HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

Oh Narkoba Merajalela, BNN Terpuruk 67
Rabu, 11 November 2009, 02:46:48 WIB


Jakarta, RMOL. Gawat, narkoba sudah merajalela sampai ke kampung-kampung. Sasarannya anak-anak sekolah.

Ini berati tugas Badan Narkotika Nasional (BNN) sangat berat untuk mencegah peredaran barang terlarang tersebut.

Apa lagi masih banyak generasi muda, terutama di perkampungan belum me­nge­­tahui dampak dari narkoba.  Inilah aki­bat minimnya penyuluhan yang dilakukan lembaga yang dikomandoi Kapolri Bambang Hendarso Danuri itu.

Barangkali melihat kinerja seperti itulah,  BNN hanya menempati ran­king 67 dari 74 in­stansi pe­me­rintah ha­sil pe­ni­laian Kementerian Negara Pen­da­ya­gu­naan Aparatur Negara (Kemenneg PAN).

 Penilaian kinerja ini berdasarkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang meliputi perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi kinerja, dan capaian kinerja. 

Penilaian pemerhati narkoba, peng­amat kebijakan publik, pemerhati hukum, dan anggota DPR juga tidak terlalu menggembirakan. Sebab, ke­gagalan­nya 8, sedangkan keberhasilannya 6, se­hingga tekor 2 (8 - 6 = 2)  

Anggota Komisi III DPR, Andi Azhar mengatakan, BNN harus tetap bekerja keras untuk memberantas peredaran narkoba di negeri ini.

Menurutnya, kasus narkoba di negeri ini ibaratnya bagaikan gunung es.

Walaupun terus di­berantas tetap sa­ja muncul. Untuk itu, lan­jutnya, BNN hen­­daknya fokus ke pen­ce­gahan saja. Ini  lebih efektif dari sekedar memberantas peredaran narkoba. “Caranya dengan melakukan penyu­luhan-penyuluhan kepada generasi muda,” katanya.

Dikatakan, untuk menghentikan pere­da­ran narkotika yang ada di Indonesia ha­rus dimulai dari generasi muda. Penyu­luhan sebagai salah satu solusi mem­ben­tuk kesadaran awal generasi muda agar tidak masuk ke lingkaran yang bisa membahayakan dirinya.

“Banyak hal metode penyuluhan yang bisa disinergiskan dengan generasi muda,” katanya.

BNN, kata dia, harus tetap bekerja sama dengan lembaga penegak hukum lainnya dalam rangka mensinergikan pencegahan narkotika di Indonesia.

“Untuk pemberantasan bisa kembali ke Kepolisian. BNN fokus memberikan tindakan preventif berupa penyuluhan-penyuluhan,” katanya.

’’Pengawasannya Nggak Maksimal Sih...’’

Denny Taloga, Pengamat Kebijakan Publik

Penyelundupan narkoba masih terjadi. Ini memperlihatkan BNN belum maksimal mencegah peredaran narkoba di negeri ini.

‘’Pengawasannya nggak maksimal sih, sehingga sampai sekarang peredaran narkoba semakin marak. Ini mem­per­lihatkan Indonesia sebagai ladang yang po­tensial untuk melakukan penjualan nar­koba,’’ ujar pengamat kebijakan pub­lik, Denny Taloga, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

 “Sekarang peredaran narkoba sudah masuk ke kampung-kampung,” katanya.

 Menurut pembina Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) ini, ke depan pemerintah harus mempunyai cara atau sistem untuk mengurangi dan mengawasi narkoba secara ketat dengan melibatkan warga masyarakat di perumahan.

 “Sekarang ini peredaran bukan hanya terjadi di tempat hiburan malam, namun juga ke pelosok daerah,” tambahnya.

Dia menyarankan, agar BNN me­ning­katkan koordinasi dengan aparat penegak hu­kum untuk melakukan operasi dan ra­zia secara rutin, dan memusnahkan se­mua barang bukti yang tertangkap agar tidak disalahgunakan.

“ Jangan sampai barang bukti itu dijual kembali. Ini bisa saja dilakukan oknum-oknum, makanya perlu dimusnahkan,’’ ujarnya.

“BNN jangan hanya menargetkan pemakai dan pengedar kelas kecil saja, namun pengedar dan produsen kakapnya juga harus ditangkap,” tambahnya.

 Ke depan, lanjutnya, BNN harus meningkatkan pengawasannya. Misalnya di lembaga permasyarakatan yang sampai sekarang masih dijadikan tempat pere­daran narkoba.

 “Dalam bidang penyuluhan dan sosialisasi juga belum bisa dirasakan oleh semua kalangan masyarakat terutama kelas bawah. Pasalnya sampai sekarang masih ada yang belum mengetahui bahaya zat adiktif yang terkandung di dalam narkotika itu,” tukasnya

 BNN, lanjutnya, belum maksimal dalam mengambil peran untuk melaku­kan rehabilitasi para pecandu narkoba. Se­bab peran itu sekarang banyak diambil pihak swasta.

‘’Sudah Banyak Prestasi Ditorehkan’’
Sumirat Dwiyanto, Kabag Humas Ro Um Set Lakhar BNN

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Biro Umum Sekre­ta­riat Pelaksanaan Harian (Ka­bag Ro Um Set Lakhar) BNN, Su­mirat Dwiyanto mengatakan, pe­ngawasan terhadap peredaran nar­koba tentu agak sulit. Sebab, luas geografis begitu luas, tapi  Sum­ber Daya Manusia (SDM) sangat terbatas.

“Kesulitan lain adalah men­cari narkoba itu seperti mencari ja­rum di tumpukan jerami,  se­hingga kita harus memilah-milah,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka,  di kantor BNN, Jakarta, kemarin.

Dikatakan, masuknya narko­ba dari luar negeri akibat ba­nyak­nya pelabuhan tidak resmi, se­hingga sulit dilakukan penga­wasan. Ini juga salah satu kendala.

‘’Pelabuhan resmi sangat ter­batas, tapi pelabuhan tidak res­mi tidak terbatas. Jadi, penga­wa­san pelabuhan yang harus diting­katkan,’’ ucapnya.

Sedangkan, lanjutnya, kalau pe­ngiriman narkoba lewat jasa pe­ngiriman bisa berhasil dibongkar.

Menurutnya, meski mengaku ke­sulitan dalam masalah teknis, namun BNN sudah menoreh pres­tasi dalam pengungkapan-peng­ung­kapan jaringan sindikat narkoba.

“Sudah banyak prestasi ditorehkan. Pada Januari-Juli 2009 berhasil mengungkap pabrik ekstasi dan shabu dengan 17 pabrik di seluruh Indonesia. Ini tentunya berkat kerja sama dengan kawan-kawan Mabes Polri dan Polda,” tuturnya.

’’Pencegahannya Gagal Total Deh...’’
Supriansa, Pemerhati Narkoba

BNN tidak berhasil melakukan pencegahan peredaran narkoba di dalam negeri, sehingga masih saja banyak pemakainya.

Hal ini dikatakan pemerhati narkoba, Supriansa, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, hingga kini masih banyak ditemukan ru­mah-rumah yang dijadikan sebagai pabrik narkoba dengan omset miliaran rupiah.

“Ini memperlihatkan penga­wa­san dan koordinasi dengan aparat penegak hukum masih lemah. Bisa dikatakan pence­ga­hannya gagal total deh,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Monitoring Center (IMC) itu.

 Menurut Ketua Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Makassar ini, sekarang narkoba tidak ha­nya menyerang kota-kota besar sa­ja, namun juga sampai ke daerah. Misal­nya belum lama ini di Makassar ditemukan 4.000 ekstasi yang siap edar. “Ini kan memperlihatkan peng­awa­san dari darat, laut, dan udara­nya masih lemah,” tam­bahnya.

Melihat hal itu, lanjutnya, BNN harus meningkatkan ki­nerjanya lagi, terutama pen­cegahan dan pengawasan pere­daran narkoba, dan penindakan home industri narkoba yang sekarang mulai mewabah.

 “BNN juga masih lemah da­lam melakukan sosialisasi bahaya narkoba. Sebab, selama ini hanya terfokus di kota-kota besar saja. Jadi, wajar bila prestasinya terpuruk,” ucapnya.

‘’Peredaran Narkoba Masih Marak Kok...’’
Bambang Widodo Umar, Guru Besar Fakultas Hukum UI

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Bam­bang Widodo Umar me­nga­­takan, untuk mengukur ber­hasil atau tidaknya BNN bisa dilihat dari peredaran narkoba.

 “Kalau saya lihat peredaran narkoba masih marak kok. Itu artinya belum optimal,” katanya ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Dikatakan, BNN hendaknya terus melakukan koordinasi yang intensif dengan pihak-pi­hak terkait.

“Bea Cukai dan Imigrasi merupakan salah satu depar­te­men yang harus bersinergi dengan BNN dalam menghalau masuknya narkoba dari negara lain,” katanya.

Menurutnya, perlu dilakukan kerja sama dengan lintas sekto­ral yang punya policy. Misal­nya, BPOM dalam rangka pe­nga­wasan obat-obatan, De­par­temen Per­industrian untuk peri­zinan supaya tidak dise­leweng­kan jadi pabrik ekstasi, Dep­dik­nas, Depkes, Depkumham, dan lainnya.

’’Tindak Oknum Yang Nakal’’
Ruhut Sitompul, Anggota Komisi III DPR

BNN dalam memerangi pereda­ran narkoba dinilai sudah ber­ha­sil, namun tetap masih perlu ditingkatkan lagi.

 “Apa lagi sumber daya ma­nusia BNN sudah sangat baik, se­hingga yang dibutuhkan ada­lah semangat meningkatkan ki­nerjanya,” kata anggota Komisi III DPR, Ruhut Sitompul, ke­pada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, BNN harus me­ningkatkan pencegahan dan pengawasan terhadap peredaran nar­koba. Sebab, agenda Pre­siden SBY selain memberantas ko­rupsi dan teroris, juga mem­berantas narkoba.

 “Sekarang para bandar sudah semakin pintar memasukkan narkoba ke Indonesia,” katanya.

Pihaknya akan konsen men­du­kung BNN dalam mela­kukan pemberantasan narkoba. Salah satunya adalah dengan men­du­kung pemberian hukuman mati kepada pengedar narkoba.

“Narkoba merusak sendi bangsa dan generasi muda. Apa lagi peredarannya sudah sampai ke kampung-kampung di pelo­sok negeri seperti Papua,” tuturnya.

 Dalam kesempatan ini, Ru­hut mengatakan, masih dite­mu­kan adanya  oknum yang me­nyalah­gunakan kewe­nangan­nya dengan menjual narkoba hasil sitaan.



[]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat