Jakarta, RMOL. Susno Duadji mengaku dirinya sudah membaca tanda-tanda zaman menuju kejatuhannya setelah Presiden SBY membentuk Tim 8 yang dipimpin Adnan Buyung Nasution untuk mengusut kriminalisasi terhadap Bibit Samat Rianto dan Chandra M. Hamzah.
Di dalam dokumen testimoni setebal 12 halaman yang kini beredar, Susno mengatakan dirinya tidak hendak mengeluh. Apapun yang dituliskannya di dalam dokumen itu diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga untuk bhayangkara lainnya.
Di dalam sambungan testimoni Susno yang dikutip di sini tampak jelas betapa setelah tersingkir Susno mengritik dua pemimpinnya, yakni Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Presiden SBY. Berikut kutipannya.
Mimpi buruk ini sebenarnya sudah ada pertanda, yaitu sejak dibentuknya Tim Pencari Fakta tentang dugaan rekayasa kasus Chandra Hamzah dan Bibit Samat Rianto, pimpinan KPK non-aktif. Hari pertama Tim 8 bekerja, belum mengadakan pemeriksaan pada siapapun juga, telah mengeluarkan rekomendasi yang lebih tepat disebut dengan “pemaksaan” kepada Kapolri untuk: membebaskan CH dan BSR, menangkap Anggodo dan menonaktifkan SD.
Di antara tiga rekomendasi itu, ternyata Kapolri sangat sulit untuk melaksanakan rekomendasi menonaktifkan SD karena tidak ada alasan yang tepat untuk melakukan hal itu. Sebab Komjen SD tidak dilibatkan dalam penyidikan pimpinan KPK nonaktif CH dan BSR, sehingga bagaimana mungkin orang yang tidak dilibatkan harus memikul tanggung jawab penyidikan, karena penyidikan langsung di-handle oleh Kapolri dan melaporkan hasilnya kepada Presiden RI.
Bahwa terkait dengan isu/rumor yang dituduhkan kepada SD adalah: melontarkan istilah cicak-buaya, membantu mencairkan dana Budi Sampoerna di Bank Century dengan imbalan Rp 10 miliar, merekayasa kasus CH dan SBR, berbicara di TV tanpa izin Kapolri dan pemanggilan wartawan, isu ini akan dijelaskan pada Bab II.
Catatan ini bukanlah dimaksudkan sebagai keluhan. Namun dibuat sebagai share pengalaman untuk bhayangkara-bhayangkara yang lain sehingga mereka kelak akan menjadi bhayangkara sejati, pemimpin yang bijak dan bertanggung jawab serta berani, tidak mengorbankan bawahan untuk kelestarian jabatan dan apabila menjadi seorang bawahan akan menjadi bawahan yang setia, loyal, jujur, dan ikhlas. Bersambung [guh]