|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 13/03/10, 00:46 PIALA DUNIA 2010 Albiceleste Ngebet Jinakkan Macan Asia |
|
Sabtu, 13/03/10, 00:18 PIALA DUNIA 2010 Kerlap-kerlip Bintang Di Stadion Soccer City |
|
Sabtu, 13/03/10, 00:02 Audit Korupsi BP Migas Kenapa Belum Keluar? |
|
Sabtu, 13/03/10, 00:00 Apa Mungkin Mega Takluk Rayuan Ketiga Taufik Kiemas |
|
Jumat, 12/03/10, 21:55 Gedung Putih: Obama Tunda Datang ke Indonesia! |
|
.jpg) |
|
|
|
|
|
KINERJA TIFATUL SEMBIRING Ngurusi RPP Penyadapan Nilainya Jeblok Jadi Enam
Senin, 08 Februari 2010, 00:01:14 WIB
Jakarta, RMOL. Menjajaki 111 Hari Kinerja Kemenkominfo
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) selama 111 hari ini lebih banyak mengurusi Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Penyadapan.
Padahal, RPP Penyadapan itu tidak menyentuh kepentingan masyarakat.
Bahkan bisa dibilang merugikan. Soalnya, menghambat pemberantasan korupsi yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Jika RPP ini disahkan, sejumlah pejabat yang terindikasi korupsi bakal sulit disadap. Sebab, untuk melakukan penyadapan memerlukan izin dari Ketua Pengadilan.
Seharusnya Kementerian yang dikomandoi Tifatul Sembiring itu konsentrasi membuat draf revisi terhadap Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menyebabkan munculnya kasus Prita Mulyasari dengan RS Omni Internasional.
Melihat hal itulah, kinerja 100 hari Kemenkominfo biasa-biasa saja. Tidak ada prestasi yang menonjol.
Begitu disampaikan pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas), Alfan Alfian kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
‘’Gara-gara ngurusi RPP Penyadapan nilainya jeblok jadi enam. Kalau RPP itu tidak digarap dan konsentrasi merevisi UU ITE, nilai Kemenkominfo selama 111 hari ini dapat tujuh,’’ ujarnya.
Menurut Direktur Akbar Tandjung Institute itu, kementerian ini terjebak dengan urusan politik. Misalnya, kasus pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, dan kasus Bank Century.
‘’Sedangkan tugas utamanya terbengkalai. Lebih parah lagi malah ngurusi RPP Penyadapan ketimbang membuat draf revisi UU ITE agar tidak terulang lagi kasus Prita. Kalau pasal itu direvisi, tentu rakyat akan mendukung,’’ paparnya.
‘’Lagipula RPP Penyadapan itu dinilai tidak populis karena akan mengkebiri KPK,’’ tambahnya.
Alfan berharap aar Kemenkominfo bisa menyerap aspirasi masyarakat, sehingga kebijakan yang dikeluarkan menguntungkan masyarakat.
‘’Dibutuhkan Dua Hingga Tiga Tahun’’
Tifatul Sembiring, Menkominfo
Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan, program prioritas pemerintah dalam 100 hari pertama masih sebatas tahap membangun pondasi ibarat membangun rumah. Semuanya tidak bisa diharapkan tercapai.
Tifatul mengklaim sudah 99 persen terpenuhi. Beberapa di antaranya adalah 25 ribu Desa Berdering, 100 Desa Pinter, dan kick-off pembangunan Palapa Ring di Indonesia bagian timur.
Menurut Tifatul, program 100 hari pertama baru membangun pondasinya. “Kemungkinan baru 99 persen. Angka ini lebih tinggi dari departemen lain yang rata-rata terpenuhi 95 persen. Wajar jika hasilnya belum terlihat di setiap departemen,” kata bekas Presiden PKS ini pada acara diskusi Evaluasi 100 Hari Kabinet, di Jakarta, belum lama ini.
Sekalipun begitu, Tifatul tak mau menyebutkan secara gamblang program mana yang masih belum terpenuhi. Namun, yakin programnya bisa dipenuhi dan dirasakan masyarakat.
“Untuk Desa Pinter, misalnya, ke depan tidak cuma 100 desa bisa jadi 1.000 desa pinter tahun depan,” katanya.
Dikatakan, program 100 hari pertama ini adalah komunikasi yang dibangun pemerintah meningkatkan kepercayaan masyarakat. Setelah satu tahun atau lebih akan tampak tiang-tiangnya.
“Dibutuhkan dua hingga tiga tahun untuk hasil kerja sesungguhnya dari program prioritas pemerintah. Ibarat membangun rumah, sudah terlihat mana pintu, dinding, dan atapnya,” kilahnya.
Evaluasi program 100 hari pertama pemerintah ini lebih mengingatkan menteri yang kinerjanya belum optimal agar lebih optimal.
Menkominfo optimis kinerja pemerintah ke depan bisa lebih baik yang ditandai pertumbuhan ekonomi lebih baik. Target pemerintah hingga tahun 2014 pertumbuhan ekonomi mencapai tujuh persen dan kemiskinan turun menjadi delapan persen.
‘’Publik Nggak Tahu Berarti Gagal Dong...’’
Jerry Sumampouw, Pengamat Sosial
Program 100 hari Kemenkominfo tidak tersosialisasi secara luas ke publik, sehingga tidak tahu apa berhasil atau tidak menjalankan program tersebut.
‘’Selama ini pemerintah selalu mengklaim program 100 hari tercapai 90 persen atau bahkan lebih. Apa saja 90 persen itu, publik nggak tahu,” kata pengamat sosial, Jerry Sumampouw, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
‘’Kalau publik nggak berarti gagal dong. Sebab, tugas utama kementerian ini menyampaikan program-program pemerintah kepada masyarakat,” tambahnya.
Disinggung kementerian ini melaksanakan program 25 ribu Desa Berdering, 100 Desa Pinter, pencanangan TIK lokal dan sekaligus pemantapan program IGOS, Jerry mengatakan, tak ada faktor yang mengejutkan dari semua program itu. Memang itulah yang mesti dilakukan Menkominfo pada awal kerjanya.
“Mestinya program 100 hari harus kongkrit dan punya efek kejut untuk memberi citra dan menunjukkan komitmen bahwa pemerintah serius bekerja untuk kesejahteraan rakyat,” katanya.
Dikatakan, harus secara nyata bisa diukur ketercapaiannya dalam program 100 hari. Kalau dimensi ini tak ada maka apa buat program 100 hari.
’’Belum Jelas Hasilnya’’
Deddy Jamaluddin Malik, Pengamat Komunikasi
Kinerja Kementerian Komunikasi dan Informatika selama 111 hari ini belum begitu jelas hasilnya.
Hal ini disampaikan pengamat komunikasi, Deddy Jamaluddin Malik, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
’’Belum jelas hasilnya. Selama ini langkah Menkominfo Tifatul Sembiring disorot gara-gara menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Penyadapan. Ini dianggap menghambat kerja KPK dalam upaya pemberantasan korupsi,’’ ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, ada kesan kementerian ini berupaya mengawasi media massa dan menghambat demokrasi. Padahal, demokrasi itu bukan untuk mengatur dan mengontrol masyarakat.
Menurutnya, Indonesia mulai mendekati kemajuan berdemokrasi yang tidak anarkis. “Kalau pelintiran simbol, itu sesuatu yang wajar. Di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropah, itu hal biasa,” katanya.
‘’Masih Banyak Pekerjaan Rumah’’
Roy Suryo, Pengamat Telekomunikasi
Pengamat telekomunikasi, Roy Suryo mengatakan, program desa berdering dan desa pakai internet (pinter) belum dilakukan secara menyeluruh.
‘’Dalam 100 hari pertama, Menkominfo Tifatul Sembiring banyak disibukkan permasalahan politik dan penggarapan RPP tentang Penyadapan yang menjadi sorotan publik,’’ ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurut anggota Komisi I DPR itu, ke depan Kemenkominfo lebih keras lagi bekerja untuk menyelesaikan semua programnya.
‘’Hampir semua kementerian mengalami kendala menuntaskan program 100 hari. Sebab, dipengaruhi isu kasus pimpinan KPK dan kasus Bank Century,’’ ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, Kemenkominfo juga mendapat sorotan terkait Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang menjerat Prita Mulyasari.
“Ini artinya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan ,” tandasnya.
‘’Sudah Cukup Baik’’
Ramadhan Pohan, Anggota Komisi I DPR
Menkominfo Tifatul Sembiring dalam program 100 hari sudah cukup baik meski kerjanya lebih disibukkan dengan RPP Penyadapan.
‘’Saya kira sudah cukup baik, tapi perlu ditingkatkan lagi,’’ ujar anggota Komisi I DPR, Ramadhan Pohan, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
“Menkominfo lebih sibuk dengan RPP yang banyak kontroversi, sehingga banyak pasal yang harus direvisi lagi. Padahal banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Dikatakan, kementerian ini punya program penyediaan layanan komunikasi untuk daerah-daerah perbatasan yang terisolir.
‘’Ini berarti ada upaya membuka jaringan telekomunikasi ke desa-desa. Itu kan merupakan hal-hal yang kongkrit,” tuturnya.
“Sebaiknya Menkominfo fokus kesitu dulu, ketimbang terlalu sibuk dengan RPP Penyadapan,” tambahnya.
‘’Seharusnya Berikan Solusi’’
Aulia Andri, Pengamat Komunikasi
Kementerian Komunikasi dan Informatika yang dikomandoi Tifatul Sembiring selama 111 hari ini belum ada langkah spektakuler.
“Seharusnya berikan solusi dalam permasalahan informasi dan lebih proaktif lagi melakukan informasi ke daerah-daerah,” ujar pengamat komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Aulia Andri, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, Kemenkominfo merupakan corong pemerintah untuk menyampaikan program-programnya ke masyarakat. Begitu juga sebaliknya, mengkomunikasikan harapan masyarakat kepada pemerintah.
‘’Adanya kasus Prita yang dijerat dengan pasal UU ITE tapi mendapat dukungan masyarakat, seharusnya direspon dengan merevisi UU itu. Tapi malah kementerian ini mau membuat RPP tentang Penyadapan,’’ paparnya.
“Seharusnya Kemenkominfo sejak awal mengadakan dialog-dialog dengan masyarakat,” tambahnya.
[RM]
Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|