HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Jumat, 30/07/10, 07:16
Walah, PM Inggris Tuding Pakistan Ekspor Teror
Jumat, 30/07/10, 02:55
AS Siap Negosiasi Nuklir Dengan Iran
Jumat, 30/07/10, 01:57
Menhan Pakistan: Insiden Bukan Akibat Sabotase
Jumat, 30/07/10, 01:06
Hina Presiden Lebanon di Facebook, Ditangkap
Kamis, 29/07/10, 21:08
Festival Indonesia 2010 Digelar Di Kota Plzen, Ceko
AS Sambut Baik Sidang Dewan Rusia-Nato di Corfu
Minggu, 28 Juni 2009, 12:06:35 WIB

Laporan: A. Supardi Adiwidjaya

Jakarta, RMOL. Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyambut baik kenyataan digelarnya (Sabtu,27/6) sidang Dewan Rusia-Nato (DRN) di Corfu, Yunani.

“Pertemuan ini merupakan refleksi dari keputusan memulai kembali dialog tingkat tinggi antara negara-negara sekutu NATO dan Rusia. Cukup banyak permasalahan, yang pemecahannya bisa membuat NATO dan Rusia bekerjasama. Misalnya, perjuangan melawan terorisme, menumpas bajak laut (perompak), situasi di Afghanistan. Kami juga akan merundingkan soal-soal, yang mana diantara kedua belah pihak terdapat pertikaian, termasuk masalah Georgia,” demikian diungkapkan dalam pernyataan the State Department of the USA pada Sabtu (27/6).

Menjelang sidang DRN, menyinggung soal Afghanistan, Kemlu Rusia dalam pernyataannya mengungkapkan: “Kami berpendapat, aktivitas keberadaan tentara asing di Afghanistan pada tahap sekarang ini sesuai dengan kepentingan negeri ini dan keamanan seluruh kawasan. Skala ancaman narkotik Afghanistan membutuhkan peralihan ke tingkat baru perjuangan melawannya: perlu mengadakan kerjasama antara the International forces of the assistance to safety in Afghanistan (MSSB) dengan the Organization of the agreement about collective security (ODKB), yang didirikan pada tanggal 15 Mei 1992.

Mengenai soal-soal lainnya, terutama tentang masalah Pertahanan anti rudal dan kasus Georgia, pemecahannya sangat sulit. Sekaitan ini, menurut pendapat Menlu Yunani Dora Bakoyannis, “tidak mudah melakukan dialog ketika pihak yang berhadapan memiliki kepentingan-kepentingan yang saling berlawanan dan sulit untuk mempertahankan saluran dari komunikasi secara terbuka.”

Dora mengingatkan, bahwa pada tanggal 30 Juni mandat komisi Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) di Georgia berakhir. Pihak-pihak yang berkepentingan tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang perpanjangannya.

Menurut pengakuan Dora Bakoyannis, pihaknya cukup pesimis bagi penyelesaian masalah dimaksud, karena pendekatan pihak-pihak yang berkepentingan secara diametral saling berlawanan.

Ada kemungkinan, pertemuan di Corfu ini akan menjadi tempat dimulainya perundingan bagi tercapainya Perjanjian tentang Keamanan Eropa. Sehubungan dengan ini, sebagaimana yang dilansir Pravda.Ru (Sabtu, 27/6), 23 Juni yang baru lalu Menlu Rusia Sergey Lavrov menyerukan digelarnya pertemuan tingkat tinggi untuk berunding agar mencapai kesepakatan Perjanjian tentang Keamanan Eropa. Adapun para pesertanya adalah semua negara Atlantik yang berkepepentingan bagi keamanan Eropa, termasuk Uni Eropa, NATO, OSCE (The Organization for Security and Co-operation in Europe/Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa), Perjanjian Keamanan Kolektif (The Collective Security Treaty Organization/CSTO) dan Persemakmuran Negara-negara Merdeka (Commonwealth of Independent States/CIS). Yunani adalah negara pertama yang menyambut baik usul atau seruan Menlu Rusia tersebut.
[asa]


Baca juga:


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 

Sekjen Kemenkumham Diperiksa Pekan Depan
Antara Singapura dan Cita-cita Penjajah

Digaji Puluhan Juta, DPR Masih Suka Bolos Sidang