NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

100 HARI GAGAL
100 Hari Yang Tidak Efektif

Sabtu, 16 Januari 2010, 18:56:49 WIB

Laporan: Ari Purwanto

Jakarta, RMOL. Hasil kajian Econit Advasory Goup menyimpulkan bahwa program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II tidak efektif.

Demikian disampaikan pendiri Econit Advasory Group Rizal Ramli ketika dihubungi Rakyat Merdeka Online pada hari ini (Sabtu 16/1).

"Ketidakefektifan ini didasari oleh desain program 100 hari yang sangat lemah," ujar Rizal.

Menurut Rizal, parameter lemahnya adalah desain program yang tidak sistematis, padahal program 100 hari adalah referensi kuat dalam strategi dan kebijakan 5 tahun ke depan. Hal ini menyebabkan tidak ada benang merah, interelasi, dan keterkaitan antar program pada KIB II ini. Selain itu, program 100 hari juga dinilai sangat kualitatif sehingga sulit dievaluasi tingkat pencapaiannya.

"Lihat saja program 100 hari berbentuk kegiatan rutin departemen. Yang di-upload dan direspons hanya kegiatan administratif dan birokrasi. Tidak ada program prefential treatment," ujar Rizal. [fik]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat