HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 30/07/10, 19:29
Ade Rahardja: Kalau Dizalimi Harus Memaafkan
Jumat, 30/07/10, 19:26
Edward Bilang Polri Tak Mau Berikan Rekaman Ade Rahardja-Ari Muladi
Jumat, 30/07/10, 19:17
Nudirman Munir: Badan Kehormatan DPR Periode Ini Lebih Aktif dan Solid
Jumat, 30/07/10, 19:03
POLISI TABRAK LARI
Mabes Polri: Tabrak Lari karena Panik
Jumat, 30/07/10, 18:50
BOM TABUNG GAS
JK: Jangan Salahkan Konversinya
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Jusuf Kalla, Ogah Terjun Ke Politik Pemilu 2014 Lebih Penting Mengurusi Sosial
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Festival Indonesia 2010 Digelar Di Kota Plzen, Ceko
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

SEJARAH HARI INI
Kemerdekaan El Salvador dan Indonesia yang Dilanda Malapetaka

Jumat, 15 Januari 2010, 05:45:44 WIB


BEBERAPA peristiwa terjadi tanggal 15 Januari. Pada tanggal ini, El Salvador merdeka sementara di Indonesia terjadi demonstrasi anti modal asing.

El Salvador Merdeka

Tanggal 15 Januari 1839, setelah Federasi Amerika Tengah bubar, El Salvador memproklamasikan kemerdekaannya. El Salvador dihuni oleh bangsa Indian suku Pipil saat Spanyol datang ke kawasan ini pada abad ke-16.

Awalnya, suku Pipil melakukan perlawanan terhadap pasukan Spanyol, namun akhirnya kalah dan tersingkir. Bangsa Spanyol menjajah El Salvador hingga abad ke-19. Lepas dari Spanyol, El Salvador menjadi bagian dari Guatemala. Pada tahun 1821, El Salvador dan beberapa negara Amerika Tengah lainnya dikuasai oleh Meksiko. Pada tahun 1824, negara-negara Amerika Tengah melepaskan diri dari kekuasaan Meksiko dan membentuk Federasi Amerika Tengah. Federasi ini bubar pada tahun 1839 dan sejak itu El Salvador menjadi negara yang sepenuhnya merdeka.

Georg Simon Ohm Meninggal

Tanggal 15 Januari 1854, seorang matematikawan dan fisikawan terkenal asal Jerman, Georg Simon Ohm, meninggal dunia pada usia 67 tahun. Ohm dilahirkan pada tahun 1787 dan belajar matematika di University of Erlangen. Ohm meraih gelar doktor pada tahun 1811.

Ohm menemukan hukum dasar listrik yang menjadi dasar bagi lahirnya teorema-teorema listrik lainnya. Teori listrik yang ditemukan oleh Ohm itu disebut sebagai Hukum Ohm, yang menyatakan bahwa besar arus yang mengalir dalam rangkaian tertutup adalah berbanding lurus dengan besar tegangan yang terdapat pada jepit catu daya dan berbanding terbalik dengan besar resistensi yang dilewatinya.

Sayangnya, ketika Ohm mempublikasikan penemuannya pada tahun 1827, hal itu dilecehkan oleh teman-teman sekerjanya dan terpaksa harus mengundurkan diri sebagai guru sekolah menengah. Namun, pada tahun 1833 ia diangkat sebagai profesor di Nurenberg University.

Peristiwa Malari di Indonesia

Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, sedang berkunjung ke Jakarta 14 hingga 17 Januari 1974.

Sebelumnya, kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P Pronk, dijadikan momentum untuk demonstrasi menolak antimodal asing. Malari merupakan klimaks demonstrasi antimodal asing.

Dalam peristiwa Malari, Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi berada di balik peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tak terbukti ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Belakangan diketahui, dalam buku Hreu Cahyono, Pangkopkamtib Jendral Soemitro menyatakan bahwa kerusuhan sosial yang menyertai peristiwa Malari kemungkinan justru berada di bawah skenario Ali Moertopo sendiri. [yan]



Baca juga:


    Tidak ada komentar tentang berita ini.

    Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

     
     


    Sekjen Kemenkumham Diperiksa Pekan Depan
    Digaji Puluhan Juta, DPR Masih Suka Bolos Sidang