NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

PIALA DUNIA 2010
Adu Kuat Dua Raksasa Meksiko-Uruguay

Selasa, 09 Maret 2010, 00:54:59 WIB


DIEGO FORLAN/IST
Jakarta, RMOL. Battle of the sleeping giants. Titel ini pantas disematkan pada laga Meksiko-Uruguay. Maklum saja, kedua raksasa sepakbola di daratan Amerika Selatan itu tengah tertidur...

Sejumlah Presiden Klub Meksiko belum lama ini mengkritik keras kualitas prestasi tim Sombrero. Intinya, mereka menganggap prestasi sepakbola Meksiko untuk level internasional cenderung stagnan.

Padahal, sepak bola Meksiko mampu unjuk gigi antara tahun 2002 dan 2006 di Piala Dunia. Kala itu, Meksiko mampu mengalahkan tim sekelas Argentina dan Brazil dan sukses melangkah ke 16 besar di Piala Dunia 2006. Meksiko juga menang dalam kejuaraan dunia U-17 di Peru pada 2005. Ssejumlah pemain muda berbakatnya muncul sebelum dijual ke klub-klub Eropa.

Namun timnas negara itu merosot sejak tim U-23 gagal lolos kualifikasi untuk Olimpiade tahun lalu dan U-20 juga gagal di kejuaraan Remaja Dunia tahun ini di Mesir.

Bahkan sejumlah pemain Meksiko yang saat ini bermain di Eropa, cuma menjadi pemain cadangan di klub-klub Eropa.

Lebih buruk lagi, Meksiko melangkah ke Afrika Selatan dengan susah payah. Setelah ditinggal pelatih Hugo Sanchez, Sven-Goran Eriksson yang menangani tim gagal memperlihatkan performa terbaik Meksiko. Dia kemudian diganti Javier Aguirre yang akhirnya bisa mencatat lima kemenangan dan satu hasil seri untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2010.

Kritikan yang menerpa Meksiko membuat para pemain yang dikomandoi bek andal asal Barcelona Rafael Marquez angkat bicara. Bagi Marquez, kritikan itu hanyalah sebuah lelucon. Namun, Marquez melihat bahwa semua itu sangatlah menyedihkan.

“Ada sesuatu yang tidak bisa saya mengerti. Sepakbola Meksiko membuat saya sedih,” kata Marquez.

Sang Pelatih, Javier Aguirre pun meminta para pendukung tim nasional Meksiko untuk bersatu demi membesarkan nama Meksiko.

Menurut Aguirre, kritikan pedas yang disampaikan itu sangatlah tidak berdasar. Karena secara kualitas, Meksiko merupakan tim yang sangat diperhitungkan di Eropa dan hal itu terbukti akhirnya negeri Amerika Latin itu bisa lolos ke Afsel.

Nasib serupa juga melanda Uruguay. Kebesaran masa lalu sepak bola Uruguay justru menjadi momok menakutkan. Sejak sukses menjadi juara pertama Piala Dunia pada 1930 dan diulang pada 1950, Uruguay sudah 59 tahun  merindukan gelar juara. Waktu yang amat lama. Akankah tahun ini mereka mampu juara untuk ketiga kalinya?

Di atas kertas memang sulit. Uruguay belum memiliki generasi terbaik. Bahkan di lini depan, mereka masih mengandalkan pemain veteran, Diego Forlan. Perjalanan Uruguay dalam tiga Piala Dunia juga sama. Mereka berada di urutan kelima Zona CONMEBOL dan harus menjalani babak play-off.

Namun, Uruguay selalu menyimpan misteri. Seperti halnya pada Piala Dunia 1950. Banyak yang tak menyangka Uruguay bakal juara. Apalagi, di final mereka bertemu tuan rumah Brazil yang memiliki kemampuan merata. Faktanya, justru Uruguay yang menang 2-1.

Menilai Uruguay memang tak bisa dilihat dari keindahan permainannya. Militansi dan keyakinan untuk meraih target dengan banyak cara menjadi kekuatan mereka. Bahkan, kalau perlu bermain keras.

Kalau begitu, sejatinya Meksiko dan Uruguay berada di jalur yang sama. Yakni, haus kemenangan sekaligus membuktikan kritikan deras tidaklah berarti apa-apa. Terlebih, bila dikaitkan dengan fase Grup A, laga ini teramat krusial bagi Meksiko dan Uruguay.

Setidaknya sudah terbayang akan berlangsungnya sebuah laga yang sangat ketat, keras dan menentukan nasib keduanya di Afsel 2010. Lengah sedikit, tuan rumah Afsel dan raksasa Prancis bisa mengambil keuntungan dari mereka.
[RM]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat