|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 31/07/10, 21:31 AKSI PONG Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:46 Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:35 Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:24 BOM TABUNG GAS Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:23 AKSI PONG Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan |
|
 |
|
|
|
|
|
Tentang Penjajahan Barat yang Berkembang Pesat
Kamis, 30 Juli 2009, 16:26:40 WIB
Oleh: Moh. Effendy bin Abdul Hamid
PENJAJAHAN Barat berkembang pesat di seluruh dunia dan perspektif perkauman menjadi ketara dalam lewat abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi.
Tempat yang dijajah, termasuk Asia dan Afrika dalam abad ke-19 menjadi seperti sebuah “laboratory” untuk menguji dasar teori 'Darwinisme Sosial' (si bodoh makanan si pandai) yang mengesahkan pertuanan kaum Eropah berbanding kaum-kaum lain. Cakap mudahnya, Barat wajar menjajah dan 'mendidik' kaum lain.
Ini membuat saya mengimbas kembali tulisan awal pihak kolonial British tentang orang Melayu. Pengembara British, Alfred Russel Wallace, dalam bukunya, The Malay Archipelago, menyifatkan kaum Melayu tidak pandai, tidak tajam akalnya dan tidak memiliki keinginan dan tenaga besar untuk mencari ilmu.
Tamadun Melayu juga bukan tulen; ia banyak dipengaruhi agama lain, katanya.
Sumber sejarah Barat memang penuh dengan penelitian yang berdasarkan perspektif penjajah yang memahami sebuah kaum dari segi tahap pembangunan atau 'tahap tamadun' yang telah dicapai. Membaca sumber-sumber seperti ini mungkin membuat pembaca marah atau tidak senang. Oleh itu, kita perlu bersikap objektif dan cuba memahami latar belakang sejarah demi mencerna pandangan yang jernih mengenai sikap penjajah dan dasar mereka di tanah jajahan termasuk di rantau Melayu Asia Tenggara.
Yang harus disedari adalah pemikiran “Orientalism” atau memandangkan orang timur dengan pemikiran “essentialist” dan penuh prasangka, sangat ketara sekali dalam sumber-sumber kolonial demikian. Buku yang terpenting yang harus dibaca dengan teliti adalah buku karyaan Edward Said berjudul “Orientalism”.
Saya ingat lagi perasaan bingung dan keliru pertama kali saya membaca buku itu. Ia bukan senang dibaca kerana cara Said membincangkan dengan mendalam sekali koncepnya. Tetapi dasarnya mudah difahami, Barat melihat orang timur prinsip dan budaya orang timur sebagai eksotik dan pemikiran ini menjadi unsur cara masyarakat barat memahami orang dan budaya Timur.
Tetapi sebuah pemandangan dan perfahaman “Orientalist” bukan berbahaya, walaupun ia membuahkan sikap yang serong tentang orang timur, yang membuat pandangan “Orientalist” ini berbahaya adalah apabila ia menjadi sebuah “kebenaran” atau fakta tentang orang Timur dan Asia Tenggara.
Bagaimana ia menjadi sebuah “kebenaran” dan fakta? Apakah proses yang penting dalam perkembangan ini.
Kita boleh mendapat ilham daripada sebuah lagi penulis yang penting yang bernama Foucault dan tulisanya yang berjudul “Discipline and Punish: The Birth of the Prison” . Buku ini pun sungguh susah difahami, tetapi dasarnya, kalau kita memikirkan tentangnya boleh kita gunakan dalam perfahaman kita.
Foucault cuba memahami mengapa pandangan terhadap hukuman boleh bertukar dengan pantasnya dalam sejarah Perancis. Pada umumnya, hukuman dilakukan oleh raja-raja Perancis dengan sangat kejam dan dilakukan di depan mata rakyat untuk meningkatkan lagi kesan visual. Jenayah diibaratkan sebagai sesuatu perbuatan menentang martabat raja dan si penjenayah disiksa sehingga mati di depan orang ramai. Tetapi cara ini bertukar dalam sejarah Perancis, penjenayah dipenjarakan dan matlamat utama bukan adalah untuk menyiksa tetapi untuk menukarkan minda dan kelakuan penjenayah. Foucault berpendapat bahwa pertukaran minda terhadap penjenayah berlaku secara bertahap dan peranan institusi berkuasa penting dalam pertukaran ini. Institusi (diibaratkan sebagai “technology of power”) seperti pemerintahan, civil, polis dan juga institusi pelajaran penting dalam pertukaran sebuah “discourse” (wacana) sesebuah masyarakat.
Kembali kepada minda Orientalisme, kita boleh melihatkan bagaimana “technology of power” ini penting kepada perkembangan pandangan “Orientalisme” oleh barat. Apabila barat menjadi berkuasa dan menubuhkan institusi-institusi sedemikian dalam negeri yang dijajahnya, ia juga memperkembangankan dan menguatkan pandangan “Orientalisme” dalam Asia Tenggara.
Soalannya sekarang adalah, banyak daripada institusi kolonial masih digunakan oleh negara-negara di Asia Tenggara. Itu legasi sejarah pemerintah kebanyakan negara di rantau ini, jadi sejauh manakah pemikiran “Oriental” ini masih wujud sekarang di dalam masyarakat dan pemerintah Asia Tenggara?
Penulis adalah warga negara Singapura, mahasiswa program doktoral bidang sejarah University of Hawaii at Manoa (UHM), juga pengelola Moslem Society in Asia di UHM. [guh]
Baca juga: Ada 1 komentar tentang berita ini :
he he... indon Kamis, 13 Agustus 2009, 10:00:36 WIB Komentator: wawan | encik barangkali perlu tahu sejarah ditemukannya benua amerika dan siapa penemunya.....
pada abad 16 pelaut italia bernama ameigo fespussi mendarat dibenua tsb.... dan dinamakanlah benua tsb dg nama ybs... amerika.... menurut versi barat....
tapi jauh sebelum itu pada abad 15 armada cheng ho dari dinasti ming kaisar zhu de yg mengelilingi dunia sebelum orang barat melakukannya...... mendaratlah salah satu armada cheng ho dibenua tsb.... dimana armada tsb... dipimpin panglimanya bernama amir khan ato di chinakan a me lie khan... nah diberinamalah benua tsb dg nama amirkan ato amerika sekarang...... ini versi china....
tapi 2000 tahun yg..... ketika armada pelaut jawa berlayar ketimur.... ketika mendarat di makassar..... ditanya penduduk setempat... mau kemana.... meriko ke timur jawabnya .... maksudnya kesana... klo kesini orang jawa bilang meriki.... dan pelaut makassarpun ikut berlayar juga... mangkanya... kesana bahasa bugis makassar... juga merika......
nah sesampainya mendarat dibenua yg besar disebelah timur nusantara..... dan setiap mereka berlayar kebenua tsb... bilangnya mau meriko ato merika..... ato kadang2 mereka jawabnya ... ah meriko...... nah lama2 daratan tsb dinamai ... amerika...... ini versi nusantara.... lihat di replik borobudur........
para peneliti dan sejarawan belum ada yg tahu dan membahas ini semua..... ini sama cerita asal nama singapura dari penjelasan awak ke encil terdahulu... |
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|