HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 30/07/10, 07:16
Walah, PM Inggris Tuding Pakistan Ekspor Teror
Jumat, 30/07/10, 02:55
AS Siap Negosiasi Nuklir Dengan Iran
Jumat, 30/07/10, 01:57
Menhan Pakistan: Insiden Bukan Akibat Sabotase
Jumat, 30/07/10, 01:06
Hina Presiden Lebanon di Facebook, Ditangkap
Kamis, 29/07/10, 21:08
Festival Indonesia 2010 Digelar Di Kota Plzen, Ceko
Robot Humanoid Jadi Guru Manusia
Kamis, 12 Maret 2009, 11:14:33 WIB

Jakarta, RMonline. Sensasi beda dirasakan sejumlah siswa sekolah dasar di Tokyo, Jepang, ketika mereka diajar oleh robot pekan lalu.

Dilansir Telegraph, robot guru pertama di dunia itu tak beda jauh dengan guru sungguhan dalam hal ekspresi.

Meski hanya ciptaan Profesor Hiroshi Kobayashi, namun robot humanoid yang diberi nama Saya itu bisa tersenyum, takut, sedih, jijik, juga marah. Dengan lantang dia akan berteriak “diam!”, jika murid-murid gaduh. Raut wajahnya pun menunjukkan roman berang. Alis terangkat, mata mendelik, dan bibir melebar.

Associated Press melaporkan, aneka ekspresi itu bisa dilakukan berkat 18 motor yang berada di balik wajah lentur Saya nan cantik.


Memang tidak semua pekerjaan guru dapat dilakukan Saya yang bisa berbicara dalam beberapa bahasa tersebut. Kemampuannya baru sebatas, antara lain, memberikan tugas kepada siswa serta mengabsen. Murid-murid yang diajar Saya pun terlihat asyik-asyik saja. Mereka geli ketika namanya dipanggil oleh Saya.

Robot humanoid tersebut semula dikembangkan untuk menggantikan tugas sekretaris, dengan tujuan untuk memangkas biaya perusahaan namun tetap dapat melakukan interaksi personal.

Nah, dalam perkembangannya, ternyata Kobayashi yang menjadi ilmuwan di University of Tokyo melihat kebutuhan di bidang lain. Dengan biaya 51 ribu dolar AS (sekitar Rp 612 juta), terciptalah robot guru. [hta]


Baca juga:


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 

Sekjen Kemenkumham Diperiksa Pekan Depan
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

Digaji Puluhan Juta, DPR Masih Suka Bolos Sidang