HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 30/07/10, 19:03
POLISI TABRAK LARI
Mabes Polri: Tabrak Lari karena Panik
Jumat, 30/07/10, 18:50
BOM TABUNG GAS
JK: Jangan Salahkan Konversinya
Jumat, 30/07/10, 18:26
Demokrat: Ibas Bolos karena Tugas Partai
Jumat, 30/07/10, 18:22
REKENING GENDUT POLRI
Polri Tantang Denny Indrayana
Jumat, 30/07/10, 18:14
Tak Diakomodir Badrul Kamal, Arus Bawah Demokrat Hengkang ke Kubu Yuyun
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Jusuf Kalla, Ogah Terjun Ke Politik Pemilu 2014 Lebih Penting Mengurusi Sosial
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Festival Indonesia 2010 Digelar Di Kota Plzen, Ceko
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

PIALA DUNIA 2010
Johannesburg, Metropolitan Di Sub-Sahara Afrika

Sabtu, 20 Maret 2010, 01:40:45 WIB


Jakarta, RMOL. Johannesburg sebagai ko­ta terbesar di Afrika Selatan dan benua Afrika dipilih menjadi sa­lah satu kota yang menggelar Pia­la Dunia 2010. Dua stadion di kota ini akan dijadikan tempat menggelar pertandingan Piala Du­nia. Stadion itu adalah Sta­dion Ellis Park atau yang le­bih dikenal dengan Coca-Cola Park, dan Stadion Soccer City.

   Un­tuk nama stadion terakhir, akan digelar pertandingan pem­buka dan penutup Piala Dunia 2010. Sebagai salah satu kota yang menggelar even terbesar di dunia sepakbola tersebut, kota multietnis ini mulai berbenah dan menyiapkan diri menyam­but negara-negara yang akan ber­laga di Piala Dunia.

Johannesburg adalah ibukota dari provinsi Gauteng, provinsi ter­makmur di Afrika Selatan. Johan­nesburg juga merupakan kota dengan ekonomi terbesar di wi­layah metropolitan di sub-Sahara Afrika dan salah satu dari 40 kota dengan daerah metro­politan terbesar di dunia. Selain itu, kota ini merupakan kota ter­besar yang tidak dikelilingi su­ngai, danau, atau garis pantai.

Disamping  terkenal akan tam­­bang emasnya, kota ini ada­lah kota bersejarah di Afrika Se­latan karena latar belakang se­jarah per­­selisihan antara Boer (pe­ta­ni)-Belanda perintis yang ber­mukim di Transvaal-dengan para penambang kebangsaan Ing­gris, yang membantu mem­bangun ko­ta segera setelah emas dite­mukan tahun  1886 di Wit­watersrand.

Witwatersrand adalah lokasi yang paling banyak di­temukan logam mulia ini. Lokasi pertam­ba­ngan yang sekarang menjadi jantung kota merupakan salah satu dari banyak bidang ta­nah yang dinyatakan sebagai ga­lian umum. Selain di jantung ko­ta tersebut, emas ditemukan di Bar­berton dan Langlaagte. Per­lahan di bawah para komisaris Jo­hann Rissik dan Christian Jo­hanes Joubert, daerah Witwaters­rand akhirnya mulai tumbuh se­bagai kota utama, dan menjadi pu­sat jalur KA seluruh Afrika Selatan.

Adanya tambang emas di kota ini menjadikan kota ini didatangi para penggali emas dari berbagai belahan dunia dan menjelma men­jadi kota terbesar di Afsel yang dihuni masyarakat dari beragam latar belakang bu­daya.

Banyaknya pendatang yang menetap di kota ini men­jadikan masyarakat kota ini se­makin ber­tambah. Karena itu, ko­ta ini di­paksa menyediakan ako­modasi berbagai kebutuhan ma­syarakat. Hal ini menyebabkan kota ber­kembang cepat dan me­nyum­bang 16 persen dari penda­patan per kapita per negara. Atas kon­tribusinya tersebut, kota ini men­jadi acuan kemajuan masya­rakat Afrika Selatan.
[RM]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Sekjen Kemenkumham Diperiksa Pekan Depan
Digaji Puluhan Juta, DPR Masih Suka Bolos Sidang