HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 30/07/10, 19:17
Nudirman Munir: Badan Kehormatan DPR Periode Ini Lebih Aktif dan Solid
Jumat, 30/07/10, 19:03
POLISI TABRAK LARI
Mabes Polri: Tabrak Lari karena Panik
Jumat, 30/07/10, 18:50
BOM TABUNG GAS
JK: Jangan Salahkan Konversinya
Jumat, 30/07/10, 18:26
Demokrat: Ibas Bolos karena Tugas Partai
Jumat, 30/07/10, 18:22
REKENING GENDUT POLRI
Polri Tantang Denny Indrayana
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Jusuf Kalla, Ogah Terjun Ke Politik Pemilu 2014 Lebih Penting Mengurusi Sosial
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Festival Indonesia 2010 Digelar Di Kota Plzen, Ceko
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

REFLEKSI 2009 PREDIKSI 2010
Demokrasi Macet, Pemerintah Dihinggapi Sindrom Orba

Minggu, 27 Desember 2009, 15:44:58 WIB

Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi

SELAIN gagal membangun pemerintahan yang bersih, pemerintahan SBY-Boediono dinilai mengidap sindrom Orde Baru serta lahir dari rahim Pemilu yang diduga penuh rekayasa.

Dalam acara “Refleksi 2009, Prediksi 2010” yang digelar di Rumah Perubahan, Jalan Panglima Polim, Jakarta (Minggu, 27/12), Komite Kebijakan Publik yang terdiri dari Adhie M Massardi, Abdulrachim Kresno, Rusmin Effendy, Octaniva Sari, Lalu Hilman Afriandi, dan Teguh Santosa memberi catatan atas pemerintahan SBY-Boediono.

Berikut sebagian pernyataan yang disampaikan Komite Kebijakan Publik:

Mengutip Thomas Carothers dalam The End of the Transition Paradigm (2002) menyebutkan, Indonesia sebagai negara yang tengah melakukan proses demokratisasi juga menghadapi kemacetan konsolidasi demokrasi atau sindrom zona kelabu demokrasi (syndrome of democratic grey zone).

Sindrom tersebut sesungguhnya terjadi karena gaya otoriter Orba masih dipraktikkan dengan cara membungkam kebebasan rakyat untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah yang sedang berkuasa, melakukan rekayasa dalam pemilu serta teror politik terhadap rakyat.

Tidaklah mengherankan bila banyak orang melihat Pemilu 2009 telah direkayasa sedemikian rupa untuk meraih kemenangan mayoritas. Bahkan pesta demokrasi (Pileg dan Pilpres) 2009 diciderai dengan berbagai rekayasa DPT (daftar pemilih tetap) dan masalah rekapitulasi suara. Sehingga menjadi Pemilu terburuk dalam sejarah politik nasional, dengan menghabiskan anggaran terbesar, sekitar Rp 25,8 triliun.

Pemerintah melalui KPU mengalokasikan anggaran Pemilu sebesar Rp 13,5 triliun (dengan distribusi Rp 4,5 triliun untuk pemilihan legislatif dan Rp 9 triliun untuk Pilpres). Sementara biaya kampanye keseluruhan partai politik diprediksi tidak kurang dari Rp 3 triliun, sehingga total dana Caleg, KPU dan partai politik untuk Pemilu 2009 mencapai lebih dari Rp 26 triliun. 

Angka tersebut belum termasuk biaya pengamanan Pemilu oleh Polri/TNI, penyiapan infrastruktur pendukung oleh BUMN/BUMD serta departemen/ instansi terkait maupun partisipasi swasta dan masyarakat. Jika semua pengeluaran dimaksud diakumulasikan, jumlahnya tak kurang dari Rp 30 triliun, bahkan ada pihak yang mengestimasikan sekitar Rp 40 triliun.

Persoalannya, Pemilu sebagai sarana demokrasi tak mampu berperan menciptakan jalan baru untuk kesejahteraan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Karena itu, dapat dipahami pesta demokrasi yang telah menghambur-hamburkan uang rakyat ini, hingga kini masih menyisakan persoalan. Salah satunya adalah indikasi korupsi dan penggelembungan suara pemilih yang dilakukan KPU belum juga diusut tuntas. Padahal, beberapa waktu lalu KPK sudah membidik dugaan korupsi yang terjadi di KPU.
 
Komisi Kebijakan Publik mendorong KPK untuk mengusut tuntas dugaan korupsi dan manipulasi yang terjadi di KPU, karena penyelenggaraan Pemilu 2009 adalah yang terburuk sepanjang sejarah. Termasuk dugaan penggelembungan suara yang memenangkan pasangan Capres tertentu saat Pilpres 2009. Sebab, bukan tidak mungkin melalui rekayasa DPT dan TI (teknologi informasi) KPU berpotensi terjadinya penggelembungan suara yang maha dahsyat.

Selain itu, Komisi Kebijakan Publik mendesak DPR untuk segera melakukan pergantian seluruh komisioner anggota KPU serta merevisi paket UU Politik demi terciptanya kualitas penyelenggara Pemilu yang lebih Jurdil dan bermartabat, memiliki akuntabilitas dan dapat dipercaya (Bersambung). [yan]



Baca juga:


Ada 1 komentar tentang berita ini :

KEBENARAN AKAN DIMUNCULKAN OLEH ALLAH DIHADAPAN RAKYAT INDONESIA
Minggu, 27 Desember 2009, 16:10:05 WIB
Komentator: sugianto
KEBENARAN AKAN DIMUNCULKAN OLEH ALLAH DIHADAPAN RAKYAT INDONESIA.

SEBELUM MENGHAKIMI SIAPA YANG PALING BENAR MAKA WAKTU CEPAT ATAU LAMBAT KEBENARAN AKAN DIUNGKAPKAN OLEH ALLAH BAGI RAKYAT INDONESIA.

SIAPA YANG BENAR PASTI DIBELA ALLAH, RAKYAT DIHARAPKAN NETRAL MELIHAT SIAPA YANG BENAR BERITA INI, JANGAN TERPROVOKASI PIHAK MANAPUN.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Sekjen Kemenkumham Diperiksa Pekan Depan
Digaji Puluhan Juta, DPR Masih Suka Bolos Sidang