NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

Terkesan Politis, Srikandi Banteng Minta Data Rakyat Miskin BPS Dibatalkan
Jumat, 30 Juli 2010, 15:46:15 WIB

Laporan: M Hendry Ginting

Jakarta, RMOL. Fraksi PDIP DPR meminta data kemiskinan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)  tertanggal 1 Juli 2010 dibatalkan.

Penurunan angka kemiskinan sekitar 2,4 persen atau menjadi 31,5 juta jiwa dari total  penduduk Indonesia dinilai bersifat politis. Bahkan diduga  terjadi manipulasi metodologi survei.

"Hasilnya jauh dari kenyataan di lapangan saat ini, begitu banyak rakyat Indonesia yang sedang bergelut menghadapi kesulitan,  kata anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI P Rieke Dyah Pitaloka kepada wartawan di  gedung DPR, Jumat (30/7).

Dia didampingi rekan satu komisi yakni  Ribka Tjiptaning, Surya Chandra dan Karolin Margareth Natasya. Sementara Ribka Tjiptaning yang juga Ketua Komisi IX DPR meminta BPS tidak menyuguhi data-data kebohongan.  Menurut dia jumlah rakyat Indonesia yang masuk kategori miskin berbeda data yang dibuat BPS dengan data dari BKKBN maupun data yang dikeluarkan oleh para ekonom.  Padahal, data tidak akurat kata Ribka,  berkorelasi dengan penanganan kesehatan masyarakat yang berkategori miskin. Menurut BKKBN jumlah angka kemiskinan 70 juta, sedang menurut data para ekonom mencapai 115 juta jiwa ujarnya.  Ribka mengatakan,  jika data dan kriteria yang dibuat BPS diterapkan menangani kesehatan masyarakat maka akan terjadi ketidakadilan.
[dry]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat