HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | INTERNASIONAL | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 12/03/10, 21:55
Gedung Putih: Obama Tunda Datang ke Indonesia!
Jumat, 12/03/10, 20:47
GEGER PAMULANG
Warga Gang Asem Diresahkan Helikopter Polisi
Jumat, 12/03/10, 19:16
JK: Masyarakat Butuh Kearifan SBY
Jumat, 12/03/10, 18:58
Andi Rahmat: Ongkos Politik Menyatakan Pendapat Sangat Mahal
Jumat, 12/03/10, 18:56
JK: Sri Mulyani Harus Tahu Diri, DPR Mesti Pahami Rakyat
Setelah Pansus Centurygate menyelesaikan tugasnya, siapa yang harus angkat kaki?
Presiden SBY
Wapres Boediono
Menkeu Sri Mulyani
Pihak lain
Tidak tahu
  Polling Yang Lalu
  Chairuman Harahap, Merasa Tidak Bersalah, Padahal Lakukan Kesalahan
  Proyek BKT Amburadul, Jiwa Warga Terancam
  Harga Beras Naik Ibu Rumah Tangga Panik
  Sambut Perbankan Syariah di Rusia, BMI Mulai Berikan Pelatihan
  Dukung Anti Korupsi, Rakyat Merdeka Online Hitamkan Diri

Awas, Agenda Terselubung Pasca Kunjungan Den Bush
Rabu, 22 November 2006, 05:15:20 WIB


Tiga Bulan Lagi Natuna Melayang

Meski Presiden AS George W Bush berkunjung ke Indonesia cuma enam jam saja, tapi meninggalkan sejumlah masalah dan kerugian bagi masyarakat kecil.

Jakarta, Rakyat Merdeka. Lebih gawat lagi, setelah kun­jungan Bush, sejumlah pe­ru­sahaan AS bakal meraup ke­un­tungan seperti ExxonMobil yang bakal menguasai kembali ladang minyak Natuna.

“Kita lihat saja. Selama 3-4 bulan ke depan. Kalau Exxon bisa mendapatkan Natuna atau diper­panjang kontraknya seperti isu yang berkembang, berarti benar ada agenda terselubung,” kata anggota Komisi XI DPR Andi Rahmat kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Menurut anggota DPR dari Frak­si Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) itu, kunjungan Bush sangat jelas sarat dengan kepen­tingan ekonomi khususnya bagi perusahaan AS yang banyak ber­masalah di Indonesia. Andi men­con­tohkan suksesnya Exxon­­Mobil mendulang mi­nyak di Blok Cepu setelah kedatangan Menlu AS Con­do­lee­zza Rice. Sedangkan Bush, diper­kirakan bisa membuat Natuna melayang.

“Kalau Exxon bisa men­da­patkan Natuna, berarti itu hasil lobi AS. Berarti ada manifestasi kepentingan AS setelah kun­jungan Bush ke Indonesia. Ter­masuk juga bila AS bisa me­nem­patkan kapal perangnya Armada ke-7 untuk pengamanan Selat Malaka,” ucapnya.

Menurut Andi, dirinya yakin kunjungan Bush tidak ada man­faatnya bagi ekonomi In­do­nesia, termasuk juga politik khususnya bagi kredibilitas Pre­siden SBY. Pasalnya, popularitas SBY di­pertaruhkan karena dida­tangi Bush yang tidak disukai publik.

“Jelas sekali ada dam­pak­nya karena SBY terlalu nge-Bush. Publik kan tidak terlalu su­ka. Boleh saja kita berbuat baik de­ngan negara lain, tapi ada negara yang harus diwaspadai karena tidak menunjukkan iti­kad baik,” papar Andi.

Menurutnya, Presiden Bush itu punya catatan buruk di dunia internasional karena punya hobi merusak negara kecil dan rapuh seperti Irak, Korea Utara. Bah­kan, AS sendiri juga bermasalah di Timor-Timur karena setelah ikut mengambil alih, Timtim ditelantarkan.

Sementara AS tidak berani me­nekan negara kuat seperti China dan Jepang. Karena China dan Jepang justru kuat secara eko­nomi dengan surplus per­da­gangan yang besar dengan AS. Bila diganggu kedua negara itu ber­arti merusak ekonomi AS sendiri. Hubungan ekonomi AS dengan negara Eropa dan negara lainnya, lanjut Andi, juga tidak begitu disukai.

Karena, kebijakan ekonomi AS lebih banyak mengancam eko­nomi global. “Kebijakan The Fed (Federal Reserve, Bank Sentral AS) menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi sebesar 7 persen misalnya, itu menyerap likuiditas ekonomi global. Ter­ma­suk juga Indonesia yang harus terpengaruh dengan kenaikan suku bunga,” jelasnya.

Mengenai komitmen investasi AS termasuk hibah ke peme­rintah Indonesia juga ditanggapi secara pesimis. Karena, bantuan AS itu dinilai punya syarat yang memberatkan.

“Jelas mereka ingin pro liberal. Persyaratan yang dibuat hanya untuk mem­buat mereka (AS) nyaman. Tidak ada kepentingan ekonomi jangka panjang. Hanya agar perusahaan bermasalah AS seperti Exxon, Freeport, Karaha Bodas itu se­ma­kin kuat po­sisinya,” sinis Andi.

Mengenai investasi AS yang bakal masuk setelah kunjungan Bush, Andi mengatakan tidak terlalu banyak peningkatan. “Masih kalah jauh dibanding investasi Jepang ataupun China yang terus meningkat akhir-akhir ini,” pungkasnya. RM



Baca juga:


Tidak ada komentar tentang berita ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 


Carrefour Bukan Pesaing Pasar Tradisional
Bazar Rakyat Carrefour, Sinergi Pemerintah dan Swasta
Untuk Kembangkan UKM, Carrefour Membuat Bazar Rakyat
Kantornya Jokir Kesandung Kasus Proyek Perkotaan
Raja Melayu Mana yang Kini Sebanding dengan Raja Eropah

Setneg Harus Jadi Contoh Lakukan Reformasi Birokrasi