|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 31/07/10, 21:31 AKSI PONG Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:46 Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:35 Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:24 BOM TABUNG GAS Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:23 AKSI PONG Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan |
|
 |
|
|
|
|
|
Sekjen FUI Ingatkan, Polisi Jangan Terprovokasi PKI
Sabtu, 22 Agustus 2009, 14:52:33 WIB
Laporan: Yayan Sopyani al-HadiJakarta, RMOL. Kebijakan pihak kepolisian yang akan memantau aktivitas dakwah selama bulan Ramadhan merupakan tindakan yang keliru.
Demikian disampaikan Sekjen Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Alkhathath, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 22/8).
“Kalau mau menangkap teroris, jangan di mesjid atau madrasah. Teroris senang kalau polisi mengawasi mesjid. Sementara hiburan yang dipenuhi maksiat dan narkoba juga akan berpesta pora. Memang, dengan adanya teroris, akhirnya ada stigma negatif terhadap Islam, jubah dan jenggot.
Padahal yang dulu berjuang untuk kemerdekaan Indonesia adalah mereka yang berjubah dan berjenggot seperti Wali Songo, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan yang lainnya. Saya yakin kalau polisi mengawasi aktivitas dakwah, polisi sudah terprovokasi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Entah PKI yang mana, pasti terprovokasi PKI. Maka saya desak agar polisi jangan mau terprovokasi PKI dalam bentuk apapun,” kata Alkhathath.
Untuk itu, Alkhathath mendesak agar pihak kepolisian menghentikan kebijakannya. Sebab, katanya, langkah tersebut sama artinya dengan meneror ulama dan para kyai. Alkhathath juga mengingatkan bahwa Indonesia bukan Thailand atau China dengan jumlah muslim yang minoritas. [yan]Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|