HOME | NUSANTARA | INTERNASIONAL | POLHUKAM | BLITZ | EKBIS | OLAHRAGA | KESEHATAN | OTOMOTIF | KARTUN | E-PAPER EDISI CETAK | INDEKS
Granat Meledak Lagi, Bangkok Mencekam
Sabtu, 31 Juli 2010, 08:27:17 WIB

Jakarta, RMOL. Bos Kaos Merah Bebas Dengan Jaminan

Ibukota Thailand, Bangkok, kembali mencekam menyusul ledakan sebuah granat di pusat pertokoan, kemarin dini hari. Anggota intelijen menggelar sidang darurat, kemarin.

Menurut Kapten Polisi Nitti Ni­ruttiwat, granat itu disem­bu­nyi­kan di kantong sampah yang diletakkan di depan pemukiman yang berseberangan dengan pusat per­tokoan King Power di Din Daeng, Bangkok. Granat mele­dak pada pukul 01:30 pagi dan me­lukai seorang pejalan kaki.

“Tim gegana menemukan pin pelatuk dari granat di tengah-te­ngah reruntuhan. Di tempat ke­ja­dian tercium bau bensin,” kata Ni­ruttiwat seraya menam­bah­kan, tim investigasi belum me­mas­­ti­kan apa yang memicu le­dakan granat.

Niruttiwat menolak  menyim­pulkan bahwa ledakan tersebut berhubungan dengan situasi politik Thailand.

Ledakan sebelumnya juga ter­jadi di Bangkok, pekan lalu. In­siden itu menewaskan satu orang dan melukai 10 lainnya. Belum ada pihak yang mengklaim aksi teror ini.

Pasca insiden granat, Menteri Per­tahanan Thailand Jenderal Pra­wit Wongsuwon menyerukan per­temuan keamanan darurat dan unit-unit intelijen untuk men­dis­kusikan situasi secara me­nye­luruh. Prawit khawatir situasi itu dapat meningkatkan ke­tegangan.

Diskusi itu bertujuan memberi ja­minan kepada publik, aparat keamanan mampu mengen­da­likan situasi.

“Beberapa kalangan tidak ingin perdamaian dan stabilitas kembali pulih, namun pemerintah tidak akan mengendorkan upaya memberi jaminan keamanan kepada masyarakat,” ujar Jen­deral Prawit.

Deputi Perdana Menteri (PM) Urusan Keamanan Suthep Tha­ug­suban  mengatakan di surat­ ka­bar Bangkok Post, perkem­bangan terkini di Bangkok me­refleksikan ada usaha untuk mendiskreditkan pemerintah koalisi. Kejadian ini semakin memperkuat keputusan peme­rintah tetap memberlakukan un­dang-undang darurat di bebe­rapa provinsi menyusul demons­trasi Kaos Merah yang berakhir rusuh, Mei ini.

Anggota partai oposisi menu­duh pemerintah menggunakan undang-undang darurat ini untuk mengganjal oposisi. Bahkan, oposisi menuduh serangan granat ini adalah ulah  mereka yang ingin agar undang-undang daru­rat diperpanjang.

Bos Kaos Merah Bebas


Pemimpin kubu antipemerin­tah, Kaos Merah, Veera Musi­ka­pong, dibebaskan dengan uang jaminan enam juta baht (sekitar Rp 1,86 miliar), kemarin, setelah le­bih dari dua bulan dipenjara atas tuduhan terorisme sehu­bu­ngan dengan kekerasan unjuk rasa di Bangkok, Mei. Pem­be­basan Veera bersifat sementara.  Dia dilarang bepergian keluar Bangkok tanpa izin pengadilan dan menggelar pertemuan lebih dari lima orang, kecuali dengan keluarganya. Vira juga dilarang bicara ke media dan harus me­lapor ke pengadilan setiap 15 hari. Veera adalah salah satu bos Kaos Merah yang menyerahkan diri ke polisi.

Anggota Kaos Merah masih menggelar pertemuan yang ber­tentangan dengan aturan pe­merintah. Berdasarkan atu­ran itu, pertemuan umum lebih dari lima orang dilarang dan petugas ke­amanan memiliki hak me­nahan tersangka 30 hari tanpa dakwaan.

Yang berwenang meng­gu­na­kan kekuatan untuk menangkap ratusan tersangka, termasuk se­bagian besar pemimpin ke­lom­pok unjuk rasa itu dan menutup sa­luran televisi, stasiun radio serta, website penentang peme­rintah.
[RM]


Baca juga: