NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

PUASA POLITIK
Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus

Senin, 24 Agustus 2009, 12:14:10 WIB

Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi

Jakarta, RMOL. Ajaran agama yang ditanamkan sang kakek, sangat berpengaruh besar pada konsep hidup Ketua DPP Partai Golkar, Zainal Bintang.

Maklum, kakek Zainal Bintang adalah seorang ulama besar asal Sulawesi Selatan, KH Abdurrahman Ambo Dalle. Kehidupan religius yang diwariskan sang kakek, menjadi biduk perjalanan hidup Zainal Bintang selanjutnya. Apalagi jika bulan Ramadhan tiba, nuansa dan nilai keagamaan yang diajarkan kakek terasa semakin kental. Di bulan Ramadhan, Zainal juga merasa menjadi ke-ustadz-ustadzan.

Maka, setiap bulan Ramadhan tiba, Zainal merasa lebih khidmat, khusyuk dan terus mendalami al-Quran. Di mata Zainal, bulan Ramadhan adalah bulan penyucian diri dan refleksi nilai religiusitas. Menurut Zainal, di bulan Ramadhan, Allah memanggil khusus hambanya. Jika dalam ibadah lain—seperti sholat, zakat dan haji—bisa disaksikan oleh manusia yang lain, ibadah puasa hanya manusia dan Tuhan yang tahu. Orang tak bisa menebak, seseorang sedang berpuasa atau tidak.

Kepada Rakyat Merdeka Online, Zainal menuturkan beberapa penggal pengalaman yang berhubungan dengan Ramadhan.

Zainal sudah mulai berpuasa sejak usia lima tahun. Dengan lingkungan pesantren, didikan orang tua dan kakeknya sangat keras. Wajar dalam usia yang sangat dini, Zainal sudah bisa berpuasa dari Subuh hingga Maghrib tiba. Dalam hal puasa, Zainal selalu menjadi juara.

“Tak pernah jebol,” katanya.

Zainal ingat, jika sahur tiba, dirinya memaksakan diri untuk makan. Bahkan seringkali, Zainal makan sahur sambil tertidur. Sedang mengunyah nasi, terlelap, hingga dibangunkan lagi unuk menyantap suapan selanjutnya. Tapi sebenarnya, sahur bagi Zainal merupakan sesuatu yang mengasyikan dan menyenangkan. Sebab, makanan yang enak dan lezat, hanya disediakan ketika sahur dan jarang didapatkan pada bulan-bulan lain.

Seusai sahur, biasanya Zainal shalat Subuh di mesjid jami. Setelah menyimak kuliah subuh yang disampaikan sang ustadz, Zainal dan teman sebayanya, berkeliling kota Makassar dengan sepeda. Kota Makassar tahun 1960-an, masih sejuk dengan bangunan dan kendaraan yang langka. Jadilah bulan Ramadhan sebagai bulan untuk bersepeda.

Waktu itu, Ramadhan merupakan hari libur selama sebulan. Selain bulan bersepeda, jadilah Ramadhan sebagai bulan untuk berkumpul dengan teman-teman. Penuh canda. Salah satu tempat yang paling sering dikunjungi Zainal adalah sebuah pantai yang terletak di sebelah barat kota Makassar, Pantai Losari.

Yang berkesan, jika shalat Tarawih tiba. Sebab Zainal tak hanya bertemu dengan sesama teman pria, tapi juga teman wanita.

“Waktu itu kan perempuan jarang keluar rumah, nah ketika Tarawih mereka keluar semua. Walau sekedar melihat saja, sebab dilarang untuk saling menyapa, kita senang,” kata Zainal dengan tertawa.

Pernah, saat shalat Tarawih, Zainal tertidur di mesjid. Ketika bangun, melonjak kaget. Mesjid sudah sepi. Zainal mendapatkan dirinya sendirian dalam kesunyian mesjid. Untung saja, jarak antara mesjid dengan rumahnya, hanya bekisar 20 meter. Namun, suasana gelap tetap membuatnya takut. Akhirnya Zainal diantar sang pengurus mesjid pulang.

Setelah di Jakarta, Zainal merasakan ada nuansa yang berbeda ketika bulan Ramadhan. Di Jakarta, kehidupan lebih individualistis. Zainal merasa rindu dengan suasana kampung. Maka Zainal sering mengajak buka puasa bersama dan berkumpul dengan paguyuban kampung.

Untuk menjaga pertemanan, Zainal pun sering menghadiri undangan buka puasa dari para teman separtai atau kolega yang lain. Tentu, buka puasa bersama dengan para politisi tidak hanya makan, tapi juga ada “plus-plus" nya.

“Sekalian kita dengar dan berbincang terkait isu terhangat dan rumor politik paling mutkahir. Itu mengasyikan,” kata Zainal sambil tertawa.

Walau demikian, Zainal akan merasa lebih nikmat jika berbuka puasa dengan keluarga. Jika dulu, dalam sebulan penuh Zainal memenuhi undangan buka puasa bersama, kini Zainal akan menyisihkan waktu sepuluh hari untuk keluarga. Zainal akan makan di rumah atau mengajak keluarga makan di restoran.

Lidah “daeng” nya pun belum hilang. Maka restoran yang diburu adalah restoran di Jalan Wahid Hasyim atau kawasan Kebayoran. Tentu menu yang dipilih adalah sajian favorit seperti ikan bakar Makassar, sop konro dan cotto.

“Waktu muda, saya bisa habis lima mangkuk cotto. Sekarang Cuma kuat semangkuk. Takut kolesterol,” katanya.

Zainal juga menilai bahwa puasa bisa mengatasi gangguan kolesterol yang pernah dialaminya. Zainal berpendapat, puasa bukan hanya kewajiban dari Tuhan, namun juga mendatangkan kesehatan.

Setelah berbuka dan shalat Tarawih, Zainal menyisihkan waktu dua jam untuk membaca al-Quran. Zaenal menargetkan dalam sebulan bisa selesai 30 juz al-Quran. Bagi Zainal, Al-Quran adalah pedoman hidup. Tak heran, menjelang Ramadhan kemarin, Zainal mengirim pesan singkat (SMS) dengan mengutip ayat al-Qur’an kepada para koleganya yang sekarang menjadi anggota DPR dari berbagai partai, para menteri, para komisaris Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta teman-teman lainnya.

Inilah isi pesan dari “Ustadz” Zainal Bintang.

“Mari bersama kita merenungkan dalam-dalam hakikat dan makna firman Allah SWT di dalam surat Ali Imran ayat 26 sebagai berikut: Qulillahuma malik al-mulki tu’thi al-mulka man tasya wa tanzi’u al-mulka mi man tansya wa tuizzu man tasya wa tudzillu man tasya bi yadika al-khair innaka ‘ala kulli syai’in qadiir. Artinya: Katakanlah Muhamad, Wahi Tuhan pemilik kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Selain terkesan dengan ayat di atas, Zainal juga merasa kagum dengan Surat al-Rahman yang didalamnya Tuhan mengingatkan manusia untuk tidak mendustakan nikmat. Zainal mengingatkan anak muda Indonesia untuk terus bersyukur dan tidak terjerumus pada budaya asing. [yan]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat