|
 |
|
|
 |
|
Sabtu, 31/07/10, 21:31 AKSI PONG Masuk G-20, Tapi Masih Ada yang Makan Nasi Aking |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:46 Patrialis Ogah Kirim Hasil Kerja PPATK ke Lumpur |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:35 Yusril Tak Mau Jadi Korban Peradilan Sesat |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:24 BOM TABUNG GAS Menteri Sosial Baru Bisa Bantu 10 Orang |
|
Sabtu, 31/07/10, 19:23 AKSI PONG Tetangga DPR Juga Korban Ketidakadilan |
|
 |
|
|
|
|
|
PKS Soal SBY-Bush: Lain Di Bibir, Lain Di Hati...
Selasa, 21 November 2006, 13:01:11 WIB
Laporan: Tri Soekarno AgungJakarta, Rakyat Merdeka. Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Presiden George W Bush tidak menghasilkan isu yang substansial.
Hal ini sudah diprediksi sebelumnya oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Presiden PKS Tifatul Sembiring mengatakan, body language yang ditampilkan para tokoh-tokoh yang diundang pun begitu ewuh-pakewuh (sungkan) sehingga menjadi tidak kritis, dan SBY pun agak grogi.
Sementara, Bush dengan gaya koboi-nya itu sangat kental mendominasi forum, sehingga diplomasi SBY sangat jauh di bawah.
“Ya, agak grogilah SBY tadi malam. Para tokoh pun ewuh pakewuh, tidak kritis yang kita kira, malah banyak yang mesam-mesem, sehingga secara diplomasi, kita memang jauh di bawah Amerika Serikat,” kata Tifatul dalam perbincangan dengan Situs Berita Rakyat Merdeka, Selasa siang ini (21/11).
Apakah PKS kecewa dengan hasil pertemuan SBY-Bush? Secara tegas Tifatul menyatakan, bahwa pihaknya bukan kecewa sama gaya SBY yang seperti itu, melainkan dengan George W Bush itu sendiri.
Karena, sambung orang nomor satu di partai berlambang dua bintang sabit dan padi emas ini, hasil pembicaraan dua kepala negara sudah bisa diprediksi sebelumnya.
“Bahkan, sama seperti kalkulasi oleh kami, bahwa hasilnya tidak substansial dan hanya basa-basi. Kalau saya boleh mengutip syair sebuah lagu, ‘lain di bibir, lain di hati...,” paparnya sedikit berseloroh diakhir tawa renyah.
Masukan untuk SBY sendiri, menurut Tifatul, ke depan Indonesia harus menekakan posisi yang sederajat dengan negara-negara besar manapun, termasuk AS. Jangan memposisikan sebagai majikan dan pelayan.
“Kami mengingatkan, hubungan dengan AS sebaiknya jangan terlalu dekat, jangan pula terlalu jauh. Kita sebagai negara berdaulat, jangan mau didikte,” pungkas Tifatul. iga
Baca juga: Tidak ada komentar tentang berita ini.
Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.
|
|
|
|
|
|