|
 |
|
|
 |
|
Minggu, 14/03/10, 15:35 Ruhut: Soal Hukum, Bambang Jangan Berkicau |
|
Minggu, 14/03/10, 14:53 Mendingan Muhammadiyah Keluarkan Fatwa Korupsi Haram |
|
Minggu, 14/03/10, 14:21 GEGER PAMULANG Rumah Mantri Fauzi Lengang |
|
Minggu, 14/03/10, 14:11 FATWA ROKOK HARAM Muhammadiyah Bantah Bantuan dari Bloomberg Initiative untuk Bikin Fatwa |
|
Minggu, 14/03/10, 13:23 Rokok Haram, Hanya Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah |
|
.jpg) |
|
|
|
|
|
Oh Narkoba Merajalela, BNN Terpuruk 67
Rabu, 11 November 2009, 02:46:48 WIB
Jakarta, RMOL. Gawat, narkoba sudah merajalela sampai ke kampung-kampung. Sasarannya anak-anak sekolah.
Ini berati tugas Badan Narkotika Nasional (BNN) sangat berat untuk mencegah peredaran barang terlarang tersebut.
Apa lagi masih banyak generasi muda, terutama di perkampungan belum mengetahui dampak dari narkoba. Inilah akibat minimnya penyuluhan yang dilakukan lembaga yang dikomandoi Kapolri Bambang Hendarso Danuri itu.
Barangkali melihat kinerja seperti itulah, BNN hanya menempati ranking 67 dari 74 instansi pemerintah hasil penilaian Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemenneg PAN).
Penilaian kinerja ini berdasarkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang meliputi perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi kinerja, dan capaian kinerja.
Penilaian pemerhati narkoba, pengamat kebijakan publik, pemerhati hukum, dan anggota DPR juga tidak terlalu menggembirakan. Sebab, kegagalannya 8, sedangkan keberhasilannya 6, sehingga tekor 2 (8 - 6 = 2)
Anggota Komisi III DPR, Andi Azhar mengatakan, BNN harus tetap bekerja keras untuk memberantas peredaran narkoba di negeri ini.
Menurutnya, kasus narkoba di negeri ini ibaratnya bagaikan gunung es.
Walaupun terus diberantas tetap saja muncul. Untuk itu, lanjutnya, BNN hendaknya fokus ke pencegahan saja. Ini lebih efektif dari sekedar memberantas peredaran narkoba. “Caranya dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada generasi muda,” katanya.
Dikatakan, untuk menghentikan peredaran narkotika yang ada di Indonesia harus dimulai dari generasi muda. Penyuluhan sebagai salah satu solusi membentuk kesadaran awal generasi muda agar tidak masuk ke lingkaran yang bisa membahayakan dirinya.
“Banyak hal metode penyuluhan yang bisa disinergiskan dengan generasi muda,” katanya.
BNN, kata dia, harus tetap bekerja sama dengan lembaga penegak hukum lainnya dalam rangka mensinergikan pencegahan narkotika di Indonesia.
“Untuk pemberantasan bisa kembali ke Kepolisian. BNN fokus memberikan tindakan preventif berupa penyuluhan-penyuluhan,” katanya.
’’Pengawasannya Nggak Maksimal Sih...’’
Denny Taloga, Pengamat Kebijakan Publik
Penyelundupan narkoba masih terjadi. Ini memperlihatkan BNN belum maksimal mencegah peredaran narkoba di negeri ini.
‘’Pengawasannya nggak maksimal sih, sehingga sampai sekarang peredaran narkoba semakin marak. Ini memperlihatkan Indonesia sebagai ladang yang potensial untuk melakukan penjualan narkoba,’’ ujar pengamat kebijakan publik, Denny Taloga, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
“Sekarang peredaran narkoba sudah masuk ke kampung-kampung,” katanya.
Menurut pembina Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) ini, ke depan pemerintah harus mempunyai cara atau sistem untuk mengurangi dan mengawasi narkoba secara ketat dengan melibatkan warga masyarakat di perumahan.
“Sekarang ini peredaran bukan hanya terjadi di tempat hiburan malam, namun juga ke pelosok daerah,” tambahnya.
Dia menyarankan, agar BNN meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum untuk melakukan operasi dan razia secara rutin, dan memusnahkan semua barang bukti yang tertangkap agar tidak disalahgunakan.
“ Jangan sampai barang bukti itu dijual kembali. Ini bisa saja dilakukan oknum-oknum, makanya perlu dimusnahkan,’’ ujarnya.
“BNN jangan hanya menargetkan pemakai dan pengedar kelas kecil saja, namun pengedar dan produsen kakapnya juga harus ditangkap,” tambahnya.
Ke depan, lanjutnya, BNN harus meningkatkan pengawasannya. Misalnya di lembaga permasyarakatan yang sampai sekarang masih dijadikan tempat peredaran narkoba.
“Dalam bidang penyuluhan dan sosialisasi juga belum bisa dirasakan oleh semua kalangan masyarakat terutama kelas bawah. Pasalnya sampai sekarang masih ada yang belum mengetahui bahaya zat adiktif yang terkandung di dalam narkotika itu,” tukasnya
BNN, lanjutnya, belum maksimal dalam mengambil peran untuk melakukan rehabilitasi para pecandu narkoba. Sebab peran itu sekarang banyak diambil pihak swasta.
‘’Sudah Banyak Prestasi Ditorehkan’’
Sumirat Dwiyanto, Kabag Humas Ro Um Set Lakhar BNN
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Biro Umum Sekretariat Pelaksanaan Harian (Kabag Ro Um Set Lakhar) BNN, Sumirat Dwiyanto mengatakan, pengawasan terhadap peredaran narkoba tentu agak sulit. Sebab, luas geografis begitu luas, tapi Sumber Daya Manusia (SDM) sangat terbatas.
“Kesulitan lain adalah mencari narkoba itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami, sehingga kita harus memilah-milah,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di kantor BNN, Jakarta, kemarin.
Dikatakan, masuknya narkoba dari luar negeri akibat banyaknya pelabuhan tidak resmi, sehingga sulit dilakukan pengawasan. Ini juga salah satu kendala.
‘’Pelabuhan resmi sangat terbatas, tapi pelabuhan tidak resmi tidak terbatas. Jadi, pengawasan pelabuhan yang harus ditingkatkan,’’ ucapnya.
Sedangkan, lanjutnya, kalau pengiriman narkoba lewat jasa pengiriman bisa berhasil dibongkar.
Menurutnya, meski mengaku kesulitan dalam masalah teknis, namun BNN sudah menoreh prestasi dalam pengungkapan-pengungkapan jaringan sindikat narkoba.
“Sudah banyak prestasi ditorehkan. Pada Januari-Juli 2009 berhasil mengungkap pabrik ekstasi dan shabu dengan 17 pabrik di seluruh Indonesia. Ini tentunya berkat kerja sama dengan kawan-kawan Mabes Polri dan Polda,” tuturnya.
’’Pencegahannya Gagal Total Deh...’’
Supriansa, Pemerhati Narkoba
BNN tidak berhasil melakukan pencegahan peredaran narkoba di dalam negeri, sehingga masih saja banyak pemakainya.
Hal ini dikatakan pemerhati narkoba, Supriansa, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Dikatakan, hingga kini masih banyak ditemukan rumah-rumah yang dijadikan sebagai pabrik narkoba dengan omset miliaran rupiah.
“Ini memperlihatkan pengawasan dan koordinasi dengan aparat penegak hukum masih lemah. Bisa dikatakan pencegahannya gagal total deh,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Monitoring Center (IMC) itu.
Menurut Ketua Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Makassar ini, sekarang narkoba tidak hanya menyerang kota-kota besar saja, namun juga sampai ke daerah. Misalnya belum lama ini di Makassar ditemukan 4.000 ekstasi yang siap edar. “Ini kan memperlihatkan pengawasan dari darat, laut, dan udaranya masih lemah,” tambahnya.
Melihat hal itu, lanjutnya, BNN harus meningkatkan kinerjanya lagi, terutama pencegahan dan pengawasan peredaran narkoba, dan penindakan home industri narkoba yang sekarang mulai mewabah.
“BNN juga masih lemah dalam melakukan sosialisasi bahaya narkoba. Sebab, selama ini hanya terfokus di kota-kota besar saja. Jadi, wajar bila prestasinya terpuruk,” ucapnya.
‘’Peredaran Narkoba Masih Marak Kok...’’
Bambang Widodo Umar, Guru Besar Fakultas Hukum UI
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Bambang Widodo Umar mengatakan, untuk mengukur berhasil atau tidaknya BNN bisa dilihat dari peredaran narkoba.
“Kalau saya lihat peredaran narkoba masih marak kok. Itu artinya belum optimal,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Dikatakan, BNN hendaknya terus melakukan koordinasi yang intensif dengan pihak-pihak terkait.
“Bea Cukai dan Imigrasi merupakan salah satu departemen yang harus bersinergi dengan BNN dalam menghalau masuknya narkoba dari negara lain,” katanya.
Menurutnya, perlu dilakukan kerja sama dengan lintas sektoral yang punya policy. Misalnya, BPOM dalam rangka pengawasan obat-obatan, Departemen Perindustrian untuk perizinan supaya tidak diselewengkan jadi pabrik ekstasi, Depdiknas, Depkes, Depkumham, dan lainnya.
’’Tindak Oknum Yang Nakal’’
Ruhut Sitompul, Anggota Komisi III DPR
BNN dalam memerangi peredaran narkoba dinilai sudah berhasil, namun tetap masih perlu ditingkatkan lagi.
“Apa lagi sumber daya manusia BNN sudah sangat baik, sehingga yang dibutuhkan adalah semangat meningkatkan kinerjanya,” kata anggota Komisi III DPR, Ruhut Sitompul, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, BNN harus meningkatkan pencegahan dan pengawasan terhadap peredaran narkoba. Sebab, agenda Presiden SBY selain memberantas korupsi dan teroris, juga memberantas narkoba.
“Sekarang para bandar sudah semakin pintar memasukkan narkoba ke Indonesia,” katanya.
Pihaknya akan konsen mendukung BNN dalam melakukan pemberantasan narkoba. Salah satunya adalah dengan mendukung pemberian hukuman mati kepada pengedar narkoba.
“Narkoba merusak sendi bangsa dan generasi muda. Apa lagi peredarannya sudah sampai ke kampung-kampung di pelosok negeri seperti Papua,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Ruhut mengatakan, masih ditemukan adanya oknum yang menyalahgunakan kewenangannya dengan menjual narkoba hasil sitaan.
[]
Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|