|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 31/07/10, 21:31 AKSI PONG Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:46 Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:35 Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:24 BOM TABUNG GAS Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:23 AKSI PONG Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan |
|
 |
|
|
|
|
|
Produksi Pupuk Meningkat Harganya Tetap Selangit
Selasa, 09 Februari 2010, 07:17:37 WIB
Jakarta, RMOL. Presiden SBY memberikan empat tugas penting yang menjadi program 100 hari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Keempat tugas penting itu (baca tabel), menurut Menteri Perindustrian MS Hidayat, sudah dijalankan 100 persen (lengkapnya baca berita: Capaiannya 100 Persen).
Berdasarkan sejumlah pengamat ekonomi, pelaksana industri, dan anggota DPR bahwa Kementerian ini memang sukses menjalankan program 100 hari, terutama meningkatkan produksi pupuk dan gula.
Cuma sangat disayangkan harga pupuk tetap selangit, sehingga banyak petani padi beralih menanam kelapa sawit gara-gara lebih menguntungkan.
Namun di mata pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Firmanzah, Kemenperin dalam kinerja 112 hari ini sudah cukup maksimal. Sebab, berhasil melakukan perbaikan pada sektor perindustrian.
’’Saya kira kinerjanya sudah oke dalam melaksanakan program 100 hari,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurut Dekan termuda Fakultas Ekonomi UI itu, dalam 100 hari ini, MS Hidayat berhasil menyusun blueprint tata ruang industri dan perbaikan infrastruktur.
Ini berarti, lanjutnya, MS Hidayat bisa menyelesaikan kontrak kerjanya dengan Presiden SBY terkait bidang perindustrian, yaitu dengan melakukan revitalisasi industri gula dan pupuk dan mengembangkan klaster industri berbasis pertanian dan oleochemical serta pengembangan klaster industri berbasis migas dan konsendat
“Yang perlu menjadi perhatian Kemenperin adalah bagaimana meningkatkan produk turunan dari gula itu sendiri. Sebab, banyak produk turunan dari gula untuk dikembangkan,” katanya.
Dikatakan, yang menjadi kendala bagi Kemenperin menjalankan programnya, karena Kementerian ini tidak dapat berjalan sendiri.
“Kemenperin harus melakukan koordinasi dengan Kementerian lainnya. Misalnya, dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian ESDM untuk meningkatkan produksi pupuk,” paparnya.
“Kementerian ini juga harus kerjasama dengan Kementerian Keuangan untuk sektor riil, dan alokasi stimulus fiskal. Kemudian kerja sama dengan Kementerian Perdagangan,” tambahnya.
Ke depan, lanjutnya, kementerian ini menyiapkan dua agenda penting untuk meningkatkan sektor perindustrian. Pertama, menyiapkan dan meningkatkan kinerja sektor industri agar dapat bersaing dalam perdagangan bebas dengan China.
Kedua, meningkatkan pola kemitraan antara perusahaan besar dan kecil. Misalnya, Kementerian BUMN bekerja sama dan menjadi akselator dengan industri daerah,” tandasnya.
‘’Capaiannya 100 Persen’’
MS Hidayat, Menteri Perindustrian
Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, pihaknya sudah berhasil menyelesaikan 100 persen program kerja 100 hari.
‘’Capaiannya 100 persen dari semua program itu,’’ katanya kepada wartawan, di kantornya, Jakarta, kemarin.
Ukuran keberhasilan itu, lanjutnya, dapat dilihat dari selesainya tugas yang diamanatkan Presiden kepadanya. Pertama, penyiapan rencana aksi revitalisasi industri pupuk dan gula. Kedua, menyiapkan konsep pengembangan klaster industri berbasis hasil pertanian dan oleochemical.
Ketiga, penyiapan konsep pengembangan klaster industri berbasis migas dan kondesat.
Keempat, berhasil menyusun Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 2010-2014.
Dikatakan, total anggaran yang dibutuhkan untuk revitalisasi industri pupuk dan gula selama lima tahun adalah sebesar Rp 70,6 triliun, dengan rincian untuk indutri pupuk Rp 47,1 triliun, sementara industri gula Rp 23, 5 triliun.
‘’Alasan Kemenperin fokus pada revitalisasi industri pupuk dan gula, karena pupuk merupakan sarana produksi pertanian dalam mendukung ketahanan pangan nasional dan kebutuhan akan pupuk terus mengalami peningkatan,’’ paparnya.
“Namun pabrik pupuk yang ada sudah tua dan kurang efisien, sehingga kapasitas pabrik yang ada sekarang tidak mampu memenuhi kebutuhan pupuk ke depan,” tambahnya.
Hidayat mengungkapkan, demi terlaksananya revitalisasi industri pupuk segera diterbitkan Intruksi Presiden, seperti yang diputuskan pada Rakortas di Kemenperin, 28 Januari 2010.
Langkah konkritnya, kata dia, penyertaan modal negara kepada BUMN pupuk, subsidi bunga pinjaman, restrukturisasi enam pabrik urea baru, membangun empat pabrik pupuk urea, memfasilitasi restrukturisasi lima pabrik pupuk dan pengamanan pasokan gas bumi.
Soal revitalisasi industri gula, kata Hidayat, didasarkan pada fakta bahwa gula merupakan salah satu komoditi penting dalam perekonomian nasional karena dibutuhkan masyarakat dan industri makanan dan minuman.
“Kebutuhan gula terus meningkat, namun, belum bisa diimbangi kemampuan produksi dalam negeri. Bahkan bahan baku industri gula yaitu gula kristal mentah masih diimpor seluruhnya,” jelasnya.
Untuk meningkatkan swasembada gula nasional 2014, pihaknya sudah menyusun revitalisasi industri gula yang sudah ada, baik pabrik gula milik BUMN maupun swasta dan membangun pabrik gula baru.
“Diharapkan pada 2014 produksi gula mencapai 5,7 ton. dan rencana itu tertuang dalam Peraturan Menperin Nomor 12 tahun 2010,” katanya.
Hidayat juga menjelaskan, Kemenperin berhasil mencanangkan program klaster berbasis pertanian dan olechemical, dan ini sudah belangsung di beberapa daerah.
“Program kongkretnya adalah dengan memberikan intensif dan disinsetif untuk memfasilitasi penbentukan kawasan industri CPO dan mendorong ekspor minyak sawit mentah hanya 50 persen pada 2015 dan menjadi 30 persen pada 2020 dari dalam negeri tercapai,” paparnya.
’’Perbaiki Tata Ruang Industri’’
Sofyan Wanandi, Ketua Apindo
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofyan Wanandi mengatakan, Kemenperin di bawah komando MS Hidayat hendakya fokus pada pertahanan sektor industri dan peningkatan investasi.
’’Barang mentah yang dibutuhkan sektor industri hendaknya dapat dibuat di dalam negeri, sehingga cost yang dikeluarkan industri bisa ditekan,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Ja-karta, kemarin.
“Sekarang ini bahan mentah masih banyak berasal dari luar negeri,” tambahnya.
Sofyan menilai, dalam 112 hari ini Kemenperin melakukan revitalisasi pabrik untuk menjaga dari proses deindustrialisasi. Mi-salnya, mengganti mesin tekstil, sehingga bisa meningkatkan produksinya.
“Program 100 hari tidak bisa dijadikan dasar penilaian keber-hasilan. Sebab, dengan waktu yang pendek itu hanya habis membuat program dan rencana saja,” ujarnya.
Dikatakan, yang perlu diperhatikan Kemenperin adalah bagaimana mengimplementasikan dan melaksanakan semua program yang sudah dibuatnya, sehingga dapat berjalan dengan optimal.
“MS Hidayat harus bisa memperbaiki infrastruktur dan memperbaiki tata ruang industri,” tandasnya.
’’Perlu Terobosan Jitu’’
Aviliani, Pengamat Ekonomi Dari Indef
Kinerja Kemenperin dalam 112 hari dinilai belum sempurna dalam memberikan intensif dan perbaikan tata ruang industri.
Pendapat ini dikemukakan pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Aviliani, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
“Program 100 hari Kemenperin bukanlah program baru, melainkan program lanjutan dari sebelumnya. Makanya terobosan jitu,” katanya.
Menurutnya, Kemenperin harus konsisten dalam melaksanakan klaster industri yang menjadi salah satu program kerja 100 harinya.
“Sekarang banyak petani daerah yang beralih menanam kelapa sawit, karena dinilai harga CPO sangat tinggi, sehingga lebih menguntungkan. Sebab, kalau menanam padi perlu biaya besar karena harga pupuknya tetap selangit. Itu yang sering dikeluhkan petani,” katanya.
Alhasil, tidak aneh jika ba-nyak lahan pertanian pangan yang berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Ini yang hendaknya diatur pemerintah. Harus ada pengaturan tata ruang,” tegasnya.
Dikatakan, dalam 112 hari ini, Kemenperin jangan hanya fokus revitalisasi industri pupuk dan gula saja, namun juga harus memperbaiki pendistribusiannya. “Sekarang ini pemerintah belum melakukan perbaikan terhadap pendistribusian, sehingga harganya mahal sampai ke rakyat,” katanya.
‘’Ada Optimisme Perbaikan Kok...’’
Djimanto, Pemerhati Ekonomi
Kemenperin sudah bekerja secara maksimal dalam mewujudkan program kerja 100 hari.
‘’Arahnya sudah tepat dalam meningkatkan produksi industri. Ada optimisme perbaikan kok ke depan,’’ ujar pemerhati ekonomi, Djimanto, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Misalnya saja, lanjutnya, peningkatan produksi pupuk di Petrokimia. Begitu juga di bidang lainnya, semuanya ada peningkatan.
‘’Jadi, kinerja Kemenperin sudah baguslah,” ujarnya.
Dikatakan, dari program tersebut diharapkan bisa menelorkan industri hilir.
“Dengan program tersebut akan mendapatkan proses industri yang lebih tinggi lagi,” tutur pengurus Apindo itu.
Namun sayang, lanjutnya, program revitalisasi pupuk tidak dibarengi dengan keberhasilan program revitalisasi gula.
‘’Itu yang perlu ditingkatkan,’’ ujarnya.
’’Berada Di Jalur Yang Sudah Pas’’
Natsir Mansyur, Ketua Apegti
Kemenperin dalam 112 hari ini sudah melakukan revitalisasi industri pupuk dan gula. Ini berarti sesuai dengan yang ditargetkan dalam program 100 hari.
’’Saya kira berada di jalur yang sudah pas. Sebab, dapat meningkatkan kapasitas produksi gula,’’ ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti), Natsir Mansyur, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Diungkapkan, program revitalisasi pabrik gula sudah tepat untuk jangka pendek, namun untuk jangka panjang harus dibuat pabrik gula agar bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Dikatakan, persoalan yang dihadapi perusahaan gula adalah masalah produksi, perdagangan dan distribusi.
’’Kemenperin tidak bisa berjalan sendiri, tapi harus bekerja sama dengan kementerian lain. Wilayahnya hanya pada produksi saja, sementara yang lainnya ada di bawah Kementerian Perdagangan,” paparnya.
Menurutnya, dalam pendistribusian dan perdagangan gula, pemerintah yang diwakili Kementerian Perdagangan dinilai tidak konsisten karena banyak mengeluarkan kebijakan kagetan yang bisa merusak industri gula.
“Jangan sampai Kemenperin berusaha menaikkan produksi gula, namun Kementerian Perdagangan malah membuka impor seluas-luasnya. Ini juga akan mengurangi investasi karena kebijakan sering kagetan,” tuturnya.
’’Hasilnya Lumayan Deh...’’
Mahfudz Abdurrahman, Anggota Komisi VI DPR
Kinerja Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dinilai sudah lumayan. Sebab, bisa melaksanakan 100 persen dari program kerja 100 harinya.
Hal itu disampaikan anggota Komisi VI DPR, Mahfudz Abdurrahman, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin
’’Porgram itu sudah dilaksanakan. Jadi, hasilnya lumayan deh,’’ katanya.
Menurut politisi PKS itu, program kerja Kemenperin dalam 100 hari adalah melakukan revitalisasi industri pupuk dan gula, serta meningkatkan kapasitasnya.
“Untuk meningkatkan kapasitas pupuk, Kemenperin harus melakukan memorandum of understanding (MoU) dengan Kementerian Pertanian,” ujarnya.
Mahfudz memprediksi program Kemenperin bakal mengalami sedikit gangguan. Ini dipengaruhi perjanjian perdagangan bebas Asean-China (CAFTA). “Itu CAFTA bakal mengancam industri lokal seperti usaha kecil menengah (UKM),” ucapnya.
Dikatakan, sebenarnya CAFTA membuka peluang terjadinya volume transaksi perdagangan, namun perindustrian dalam negeri belum mampu bersaing.
“Kemenperin dan Kementerian Perdagangan harus kerja sama untuk menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.
’’Untuk meningkatkan sektor industri, Kemenperin harus meningkatkan infrastruktur, dan mengurangi suku bunga serta mempermudah perizinan,’’ tambahnya. [RM]
Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|