HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 30/07/10, 18:50
BOM TABUNG GAS
JK: Jangan Salahkan Konversinya
Jumat, 30/07/10, 18:26
Demokrat: Ibas Bolos karena Tugas Partai
Jumat, 30/07/10, 18:22
REKENING GENDUT POLRI
Polri Tantang Denny Indrayana
Jumat, 30/07/10, 18:14
Tak Diakomodir Badrul Kamal, Arus Bawah Demokrat Hengkang ke Kubu Yuyun
Jumat, 30/07/10, 18:13
Ada Alasan Tepat Meminta SBY Insaf Sebelum Terlambat
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Jusuf Kalla, Ogah Terjun Ke Politik Pemilu 2014 Lebih Penting Mengurusi Sosial
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Festival Indonesia 2010 Digelar Di Kota Plzen, Ceko
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

MDGs Alat Menekan CAFTA
Selasa, 09 Februari 2010, 19:55:57 WIB

Laporan: Ari Purwanto

Jakarta, RMOL. Jika ASEAN-China Free Trade Area terus dilanjutkan dan ternyata malah menambah kemiskinan, maka hal tersebut melanggar komitmen Milennium Development Goals yang dicanangkan Perserikatan Bangsa Bangsa.

Demikian disampaikan Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Sri Edi Swasono, di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta, Selasa (9/2).

"Kalau CAFTA ternyata menambah angka kemiskinan, maka melanggar MDGs. Di satu sisi kita diminta memberantas kemiskinan pengangguran. Tapi di sisi lain kita terus menerapkan kebijakan free trade ASEAN-China yang terbukti malah meningkatkan pengangguran dan kemiskinan," lanjutnya.

Masih menurut Sri Edi, hal ini (MDGs) bisa dimanfaatkan untuk mereformulasi CAFTA.

"Kalau pemerintah mau, MDGs juga bisa dijadikan alat tekan untuk merenegosiasi dan reformulasi CAFTA," tandasnya. [ald]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Sekjen Kemenkumham Diperiksa Pekan Depan
Digaji Puluhan Juta, DPR Masih Suka Bolos Sidang