HOME | NUSANTARA | INTERNASIONAL | POLHUKAM | BLITZ | EKBIS | OLAHRAGA | KESEHATAN | OTOMOTIF | KARTUN | E-PAPER EDISI CETAK | INDEKS

Kahar Muzakkar Masih Hidup?
Sabtu, 01 April 2006, 20:29:49 WIB

Laporan: Teguh Santosa
Jakarta, Rakyat Merdeka. Pemberontakan Kahar Muzakkar tumpas di tangan Operasi Kilat. Pada 3 Februari 1965, ia ditembak mati di tepi Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara.

Dalam situs resmi Pusat Sejarah TNI disebutkan bahwa sebelum memberontak, pemerintahan Bung Karno mengutus Letkol Kahar Muzakkar untuk menghadapi Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang terdiri dari bekas laskar yang ikut berperang sepanjang revolusi fisik.

Tetapi, Kahar belakangan menuntut agar KGSS dijadikan Brigade Hasanuddin di bawah pimpinannya. Tak lama, dia menyatakan bergabung dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Untuk menghentikan gerakan Kahar, pemerintah menempuh dua cara. Pertama melancarkan operasi militer, dan kedua menawarkan amnesti dan abolisi kepada anggota DI/TII yang mau menghentikan pemberontakannya.

“Sejak awal September 1961, akibat operasi-operasi militer yang dilancarkan TNI, kedudukan DI/TII semakin sulit,” tulis Pusrah TNI.

Pada 21 Oktober 1961 Kahar mengirim utusan untuk bertemu dengan Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Muhammad Jusuf. Tak lama, kedua pihak yang bertikai menggelar pertemuan di Bonepute, sebelah selatan Palopo.

Juga disebutkan bahwa dalam pertemuan itu Kahar menyampaikan keikhlasan, keinsyafan dan kepatuhannya terhadap kebijaksanaan pemerintah dalam masalah penyelesaian keamanan dan penyaluran anggota DI/TII.

“Ternyata, Kahar Muzakkar mengingkari janjinya. Pertemuan itu tidak lebih dari suatu siasat untuk mencegah kehancuran DI/TII dengan taktik mengulur-ulur waktu,” demikian Pusrah TNI.

Tetapi kabar lain yang beredar beberapa tahun terakhir mengatakan, Kahar Muzakkar masih hidup. Benarkah? Wallahualam.

Adalah almarhum Muhammad Jusuf yang memegang kebenaran cerita ini. Jenderal Jusuf, bekas Panglima ABRI yang dikenal dekat dan menyayangi prajurit ini, adalah bekas ajudan Kahar di staf Komando Markas ALRI Pangkalan X Jogjakarta, di masa-masa awal kemerdekaan.

Jusuf lah yang dipasang pemerintah sebagai penguasa militer di kawasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara selama masa-masa pemberontakan Kahar Muzakkar. Untuk menangkap bekas komandannya, Jusuf menggelar Operasi Kilat.

Dalam situs resmi Pusrah TNI disebutkan bahwa Kahar Muzakkar ditembak mati Kopral II Sadeh, anggota Batalyon Kujang 330/Siliwangi, di tepi Sungai Lasalo, Sulawesi Tenggara. Hari itu, 3 Februari 1965.

Tetapi menurut cerita lain yang berkembang, saat mengetahui Kahar tertangkap, Jusuf segera menuju TKP. Lalu berdua mereka masuk hutan. Di dalam hutan itulah Jusuf melepas Kahar, dan membiarkannya menghilang.

Benarkah cerita itu? Sekali lagi, wallahualam.

Jusuf membawa mati cerita itu, bersama cerita lain yang juga menjadi kunci dalam sejarah republik ini: Supersemar.

Seperti Jusuf yang wafat di Makassar pada September 2004 lalu, Susana Corry van Stenus yang wafat di Parung Bingung, pagi tadi (Sabtu, 1/4) pun meninggalkan dunia fana ini dengan setumpuk cerita tentang sosok Kahar Muzakkar. guh



Baca juga: