|
 |
|
|
 |
|
Jumat, 12/03/10, 08:40 GEGER PAMULANG Azra: Teroris Bukan Hanya Urusan Polisi |
|
Jumat, 12/03/10, 07:53 DPR Tak Punya Hak Boikot Sri Mulyani |
|
Jumat, 12/03/10, 03:49 PIALA DUNIA 2010 Macan Asia Tolak Bala |
|
Jumat, 12/03/10, 03:14 PIALA DUNIA 2010 Indahnya Stadion Mandela Bay Di Tepi Danau North End |
|
Jumat, 12/03/10, 02:07 Kantornya Jokir Kesandung Kasus Proyek Perkotaan |
|
.jpg) |
|
|
|
|
|
Gaya Koboi Bush, Gaya Citra Persahabatan...
Rabu, 22 November 2006, 09:54:17 WIB
Laporan: Dzikry SubhanieJakarta, Rakyat Merdeka. Pakar komunikasi politik dari Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung Deddy Djamaluddin Malik mengatakan, aksi lompat gaya koboi dari mobil Presiden George W Bush saat akan menyapa Presiden SBY di Istana Bogor, Senin kemarin (20/11), bisa dimaknai sebagai upaya Bush yang ingin memberitahukan ke seluruh dunia, termasuk rakyat Indonesia bahwa SBY adalah sahabat baiknya.
"Dari sudut pencitraan internasional, Bush ingin bilang bahwa dia punya banyak kawan dalam hal pemberantasan terorisme. Jadi bagi Bush sangat menguntungkan kembali," terang Deddy di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (21/11).
Di sisi lain, lanjut Deddy yang juga anggota Komisi I DPR dari Fraksi PAN itu, SBY sangat menikmati kunjungan Bush itu karena dia bisa mengatakan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa dia di-back up penuh seorang Bush yang juga pemimpin dunia.
"Cuma, dari sudut bangsa, kita tak menemukan apa-apa. Karena begitu banyak yang kita korbankan dan begitu sedikit yang kita terima, bahkan mungkin nol," tukasnya.
Anak buah Soetrisno Bachir ini lalu memberi contoh. Katanya, pada 2003, tokoh agama Indonesia yang bertemu Bush di Bali meminta agar Bush merubah kebijakannya di negeri 1001 malam Irak. Namun hal itu dicuekin Bush.
"Sekarang pun yang ada hanya retorika. Tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Bagi SBY mungkin ya. Jadi kesimpulannya itu hanya untuk kepentingan elit politik Indonesia dan Amerika saja," paparnya.
Deddy lalu mengingatkan SBY bahwa pencitraan yang dibangunnya tidak secara otomatis berdampak pada penerimaan masyarakat terhadap dirinya.
"Popularitas belum tentu berubah jadi akseptabilitas,” pungkasnya. iga
Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|