HOME | NUSANTARA | INTERNASIONAL | POLHUKAM | BLITZ | EKBIS | OLAHRAGA | KESEHATAN | OTOMOTIF | KARTUN | E-PAPER EDISI CETAK | INDEKS

Awas, Bisnis Bangku Kosong Di Sekolah
Rabu, 30 Juni 2010, 00:25:07 WIB


Jakarta, RMOL. Praktik jual beli bangku kosong sangat rentan terjadi pada setiap penerimaan peserta didik baru (PPDB), khususnya sekolah dasar negeri (SDN). Celah itu masih terbuka bagi joki berdasi untuk meraup keuntungan berlipat ganda dari orangtua calon murid baru.

Masalah itu mencuat karena puluhan ribu bangku SDN ma­sih kosong yang rawan dijadi­kan lahan jual beli. Jika dinas pen­didikan (Disdik) tidak ber­gerak cepat mengantisipasi prak­­tik haram tersebut, pihak se­kolah bisa memanfaatkan ke­sempatan demi merogoh kocek orangtua calon murid baru.

Pada PPDB tahap pertama tingkat SDN 14-16 Juni 2010, murid yang dinyatakan diterima dan telah melapor diri mencapai 95.014 orang. Pada tahap kedua diselenggarakan tanggal 21-22 Juni. Dari sekitar 32.250 bangku kosong hanya 4.325 murid yang mendaftar dan 3.387 di antara­nya dinyatakan diterima. Se­dang­kan sekitar 938 murid ga­gal diterima karena faktor usia yang belum tujuh tahun. Sedang daya tampung SDN di DKI Ja­karta mencapai 127.264 bangku dan hingga kini jumlah bangku kosong mencapai 29.181 kursi.

Kekosongan bangku yang ter­golong banyak inilah yang harus diwaspadai. Meski ada kemung­ki­nan menerima kembali siswa ba­ru agar kursi kosong tidak mu­­bazir, namun praktik jual beli bangku masih bisa terjadi.

Kepala Dinas Pendidikan Na­sional DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto menegaskan, bangku kosong tidak boleh diperjual­be­likan. Jika ada yang nekat me­manfaatkan bangku kosong, akan ditindak tegas hingga ke proses hukum.

Langkah yang diambil Disdik sebenarnya sebuah ultimatum bagi sekolah agar tidak coba-co­ba melegalkan praktik cu­rang. Tapi jangan sekadar mengger­tak, melainkan harus memben­tuk tim pengawas memantau dan menyelidiki kasus yang tiap tahun selalu terjadi. Bisa meli­batkan suku dinas masing-ma­sing wilayah, LSM yang peduli dunia pendidikan untuk meng­in­­tai perilaku pengelola sekolah.

Jika hanya mengharapkan la­poran orangtua yang merasa di­ru­gikan, agaknya sulit. Sebab orang­tua membutuhkan bang­ku kosong yang diperjual­be­li­kan. Ar­tinya sama-sama mem­­butuhkan.

Masalahnya, bagaimana upa­ya serius Disdik menghentikan praktik seperti itu. Namun, un­tuk meringkus joki jual beli kur­si kosong tidak semudah mem­balikkan telapak tangan. Perlu kerja keras dan keseriusan tanpa pilih kasih. Siapapun pelaku­nya, harus ditindak tegas biar ada efek jeranya.

Syamsudin,
Matraman Jakarta Timur

[RM]



Baca juga: