|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 31/07/10, 21:31 AKSI PONG Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:46 Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:35 Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:24 BOM TABUNG GAS Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:23 AKSI PONG Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan |
|
 |
|
|
|
|
|
Taufik Kiemas Disaranin 11 Strategi Jitu
Sabtu, 07 November 2009, 01:19:52 WIB
Jakarta, RMOL. Salah Satunya Belajar Membaca
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufik Kiemas disaranin 11 strategi jitu untuk meningkatkan kinerjanya.
Jangan sampai pimpinan MPR itu hanya punya andil dalam sidang lima tahununan saat pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, tapi juga bisa berkarya demi bangsa, negara, dan rakyat.
Salah satu yang disaranin, belajar membaca secara baik dan benar, sehingga jangan terulang lagi kesalahan menyebut nama pejabat dan bekas pejabat saat acara-acara penting.
Seperti diketahui, dalam Sidang Paripurna pelantikan Presiden dan Wakil Presiden di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/10), Taufik Kiemas berkali-kali salah membaca naskah acara sidang. Berulang kali salah sebut gelar dan nama. Misalnya salah menyebut nama Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla dan Baharuddin Jusuf Habibie.
Dari 11 saran itu memang sebagian diperuntukkan bagi Setjen MPR, tapi Ketua MPR tetap berperan agar Setjen MPR bisa bekerja secara maksimal.
Saran itu penting dilakukan demi perbaikan kinerja ke depan. Sebab, Berdasarkan penilaian pengamat politik, LSM, dan pimpinan Fraksi MPR, bahwa ada 5 kegagalan MPR. Sedangkan keberhasilan 4. Jadi, tekor 1 (6 kegagalan – 4 keberhasilan = 1).
Penilaian Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemenneg PAN) juga tidak terlalu menggembirakan. Sebab, Setjen MPR hanya mendapat ranking 47 dari 74 instansi pemerintah.
Penilaian kinerja ini berdasarkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) yang meliputi perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, pelaporan kinerja, evaluasi kinerja, dan capaian kinerja.
Menurut Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3I) Tom Pasaribu, Taufik Kiemas diminta menjalankan saran-saran tersebut, demi perbaikan kinerja MPR.
‘’Pak Taufik Kiemas perlu membaca secara baik dan benar, sehingga jangan sampai ada lagi kesalahan menyebut nama dan jabatan orang saat acara penting,’’ ujar Tom Pasaribu kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
“Kesalahan itu tidak terlepas dari kinerja Setjen MPR juga. Sebab tugas mereka memang mempunyai tanggung jawab dalam mempersiapkan jalannya persidangan,” ucapnya.
Dikatakan, kinerja Setjen MPR belum maksimal menjalankan tugasnya dalam mendukung kinerja pimpinan dan anggota MPR.
Menurutnya, setjen MPR juga sangat tertutup dan tidak transparan, sehingga publik susah untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan dan yang sudah dilakukan.
Selain itu, lanjutnya, Setjen MPR juga masih lemah dalam melakukan sosialisasi hasil amandemen UUD 1945.
“Padahal anggaran untuk sosialisasi Setjen MPR tergolong besar, namun hasil kerjanya belum bisa terlihat,” ujarnya.
‘’Apa Saja Sih Kerjanya’’
Sulastio, Direktur IPC
Direktur Indonesia Parliamentary Center (IPC), Sulastio menilai, kinerja Setjen MPR belum maksimal. Pasalnya, perannya sebagai supporting system anggota MPR tidak begitu terasakan.
“Apa saja sih kerjanya selain menyiapkan sidang umum. Selama ini yang kelihatan hanya sosialisasi UUD dan lomba cerdas-cermat saja,” ungkapnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurut Sulastio, sebenarnya keberadaan setjen MPR itu tidak perlukan. Sebab, sudah ada setjen DPR dan DPD yang bisa diperbantukan untuk membantu kerja-kerja majelis.
“Saya menyarankan agar setjen MPR dijadikan lembaga ad hoc saja, tidak permanen seperti sekarang ini. Karena MPR itu sekarang tidak banyak tugasnya. Kan bisa memberdayakan staf di setjen DPR dan DPD,” tandasnya.
‘’Semangatnya Perlu Ditingkatkan’’
Ardyan Saptawan, Pengamat Politik
Kinerja Setjen MPR dinilai belum maksimal. Sebab, tugas MPR yang minim membuat fungsi dan peranan kesekjenan tidak begitu kelihatan.
“Selama ini fungsi dan peran Setjen MPR memang tidak terlalu mendesak. Hal itu berkaitan dengan tugas MPR yang tidak padat seperti DPR atau DPD,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Selain itu, kata Ardyan, staf Setjen MPR juga terlihat masih belum bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan terkesan sering tumpang tindih. Karenanya, dia berharap agar kualitas aparat sekretariat bisa ditingkatkan.
“Semangatnya perlu ditingkatkan. Saat ini kondisi mereka telah menjadi titik lemah kinerja parlemen. Padahal, seharusnya Setjen MPR tersebut tidak hanya menjadi staf administrasi, melainkan menjadi pendukung kerja anggota parlemen secara fungsional,” pungkasnya.
‘’Nggak Ada Yang Menonjol’’
Sugiyanto, Pemerhati Parlemen
Setjen MPR dinilai belum berhasil dalam menjalankan tugasnya untuk melayani dan memenuhi segala keperluan dan kegiatan anggota MPR.
Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis), Sugiyanto, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, selama ini Setjen MPR belum maksimal dalam memenuhi alat kelengkapan anggota MPR. Misalnya ruangan kerja fraksi-fraksi masih belum memadai.
“Kesannya Setjen MPR itu tidak ada kerjanya selain mengatur sidang saja,” ujarnya.
Diharapkannya, Setjen MPR ke depan harus bisa lebih transparan dalam melakukan sosialisasi Undang-undang serta meningkatkan sarana dan prasarana yang mendukung MPR.
“Selama lima tahun ini nggak ada hasilnya deh yang menonjol. Sebab, kerjanya juga minim setelah diamandemen UUD 1945. Kalau dulu, MPR itu banyak kerjanya,” katanya.
‘’Sekarang ini MPR hanya menjadi lembaga untuk bagi-bagi posisi kekuasaan politik saja. Hal ini bisa dilihat dari bertambahnya jumlah wakil ketua MPR,’’ paparnya.
Ke depan, tambahnya, Ketua MPR sebaiknya dijabat Ketua DPR juga, agar lebih berbobot dan meminimalisir anggaran.
‘’Nggak Ada Hasil Spektakuler Tuh...’’
Sebastian Salang, Pengamat Politik
Kewenganan MPR sekarang ini sangat terbatas, hanya melakukan sidang lima tahunan pelantikan Presiden dan Wapres, sosialisasi amandemen UUD 1945, dan menerima tamu.
“Nggak ada hasil spektakuler tuh seperti MPR sebelumnya,” kata pengamat politik dari’Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi),’ Sebastian Salang, kepada’Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, pergantian Ketua MPR dari Hidayat Nur Wahid ke Taufik Kiemas tidak akan memperbaiki situasi yang ada. Sebab, garisnya hanya melanjutkan kebijakan yang sama.
“Tidak akan ada yang beda, justru bisa lebih mundur,” katanya.
Ke depan, kata dia, MPR sebaiknya hanya joint session seperti di Amerika Serikat yang terdiri dari senat dan kongres. Kalau di sini, terdiri dari DPD dan DPR.
“MPR ada saat dibutuhkan saja. Kemudian pimpinannya dari DPD dan DPR,” katanya.
‘’Belum Bisa Memenuhi Kebutuhan Ruangan’’
Irgan Chairul Mahfiz, Ketua Fraksi PPP MPR
Ketua Fraksi PPP MPR, Irgan Chairul Mahfiz mengatakan, kinerja Setjen MPR dalam memenuhi sarana dan prasarana pendukung kegiatan majelis masih minim.
“Sampai sekarang Setjen MPR belum bisa memenuhi kebutuhan dan perbaikan ruangan fraksi di MPR. Sebab ruangan yang ada sangat kecil,” katanya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.
Meski demikian, lanjutnya, Setjen DPR sudah berhasil dalam membantu anggota dan pimpinan MPR menjalankan tugasnya dengan mempersiapkan dan menyelenggarakan rapat paripurna pelantikan Presiden dan Wapres lalu.
“Biarpun masih banyak kekurangan, namun itu perlu diapresiasi,” tandasnya.
[]
Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|