Kisah Malala Yousafzai yang Bisa Kamu Jadikan Inspirasi untuk Menjadi Semakin Berani. Kita Muda, Kita Bisa!

by Ilham January

Bocah itu masih berusia 16 tahun ketika kepalanya ditembak oleh anggota Taliban hanya karena ia menuntut persamaan hak pendidikan untuk anak perempuan di Lembah Swat Pakistan. Malala Yousafzai lahir di Mingora, Distrik (Lembah) Swat, Pakistan, 12 Juli 1997. Ayahnya bernama Ziauddin Yousafzai dan ibunya bernama Tor Pekai Yousafzai. Dengan dua adik laki-lakinya, Khushal dan Atal. Dari suku Pusthun. Sebagaimana mayoritas orang Pakistan, mereka penganut agama Islam Sunni.

One child, one teacher, one book, and one pen can change the world – Malala Yousafzai

Gencar mengkritisi hak-hak pendidikan anak-anak

Malala yang memang terkenal aktif mengisi korespondesi di salah satu media masa setempat kerap mengkritisi hak-hak pendidikan yang dirampas paksa. Hal inilah yang membuat Pemimpin Taliban geram yang pada awalnya hanya mengancamnya untuk segera berhenti melancarkan aksi-aksi hingga akhirnya secara brutal menembaki bus sekolah yang ditumpangi Malala dan juga kawan-kawannya sehingga Malala menderita luka yang sangat parah karena terdapat peluru-peluru yang bersarang di kepalanya.

 

Selamat dari maut

Setelah mendapatkan tindakan medis di sebuah rumah sakit militer di Peshawar, Pakistan, Malala berhasil selamat setelah peluru-peluru itu dikeluarkan dari kepalanya. Kemudian Malala langsung dibawa ke Rumah Sakit Queen Elizabeth di Brimingham Inggris untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut. Total selama 6 bulan ditambah perawatan bedah syaraf di wajah Malala yang juga ikut hancur hingga akhirnya Malala benar-benar dikatakan pulih.

 

Pidato di markas PBB dan mendapat nobel perdamaian

Pada 12 juli 2013, tepat di usia yang keenam belas, Malala berpidato di Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat. Pidatonya berisi mengenai hak-hak anak perempuan untuk bisa bersekolah, perlawanan terhadap terorisme dan juga kebodohan. Setelah berpidato, Malala menerima banyak sekali dukungan dari seluruh dunia meski ia hanya mendapatkan pandangan sinis dari negara asalnya sendiri. Malala maklum mengapa negerinya bersikap demikian. Masyarakat Pakistan sudah mulai kehilangan kepercayaan karena serangan teroris yang tak ada habisnya. Berkat perjuangannya itu pula, Malala mendapatkan nobel perdamaian pertamanya di tahun 2014 pada tanggal 10 Oktober.

 

Mendirikan yayasan kemanusiaan

Selanjutnya Malala mendirikan yayasan kemanusiaan yang ia beri nama Malala Fund untuk membantu anak-anak yang menderita karena diperlakukan tidak adil, dirampas hak-hak asasinya, korban peperangan, dan sebagainya. Bersama yayasan itu pula Malala sudah banyak mengunjungi negara-negara yang terdapat anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena berbagai faktor.

Malala Yousfazai mengajarkan kamu untuk tetap berjuang melawan ketidakadilan dalam menempuh pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Perjuangannya membuka mata dunia untuk terus menyokong pendidikan bagi anak-anak yang terampas hak belajarnya diseluruh negeri. Meksi masih muda, keberanian Malala patut ditiru ya, Sahabat!

You may also like