HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Sabtu, 31/07/10, 21:31
AKSI PONG
Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking
Sabtu, 31/07/10, 19:46
Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur
Sabtu, 31/07/10, 19:35
Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat
Sabtu, 31/07/10, 19:24
BOM TABUNG GAS
Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang
Sabtu, 31/07/10, 19:23
AKSI PONG
Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan
Menurut Anda, bagaimana proses pemilihan Gubernur BI Darmin Nasution sejak dari uji kepatutan dan kelayakan di Komisi XI sampai pada Rapat Paripurna DPR?
Elegan
Tidak elegan
Ragu-ragu
  Polling Yang Lalu
  Edward Aritonang, Kalau Kasusnya Belum Tuntas, Kami Minta Maaf
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Hungaria Apresiasi Kerjasama di Bidang Sastra
  Wapres Boediono Masukkan ke Hati Berita Rakyat Merdeka
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

Aneh, Tes CPNS di Lhokseumawe
Kamis, 25 Januari 2007, 11:29:21 WIB


Lhokseumawe, Rakyat Merdeka. Pengumuman kelulusan tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2006 di Lhokseumawe mengundang protes dari para guru honorer yang mengikuti tes. Alhasil, kemarin (Rabu, 24/1) ratusan guru honorer berunjuk rasa di kantor walikota setempat.

Pasalnya, nama-nama yang sudah dinyatakan lulus, dan diumumkan lewat pengumumam di media massa belakangan malah dinyatakan gugur dalam tes CPNS. Padahal, selain diumumkan di media-massa, nama-nama yang lulus tes itu juga dipajang di kantor-kantor pemerintahan.

Para pengunjuk rasa mengancam mogok mengajar jika tidak ada kejelasan soal itu. "Hasil tes CPNS nama kami tercantum lulus. Kok sekarang dinyatakan gugur," ungkap seorang guru honorer.

Sialnya, para guru honorer yang dinyatakan gagal lulus tes itu sudah diminta menjahitkan dua setel pakaian dinas, yaitu Korpri dan PDH. Mereka juga diminta untuk melakukan daftar ulang. "Kalau memang kami tidak lulus, untuk apa disuruh daftar ulang dan menjahitkan seragam PNS?" tanyanya.

Pihak panitia tes CPNS beralasan, jangka waktu sebagai pengajar honorer kurang memenuhi syarat, yakni minimal empat bulan. Namun alasan itu dipertanykan, sebab, mengapa persyaratan tersebut tidak dicantumkan di dalam syarat pendaftaran untuk mengikuti tes CPNS.

"Ini kan alasan yang dibuat-buat," kata guru honorer itu.

Asisten II Setdako Lhokseumawe Ramli Azis, yang menerima keluhan para guru tersebut mengatakan, dirinya bukan pihak yang dapat mengambil kebijakan dan keputusan menyangkut persoalan itu. Dia hanya bisa berjanji meneruskan masalah tersebut ke wali kota. "Kami hanya menampung karena bukan pengambil kebijakan," kilah Ramli. jpnn/adi



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Tujuh Bulan, KPK Cuma Sidik 21 Kasus Korupsi
Konfik Antarumat Agama Semakin Meningkat