbag Humas Suryawan Halusi, mengatakan, soal tuntutan penutupan lokasi tambang pasir tentu Pemkot merespon dengan melihat aturan serta mekanisme yang ada. ife/jpnn
Baca juga: Tidak ada komentar tentang artikel ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|