NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

Pemerintah Australia Harus Perhatikan Nasib Nelayan Indonesia Timur
Kamis, 11 Maret 2010, 15:48:29 WIB

Laporan: Taufik Damas

Jakarta, RMOL. Pemerintah Australia harus memperhatikan nasib rakyat Indonesia di kawasan Timur, terutama yang berpofesi petani rumput laut dan nelayan di Timor Barat, yaitu di perairan Rote Ndao dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Usaha nelayan di wilaiayah tersebut terancam gulung tikar karena pencemaran lingkungan hidup yang disebabkan oleh meledaknya ladang minyak Montara di dekat gugusan Pulau Pasir (ashmore reef) yang menjadi pusat pencarian ikan dan biota laut lainnya oleh nelayan tradisional Indonesia. Ladang minyak Montara dikelola oleh PTTEP Australasia, perusahaan minyak asal Thailand.

Akibatnya, muntahan ratusan ribu liter minyak mentah perhari itu mencemari perairan Laut Timor dan lingkungan di sekitarnya, serta mengancam seluruh habitat yang berada di kawasan tersebut. Bahkan ada informasi yang menyebutkan bahwa meledaknya ladang minyak Montara juga mengakibatkan luapan lumpur panas, yang fenomenanya mirip dengan kebocoran gas Lapindo (mud vulcano).

Berkaitan dengan hal tersebut, Jaringan Epistoholik Jakarta (JEJAK) mendukung upaya LSM lingkungan hidup BIRU Voice yang dipimpin oleh Suryo Susilo melakukan aksi demo kepada Pemerintah Australia di Kedutaan Besar Australia di Jakarta, dan menuntut Pemerintah Asutralia untuk mengambil tanggungjawab dalam musibah yang mencemari wilayah Indonesia tersebut.

BIRU Voice menyampaikan tiga tuntutan. Pertama, pemerintah Australia harus lebih serius dalam penanganan dampak perusakan lingkungan di celah Timor akibat kebocoran ladang minyak Montara yang merusak biota laut hingga ke wilayah Indonesia. Kedua,  pemerintah Australia harus lebih manusiawi dalam menangani para nelayan NTT yang akibat pencemaran terpaksa melaut dan memasuki wilayah Australia. Ketiga, PTPEP Australasia harus memberikan ganti rugi yang sepadan kepada nelayan dan petani rumput laut yang terkena dampak langsung akibat pencemaran di perairan Timor, serta melakukan perbaikan lingkungan yang terkena dampak pencemaran akibat kebocoran ladang minyak Montara.

BIRU Voice juga berharap kunjungan Presiden SBY ke Asutralia memberikan kontribusi yang baik bagi petani dan nelayan di Indonesia Timur. Persoalan ini seharusnya menjadi agenda yang dibicarakan oleh kedua pemerintahan. [fik]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat