|
 |
|
|
 |
|
Jumat, 30/07/10, 19:03 POLISI TABRAK LARI Mabes Polri: Tabrak Lari karena Panik |
|
Jumat, 30/07/10, 18:50 BOM TABUNG GAS JK: Jangan Salahkan Konversinya |
|
Jumat, 30/07/10, 18:26 Demokrat: Ibas Bolos karena Tugas Partai |
|
Jumat, 30/07/10, 18:22 REKENING GENDUT POLRI Polri Tantang Denny Indrayana |
|
Jumat, 30/07/10, 18:14 Tak Diakomodir Badrul Kamal, Arus Bawah Demokrat Hengkang ke Kubu Yuyun |
|
 |
|
|
|
|
|
PIALA DUNIA 2010 Skuad Dewa-dewi Di Ujung Tanduk
Minggu, 14 Maret 2010, 01:37:43 WIB
Jakarta, RMOL. Yunani terancam. Trauma de javu Piala Dunia 1994 bikin Negeri Dewa-Dewi ini tambah pening setelah sebelumnya gencar dicap sebagai tim pengembang negative football. Yaitu sepakbola yang membosankan dengan mengembangkan strategi defensif berlapis.
Harum manisnya momen Piala Dunia pertama kali dicicipi Yunani di Amerika Serikat 1994. Saat itu, Yunani tergabung dengan Nigeria di babak penyisihan grup.
Namun apa boleh buat, bukannya memberi kesan manis, Yunani malah rontok dan kebobolan 10 gol tanpa membalas satu gol pun. Ironisnya, salah satu yang memberondong Yunani adalah Nigeria!
Usai penampilan memalukan di Piala Dunia 1994, Yunani absen di tiga perhelatan berikutnya (1998, 2002 dan 2006). Kendati pada 2004 tampil mengesankan dengan menundukkan tuan rumah Portugal dan manggung sebagai juara Eropa, namun Yunani tetap gagal melenggang ke putaran final 2006 di Jerman karena tak mampu bersaing dengan Ukraina dan Turki di babak kualifikasi.
Memang terkadang sepakbola tidak bergantung mitos seperti trauma de ja vu Yunani atas Nigeria. Namun, rasa was-was tidak hilang dari tim asuhan Otto Rehhagel itu. Pasalnya, permainan Yunani menurut pengamatan para penggila bola, dinilai mengembangkan sepakbola negatif, karena terkesan membosankan. Itu bukan tuduhan tanpa alasan. Buktinya, Theofanis Gekas cs baru saja dipermalukan tim tamu Senegal 0-2 dalam pertandingan persahabatan, Rabu (3/3).
Yunani, yang lolos ke Piala Dunia 2010 setelah menekuk Ukraina 1-0 di playoff, kesulitan mengembangkan permainan menghadapi Senegal yang tak mendapat tiket ke Piala Dunia 2010. Meski begitu, segalanya bisa terjadi. Duel melawan Nigeria bisa dijadikan panggung bagi Yunani membuktikan gaya sepakbola negatif mereka, tidak sepenuhnya salah.
Sebaliknya, Nigeria patut mewaspadai negative football yang diusung Yunani. Pasalnya, dalam beberapa laga, pola itu cukup efektif bagi Yunani, di mana mereka mampu memaksimalkan peluang yang hanya sedikit buat mengubah keadaan.
Ditambah lagi, para pemain Yunani tidak banyak yang merumput di liga-liga elite Eropa. Kebanyakan bermain di klub-klub lokal seperti Giorgos Karagounis dan Sotiris Ninis yang merumput bersama Panathinaikos. Banyaknya pemain yang tidak “masuk radar” itu bisa menjadi senjata rahasia yang sewaktu-waktu bisa mengancam Nigeria.
Untung saja, nama besar Yunani tidak membuat minder Nigeria. Tim Elang Super di bawah komando nahkoda baru, Lars Lagerback siap mencengkram siapapun lawan untuk bisa maju ke 16 besar. Bahkan, usai kemenangan 5-2 atas Kongo dalam pertandingan uji coba baru-baru ini, Lagerback sesumbar tim besutannya bisa melangkah hingga babak semi-final.
“Saya pikir cukup logis kalau Nigeria bisa menembus semifinal. Setiap pelatih pasti mempunyai ambisi di setiap kompetisi yang mereka ikuti, dan itu adalah ambisi saya,” kata Lagerback.
Dia beralasan, Nigeria memiliki para pemain dengan teknik individu yang bagus. Apalagi bila kebersamaan dan koordinasi para pemain di lapangan dapat disempurnakan sampai hari H-nya nanti.
“Saya selalu berusaha mencoba menjelaskan strategi secara detial kepada pemain, sampai saatnya nanti putaran final,” kata Lagerback. [RM]
Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|