HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

KRISIS KPK
Negeri Para Bedebah

Senin, 02 November 2009, 10:38:25 WIB


Jakarta, RMOL. Ungkapan kecewa, marah, dan gugatan tidak harus selalu dilantunkan lewat gerakan aksi massa di lapangan, tapi juga melalui syair.

Kondisi bangsa yang memprihatinkan, perang terbuka antara “Cicak dengan Buaya”, panggung hukum yang tak mementaskan keadilan, tercermin dalam puisi karya aktivis demokrasi Adhie Massardi yang dikirimkan lewat pesan pendek.

Berikut mantan jurubicara Presiden Abdurrachman Wahid itu menulis.

Negeri Para Bedebah

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan



Baca juga:


Ada 8 komentar tentang berita ini :

Revolusi
Kamis, 22 April 2010, 21:22:15 WIB
Komentator: afriani
Jgn lah sampai terjadi Revolusi mas, itu hanya akan memperparah keadaan, ada baik nya jikalau kita patungan semua untuk menyewa SNIPER, so kita suruh DOR aja tuh parai mafia peradilan dan antek2 nya biar mampuss.,,.,.


Mampus lho mampus ANJING.,,

Kita bedebah !!!
Senin, 09 November 2009, 09:20:53 WIB
Komentator: abdul aziz
Laki2 adalah pemimpin di rumah tangga. Berarti kita bedebah pula, dong ! Bedebahlah pembuat puisi !!!

Wakakakaka..
Sabtu, 07 November 2009, 08:40:50 WIB
Komentator: wonglanang
Yang para komentar dibawah juga bagian dari 'para bedebah'

Wakakaka..

Klu gitu si adhi bikin negara sendiri aja di ujung neraka jahanam..

Wakakakaka..

K alau perlu jadi Tuhannya para bedebah..

ssst
Kamis, 05 November 2009, 17:23:39 WIB
Komentator: kentsfield
sebaiknya sante dulu bro.. ngarang puisi ini kayaknya ga bermaksud mengkata Indonesia, cuma cirinya agak mirip dikit... ga banyak enggak, kan ga sebut negeri pencipta batik negeri belasan ribu pulau negeri blablabla hehe... itu sih kata gw...

Bedebah dan revolusi he..he..he...
Kamis, 05 November 2009, 11:45:24 WIB
Komentator: cogito
Bahasanya terlalu kasar dan kurang menyentuh.

Kalo pemimpin kita yang sudah kita pilih dan menang mutlak secara demokratis dikatakan bedebah, yaa...ndak pas.

Itu penilaian subyektip saya. Menilai karya seni nggak bisa obyektif...kan masalah selera he..he..he...

Momenya juga kurang pas. Gara2 mbela Bibit dan Chandra yang belum tentu benar saja kok pakek bedebah2an dan revolusi.

Beda dengan sajak Rendra waktu nurunin Mbah Harto. Lugas dan tidak kasar, namun kuat dimakna.

Karena kami makan akar
Dan terigu menumpuk digudangmu
Maka kita bukan sekutu

Ah. Mas Abdul Aziz
Senin, 02 November 2009, 19:22:39 WIB
Komentator: kentsfield
bagaimana anda bisa menyimpulkan negeri ini sedang mengedepankan hukum. Padahal anda sendiri saya yakin belum pernah mengalami urusan hukum seperti CH dan BSR. Bagaimana anda bisa berbicara demokrasi sementara anda sendiri sepertinya belum pernah turun ke jalan memperjuangkan demokrasi, dan kepala anda terframing oleh pemberitaan media media yang telah terkooptasi? warga negara/ rakyat yang mana yang ada bilang peduli hukum dan keadilan ?

ciri2nya pas
Senin, 02 November 2009, 12:24:25 WIB
Komentator: che
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

ini cukup menjelaskan

Ah. Mas Adhi...
Senin, 02 November 2009, 10:43:18 WIB
Komentator: abdul aziz
Ah, mas Adhi ini terlalu miring dan jauh penilaian pada negeri kita. Padahal kan semua sedang menegakkan demokrasi dan mengedepankan hukum. Puisi ini belum saatnya tampil, karena masih banyak warga bangsa yg peduli sama hukum dan keadilan.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat