NEW EDITION | HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

HTI Nilai Kekerasan Terhadap Muslim Uighur adalah Genosida
Selasa, 14 Juli 2009, 12:35:24 WIB

Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi

Jakarta, RMOL. Tindak kekerasan terhadap kaum minoritas muslim Uighur di Xinjiang, Cina, merupakan sebuah proses genosida.

Demikian disampaikan Jurubicara Hibut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto, kepada Rakyat Merdeka Online setelah menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Cina, Jakarta (Selasa, 14/7).

“Selama tidak ada kepemimpinan Islam atau khilafah al-islamiyyah, maka nasib minoritas umat Islam selalu tertindas. Semua menunjukkan bahwa kaum muslimin seluruh dunia memerlukan perlindungan dari kepemimpinan umat yang berdasarkan syariat,” kata Ismail.

HTI, kata Ismail, mengecam dan mendesak pemerintah Cina untuk menghentikan segala bentuk penindasan dan diskriminasi terhadap kaum minoritas muslim. Selain itu, Ismail juga meminta kepada umat Islam Indonesia untuk menjadikan fakta kekerasan di Cina sebagai bukti perlunya khilafah Islam. [yan]



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat