NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

PUASA POLITIK
Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu

Selasa, 25 Agustus 2009, 12:21:16 WIB

Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi

Jakarta, RMOL. Meraih gelar doktor bidang ekonomi dari Universitas Queensland, Australia, tak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar. Prinsipnya, long life education atau dalam bahasa hadits Nabi Muhammad SAW tholab al-ilmi mina al-mahdi ila al-lahdi, terus mencari ilmu dari buaian hingga berakhir kehidupan. Kini, sang ekonom ini sedang belajar membaca dan memahami tulisan Arab gundul.

“Membaca tulisan Arab gundul adalah cita-cita yang belum kesampaian. Sekarang kalau baca kitab yang tidak gundul, saya menggunakan kamus Arab-Inggris untuk mencari maknanya,” katanya.

Itulah Drajad Hari Wibowo. Politisi kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 20 Mei 1964 ini, dikagumi oleh sesama kawan di Partai Amanat Nasional (PAN) dan disegani para politisi lintas partai. Kepada Rakyat Merdeka Online, Drajad mengaku bahwa hidupnya terinspirasi oleh Amien Rais dan Ridwan.

Amien Rais, dalam pandangan Wakil Ketua Fraksi PAN DPR RI ini adalah seorang intelektual-aktivis-ulama dalam pribadi yang satu. Drajad terpukau dengan kedalaman ilmu dan kepedulian Amien terhadap nasib bangsa. Drajad memperhatikan, dalam sehari, Amien bisa melahap tiga buku yang diterbitkan di Barat maupun yang lahir dari khazanah keilmuan Islam di Timur.

Selain Amien, ada nama Ridwan. Bukan tokoh populer yang bolak-balik merambah lalu lintas komunikasi elit negeri. Sosoknya tak pernah diliput media. Ridwan, adalah seorang guru ngaji di mesjid Muhammadiyah di salah satu sudut kota Surabaya. Namun dari Ridwan, Drajad mereguk ilmu agama ketika masih kecil. Selain kedua orang tuanya, Ridwan yang mengajarkan nilai-nilai agama pada Drajad.

Sejak kecil, Drajad sudah belajar agama secara non-formal di mesjid Muhammadiyah. Dari binaan keluarga dan didikan Ridwan, Drajad sudah melaksanakan ibadah puasa sejak usia lima atau enam tahun.

Jika Ramadhan tiba, Drajad kecil suka terlibat dalam klotekan. Yaitu membangunkan warga sekampung untuk sahur dengan kentungan kecil. Drajad bersama anak lainnya berkeliling kampung dan berteriak, “sahur…sahur…”

Seusai shalat dan menyimak kuliah Subuh, Drajad suka main bola pingpong atau tenis meja. Dalam bermain, Drajad kadang menang atau kalah. Habis main tenis meja, Drajad pulang dan tidur hingga dzuhur tiba. Seusai shalat Dzuhur, Drajad kembali main tenis meja atau keliling kampung. Drajad sering juga jalan-jalan ke tambak yang ada di sekitar desa. Sesekali, bersama temannya, Drajad bermain biji buah arem yang lengket dari pohon api-api. Waktu itu, selama Ramadhan, sekolah diliburkan.

Pernah juga Drajad dibohongi teman-temannya. Temannya mengatakan bahwa jika Ramadhan sudah mau berakhir atau menjelang lebaran, kewajiban puasa hanya setengah hari. Jadilah Drajad puasa sampai matahari berada di atas kepala. Makan dan minum di tengah sengatan sang mentari.

Tatkala matahari mulai tenggelam di ufuk barat, dan tanda untuk berbuka puasa sudah tiba, hidangan yang selalu dinanti Drajad adalah es blewah. Es blewah bisa menghilangkan dahaga selama seharian.

Jika tiba shalat Tarawih, Drajad dan rombongan teman-temannya, segera masuk ke mesjid. Bukan sekedar untuk shalat tapi juga untuk mengganggu. Rombongan anak itu, sering membuat orang tua yang sedang sholat tertawa. Sesekali, sarung teman dipelorotin atau sarungnya yang dipelorotkan. Jika kegaduhan sudah memuncak, semua anak harus siap-siap. Teguran atau kemarahan imam mesjid sudah menanti.

Itu masa lalu. Dalam shalat Tarawih sekarang, Drajad tak lagi bercanda, seperti masa kanak-kanak dulu. Kini, Drajad sering diminta untuk jadi imam shalat tarawih sekaligus menyampaikan ceramah. Jika tak sedang diminta jadi imam atau penceramah, Drajad akan shalat tarawih bersama dengan keluarga.

Selain tarawih bersama, Drajad juga sangat menikmati buka puasa bersama di rumah, dengan isteri dan anak tercinta. Kalau tidak ada tugas mendesak, Drajad akan segera meluncur ke rumah untuk memburu dan berbuka puasa dengan menu favoritnya: tempe, tahu, kerupuk, dan sayur bayam.

Selama Ramadhan, Drajad mengisi hari-hari dengan membaca, mengkaji, dan memahami al-Quran secara lebih mendalam. Setiap ada waktu luang di rumah, tempat kerja, atau terjebak dalam kemacetan jalan, Drajad akan mengisinya dengan membaca al-Qur’an. Selain menjadi pedoman hidup, al-Quran juga membimbing basis teori ekonomi yang sudah digenggamnya.

“Kalau orang memahami al-Quran secara benar, tidak mungkin menjadi kapitalis, liberalis, juga sosialis,” kata Drajad yang semasa kuliah terlibat intens dalam kajian keislaman di Islamic Council, Australia.

Anggota Komisi XI DPR RI ini merasa miris dengan kebijakan ekonomi Indonesia yang sangat liberal. Ekonomi liberal, sudah membuktikan tak bisa mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Drajad, yang semasa kecil, berada di lingkungan miskin, merasakan penderitaan itu. Terjunnya Drajad ke dunia politik, adalah untuk membela kaum tertindas dan kelompok yang termarjinalkan secara struktual itu. Tak heran, di Senayan, Drajad dikenal sebagai anggota DPR yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Perjuangannya adalah mengubah kebijakan ekonomi nasional agar lebih berpihak pada masyarakat, bukan pada kreditur, lembaga asing atau pelaku sektor keuangan semata.

Drajad juga merasa sedih, sudah puluhan tahun umat Islam berpuasa, namun bekasnya tak nampak. Puasa, hanya berhenti di titik ritus. Puasa, tak sampai menembus kesadaran kemanusiaan secara fungsional. Korupsi dan kolusi yang merajalela menjadi bukti bahwa puasa sekedar dirayakan, bukan dimaknai dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemiskininan yang merata, menunjukkan bahwa puasa tak dihayati sebagai kesetiakawanan dan ibadah sosial yang intensif dan massif.

Kepada pejabat dan elit negeri, Drajad berpesan untuk menjadikan puasa sebagai tangga meraih ketaqwaan yang sebenarnya. Bukan taqwa, sebagai alat pemanis bibir atau gincu. Kepada masyarakat, Drajad berpesan agar bulan Ramadhan tidak dijadikan sebagai bulan untuk menambah keserakahan dan terjerumus pada budaya konsumeristik baru. [yan]



Baca juga:


Ada 2 komentar tentang berita ini :

Judul dan isi ga' nyambung
Rabu, 26 Agustus 2009, 08:38:22 WIB
Komentator: harman
@Alvi,
sepertinya judul artikel ini tdk nyambung deh atau mas Alvi yg bacanya kurang teliti.
Judulnya itu mengandung dua arti, TOLAK KAPITALIS itu maksudnya adalah sikap dan pandangan Drajad Wibowo terhadap konsep ekonomi sedangkan BUKA PUASA DENGAN TAHU itu adalah hal lain yaitu tentang menu favorite drajad wibowo (copy paste yak 'Kalau tidak ada tugas mendesak, Drajad akan segera meluncur ke rumah untuk memburu dan berbuka puasa dengan menu favoritnya: tempe, tahu, kerupuk, dan sayur bayam'). untuk RM mbok ya jangan provokatif gitu lah kasih judul, tapi mo gimana lagi, namanya media, klo kasih judul yg adem ga' bakal di-clik ama pengunjung. Nah sekarang tinggal pembacanya mbok ya klo baca itu teliti dan cermat jangan asal dan buru2 mo kasih komentar

SOSIALIS: JUGA BOLEH MAKAN DAGING !
Selasa, 25 Agustus 2009, 12:42:01 WIB
Komentator: alvi
Logikanya, kalau anti kapitalis berarti anti makanan mewah (daging, keju, susu, ikan dan sebagainya).
Mas Drajat, orang sosialis dan proletar pun TIDAK DIHARAMKAN makan daging, ikan, keju dan minum susu. Kalau tidak percara, datanglah ke Cina dan Rusia !
Kalau tujuannya, anti kapitalis, menerapkan HIDUP SEDERHANA, itu baru logis Mas....!

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat