HOME | NUSANTARA | INTERNASIONAL | POLHUKAM | BLITZ | EKBIS | OLAHRAGA | KESEHATAN | OTOMOTIF | KARTUN | E-PAPER EDISI CETAK | INDEKS
AS Siap Negosiasi Nuklir Dengan Iran
Jumat, 30 Juli 2010, 02:55:38 WIB

Jakarta, RMOL. Amerika Serikat (AS) me­nga­takan kesediaannya me­mu­lai kembali pembicaraan dengan Iran tentang usulan kesepakatan yang akan mem­bantu menyediakan bahan bakar nuklir bagi reaktor riset medis di Teheran.

   Juru Bicara Departemen Lu­ar Negeri Ame­rika PJ Crow­ley, Rabu (28/7) mengatakan, AS sudah me­ne­rima salinan surat pemerintah Iran kepada Badan Tenaga Atom Interna­sional (IAEA) mengenai peng­­hidupan perun­dingan pertukaran bahan ba­kar nuklir.

“IAEA adalah forum kerja sama yang cocok untuk me­nye­lesaikan masalah nuklir Iran, sedangkan mekanisme ‘5+1’ (kelompok wina), yaitu Ame­rika Serikat, Rusia, China, Inggris, Prancis, dan Jerman adalah jalur komu­ni­kasi yang sesuai,” kata Crowley.

“Washington berharap  ber­temu dengan pejabat-pejabat Iran dalam beberapa pekan mendatang untuk mem­bahas baik soal kedua reaktor itu ma­upun isu lain yang lebih luas, terkait program nuklir Iran,” tambah Crowley. Usulan itu dibenarkan Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu, Rabu.

Davutoglu bertemu Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki dan Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim pa­da Minggu (25/7). “Pesan pen­ting lain yang diberikan Mot­taki selama kunjungan ke Turki adalah jika kesepakatan Teheran ditandatangani dan Iran disediakan bahan bakar yang diperlukan dalam akti­vi­tas penelitiannya, maka me­reka tidak akan melanjutkan pe­ngayaan uranium hingga 20 persen,” tutur Davutoglu.

“Ketidaksepahaman harus dikesampingkan dan nego­siasi antara kelompok Wina de­ngan Iran harus segera di­mulai. Saat kemajuan tercapai dalam negosiasi teknis, kedua pihak akan lebih saling per­caya,” lanjut Davutoglu.

Iran juga telah mem­benar­kan, Kepala Hubungan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Ca­therine Ashton dan Kepala Negosiator Iran  Saeed Jalili, bisa saja bertemu pada awal September.

Iran terakhir kali bertemu kelompok Wina, Oktober, 2009. Saat itu, mereka men­diskusikan pengiriman ura­nium Iran yang telah diper­kaya di level rendah untuk pertu­karan dengan bahan ba­kar re­aktor isotop medis. Pengayaan uranium adalah proses yang dapat meng­ha­silkan bahan bakar untuk reak­tor nuklir. Jika dilakukan dalam tingkatan yang lebih tinggi dapat men­jadi material bom atom.

Iran sebelumnya tidak me­ng­iyakan rencana yang di­dukung PBB, menukar ura­nium yang pengayaannya ti­dak seberapa dengan batang-batang bakar uranium yang dibutuhkan salah satu reaktor riset medis Iran. Kesepakatan tersebut sedianya bisa meng­urangi tumpukan uranium Iran dan menunda ke­mam­puannya memproduksi sen­jata nuklir.

Namun, Iran malah meng­hendaki kesepakatan penu­karan bahan bakar nuklir di­negosiasikan oleh Turki dan Brazil yang mencakup per­tukaran uranium tanpa tun­tutan penghentian dalam pe­ngayaan uranium Iran.

AS, Uni Eropa, Kanada dan PBB telah memberlakukan berbagai sanksi baru terhadap Iran sebagai upaya untuk memaksanya kembali ke pe­run­dingan mengenai aktivitas nuklirnya. Sanksi Dewan Keamanan (DK) PBB sejak Juni, sepertinya mulai mem­bebani Iran. Alhasil, Iran, Se­nin (26/7),  mengirim surat ke­pada Badan Energi Atom Inter­nasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), me­nga­takan siap merundingkan per­tu­karan 1.200 kg dari tiga per­sen uraniumnya untuk 120 kg ura­nium yang telah diper­ka­ya hing­ga 20 persen.
[RM]


Baca juga: