NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

Elit Politik Ulangi Sejarah Penjajahan
Sabtu, 15 Agustus 2009, 13:03:51 WIB

Laporan: Mahardika

Jakarta, RMOL. Elit pemerintah sekarang ini dianggap tidak memahami arah tujuan bangsa.

Sejarawan dari Komunitas Bambu, JJ Rizal, saat berbicara di sebuah diskusi bertajuk “Sekali Merdeka Tetap Menderita” di Warung Daun, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, (Sabtu, 15/8), mengatakan makna kemerdekaan saat ini dipersempit oleh elit. Itu disebabkan elit, yang diistilahkannya, tidak melewati prosesi keindonesiaan.

“Sejarah pada masa Belanda hampir sama dengan situasi saat ini. Elit sekarang tidak memiliki prosesi keindonesiaan sehingga tidak tahu alasan bangsa ini mau dibawa kemana dan tujuannnya,” kata Rizal.

Oleh karena itu ia menyarankan agar dasar konstitusi, UUD 1945, dihidupkan kembali. Kembali ke UUD 45 berarti memahami sejatinya kebangsaan Indonesia. Tidak seperti kondisi saat ini, di mana pemerataan pembangunan hanya sebatas slogan. [ald]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat