Jakarta, RMOL. Berbagai catatan yang mengiringi kemenangan calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution dalam uji kelayakan dua hari lalu memberikan nuansa lain yang bermakna negatif.
Berbagai catatan itu sebetulnya justru memperlihatkan bahwa mantan Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan tersebut tidak fit dan tidak proper untuk menduduki kursi Gubernur BI. Singkatnya, berbagai catatan itu berisi satu pesan yang amat kuat: kapasitas, kapabilitas, dan integritas Darmin amat sangat diragukan.
Demikian disampaikan aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi yang mengikuti proses pemilihan Gubernur BI ini dari dekat.
"Fit and proper test dimaksudkan untuk menyeleksi kepatutan dan kelayakan seseorang untuk posisi (jabatan) tertentu yang ditawarkan. Tapi oleh jaringan mafia di Komisi XI, fit and proper test justru diskenariokan untuk melegitimasi Darmin Nasution menempati posisi sangat strategis, yakni Gubernur Bank Indonesia. Catatan dalam kelulusannya sebenarnya membuktikan bahwa Darmin tidak fit dan tidak proper," ujar Adhie.
Bagaimana mungkin Darmin lolos sementara dirinya dipenuhi oleh kontroversi yang diakui oleh Komisi XI. Bukankah sosok GBI seharusnya memiliki kadar kepercayaan yang dapat diandalkan. Serta mampu menciptakan stabilitas.
Sebut Adhie lagi, pasar tidak menyambut Darmin sebagaimana layaknya. Yang menyambut positif Darmin Nasution sebagai GBI hanya "pasar gelap".
"Itulah pasar yang isinya para pemain bursa saham dan bankir nakal. Posisi Darmin sebagai GBI memberikan jaminan keleluasaan kepada bankir nakal untuk merampok uang publik yang ada di bank mereka. Dengan konsep pemikiran Darmin dalam skandal rekayasa bailout Bank Century, BI pasti juga akan mengganti uang bank yang mereka curi. Kalau tidak, bisa berdampak sistemik," demikian Adhie. [guh]