HOME | NUSANTARA | INTERNASIONAL | POLHUKAM | BLITZ | EKBIS | OLAHRAGA | KESEHATAN | OTOMOTIF | KARTUN | E-PAPER EDISI CETAK | INDEKS

Pulau Untung Jawa, Makam Keramat dan Meriam Belanda
Rabu, 30 Juni 2010, 09:50:00 WIB

Laporan: Wahyu Sabda Kuncahyo

Jakarta, RMOL. Rangkaian kegiatan Bina Taqwa Pelajar Indonesia (BTPI) ke XIII 2010 berlanjut ke Pulau Untung Jawa Kepulauan Seribu. Para peserta BTPI yang terbagi dalam 16 kelompok melakukan berbagai permainan yang menguji kreatifitas otak dan ketahanan fisik.

Pulau Untung Jawa yang terletak di sebelah barat teluk Jakarta merupakan salah satu pulau dari gugusan pulau-pulau di perairan teluk Jakarta yang masuk dalam wilayah administrasi Kepulauan Seribu berdasarkan UU 54/1999. Dari Jakarta dapat ditempuh dengan kapal penyeberangan satu sampai satu setengah jam. Secara teritorial berbatasan dengan empat wilayah yakni sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tangerang Selatan, Kotamadya Jakarta Barat dan Utara. Sebelah timur perairan berbatasan dengan kabupaten Bekasi. Sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Pulau Pari dan Pulau Panggang.

Pulau Untung Jawa memiliki luas yang cukup untuk dijelajahi yakni 40,10 hektare, di dalamnya terdapat taman bermain dan objek wisata menarik seperti Tugu Arung Samudra yang didirikan dalam rangka 50 tahun kemerdekaan Indonesia oleh pelaut-pelaut dari 22 negara yang mengikuti fleet review arung samudra 1995.

Juga masih ada peninggalan sejarah yang tersisa seperti meriam kuno, makam keramat dan bekas dermaga kuno. Meriam kuno di pulau Untung Jawa memiliki kemiripan dengan yang ada di Pasar Ikan, Penjaringan Jakarta Utara. Meriam peninggalan penjajah kolonial Belanda tersebut diperkirakan dibuat pada abad 17-18.

Penduduk pulau Untung Jawa kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional meskipun ada juga yang mengadu nasib di kota-kota besar.

''Banyak anak muda yang pergi ke kota untuk cari pekerjaan lain,'' ujar ibu Rukmini penduduk setempat. Ia mengisahkan sejak pertama kali menginjakkan kakinya di pulau Untung Jawa pada tahun 1954, pulau itu masih merupakan hutan bakau dan jarang penduduknya.

Rukmini sehari-hari membuka kios di rumahnya dengan berjualan kelapa muda, hidangan laut dan cindera mata, sementara suaminya bekerja sebagai tukang sapu di Pulau Bidadari.

Meski belum jelas kapan Pulau Untung Jawa mulai berpenghuni, namun penggalan sejarah tersebut dapat menjadi catatan penting bahwa Pulau Untung Jawa layak dimasukkan ke dalam buku sejarah.

Sayangnya, kunjungan ke pulau Untung Jawa tidak bisa berlama-lama dikarenakan cuaca yang kurang bersahabat sehingga rombongan BTPI harus kembali ke KRI Makassar 590 dan merapat ke dermaga Tanjung Priuk.[ald]



Baca juga: