|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 31/07/10, 21:31 AKSI PONG Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:46 Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:35 Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:24 BOM TABUNG GAS Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:23 AKSI PONG Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan |
|
 |
|
|
|
|
|
CENTURYGATE FK-Ampera Tuntut Maling Century Diadili
Selasa, 09 Februari 2010, 14:42:10 WIB
Laporan: Wahyu Sabda KuncahyoJakarta, RMOL. Hari ini (Selasa, 9/2) Bundaran Hotel Indonesia diwarnai oleh demonstrasi sekitar 300 orang dari berbagai elemen mahasiswa, pemuda dan masyakat. Mereka tergabung dalam Forum Komunikasi Amanat Penderitaan Rakyat (FK-Ampera).
Menurut koordinator aksi Teddy, mereka menuntut agar pemerintah mengusut tuntas kasus Skandal Century dan menuntut agar para maling Century ditangkap dan diadili.
"Kami juga menuntut pemberantasan makelar kasus dan mafia perdilan," ujar Teddy.
Dalam pandangan mereka, jika uang Rp 6,7 triliun dialokasikan ke sektor buruh, maka buruh akan sejahtera. Apalagi dialokasian untuk sektor pendidikan dan rakyat miskin. Untuk itu mereka menuntut para pencuri ditangkap dan diadili.
Aksi ini dihiasi dengan aksi teatrikal dan coret tubuh. Mereka membentangkang spanduk dan membagikan stiker kepada para pengguna jalan. [fik]Baca juga: Ada 2 komentar tentang berita ini :
Mari terus kan demo Selasa, 09 Februari 2010, 15:55:39 WIB Komentator: aan so | | mari teman2 yg ingin negara ini terbebas dari korupsi dan maling uang negara, kita demo trus walaupun perut lapar. |
Hobbi ? Selasa, 09 Februari 2010, 15:28:58 WIB Komentator: erlangga | Kebebasan mengeluarkan pendapat (ekpresi)kok hanya diisi dengan demo dan demo, yang kreatif dikit ah,
Dan unjuk rasa bertema skandal century sudah nggak laku dan bikin muak.. ini ukan urusan orang2 kebanyakan.
Demo kebanyakan orang2, hanya bisa merasakan sebungkus nasi buat makan siang..
Cukup kawan2ku proletar, kita tunggu semua di garis luar, kita tak bisa menunggu mereka dengan perut lapar, lapar dan lapar
Mari kita bekerja, anak istri di rumah menanti dengan mulut menganga. |
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|